<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengurus Besar Blogger Himpunan Mahasiswa Islam &#187; Yasser Arafat</title>
	<atom:link href="http://pbhmi.org/tag/yasser-arafat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pbhmi.org</link>
	<description>Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa, Info HMI dan Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Oct 2011 04:16:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Dualisme HMI; Antara Yasir, Sumayyah, dan Ammar bin Yasir</title>
		<link>http://pbhmi.org/dualisme-hmi-antara-yasir-sumayyah-dan-ammar-bin-yasir/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/dualisme-hmi-antara-yasir-sumayyah-dan-ammar-bin-yasir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 21:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Ammar bin Yasir]]></category>
		<category><![CDATA[Azas Tunggal]]></category>
		<category><![CDATA[HMI (DIPO)]]></category>
		<category><![CDATA[HMI (MPO)]]></category>
		<category><![CDATA[HMI Cabang Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Lafran Pane]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Sumayyah]]></category>
		<category><![CDATA[Taqiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Yasir]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu diantara banyak pertanyaan yang pasti saya dengar saat berdiskusi tentang HMI dengan mahasiswa baru ialah pertanyaan soal perpecahan HMI menjadi HMI (DIPO) dan HMI (MPO). Selalu saja pertanyaan ini mengisi ruang-ruang dialog antara mahasiswa baru dengan pengurus HMI. Dan biasanya pertanyaan tersebut disusul dengan pertanyaan lanjutan seputar siapa yang benar dan siapa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Salah satu diantara banyak pertanyaan yang pasti saya dengar saat berdiskusi tentang HMI dengan mahasiswa baru ialah pertanyaan soal perpecahan HMI menjadi HMI (DIPO) dan HMI (MPO). Selalu saja pertanyaan ini mengisi ruang-ruang dialog antara mahasiswa baru dengan pengurus HMI. Dan biasanya pertanyaan tersebut disusul dengan pertanyaan lanjutan seputar siapa yang benar dan siapa yang salah (tersesat).<span id="more-489"></span></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Saya tertarik untuk sedikit memberikan pendapat terkait persoalan dualisme HMI ini. Ketertarikan sayani muncul ketika membaca artikel adu pendapat tentang siapa yang benar dan siapa yang sesat di beberapa website.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Jika kita berbicara tentang sejarah HMI, maka fase-fase sejarah HMI sudah dimulai sejak awal berdirinya pada tahun 1947. Fase tersebut merupakan fase perjuangan pasca kemerdekaan RI. HMI sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa Islam saat itu turut berkontribusi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Tahun 60-an merupakan tahun perjuangan HMI melawan ideologi komunisme dan Fase penting lain adalah pada tahun 1985 dimana saat itu di Indonesia diberlakukan Undang-Undang No. 8 Tahun 1985, tentang organisasi kemasyarakatan. Aturan tersebut memuat kebijakan soal azas tunggal yaitu Pancasila. Semua ormas dan orpol diharuskan merubah azas organisasi mereka menjadi Pancasila.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Pada HMI kebijakan ini sampai membuat perpecahan di tubuh organisasi dan mencapai puncaknya pada kongres HMI XVI yang diselenggarakan di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 24-31 Maret 1986, dimana ada beberapa kader HMI menyatakan dirinya sebagai HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) yang tetap menjaga Islam sebagai azas organisasi. Sedangkan HMI yang memilih strategi menuruti perintah penguasa saat itu untuk merubah azas organisasi menjadi Pancasila, sering disebut sebagai HMI (DIPO). DIPO sendiri merujuk pada nama jalan sekretariat PBHMI yaitu jalan Diponegoro.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Dalam perjalanan sejarah organisasi ini, ada beberapa oknum kader HMI (DIPO) maupun HMI (MPO) yang sering kali mengklaim bahwa dirinyalah yang betul-betul HMI. Oknum kader HMI (DIPO) menganggap bahwa HMI (MPO) merupakan organisasi ekstrem dan kaku. Begitu juga sebaliknya, oknum kader HMI (MPO) menganggap HMI (DIPO) sudah tersesat dengan mengganti azas organisasi mereka dari Islam menjadi Pancasila.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Sampai hari ini, persoalan ini masih saja menimbulkan polemik di beberapa cabang. Bahkan terakhir saya membaca tulisan mengenai polemik antara HMI (DIPO) dan HMI (MPO) Cabang Semarang. Seperti biasanya, masing-masing diantara mereka mengklaim dirinya merupakan pewaris sah dari organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane ini.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Kalau boleh saya berpendapat dan sekaligus menjawab pertanyaan mahasiswa baru soal pihak mana yang berada pada kebenaran, maka saya dengan tegas mengatakan bahwa keduanya benar. Mungkin Anda akan memprotes saya dengan mengatakan bahwa mustahil kebenaran ada dua.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Menurut saya, kebenaran itu memang harus satu. Mustahil kebenaran itu ada dua. Tetapi, itu kebenaran yang bersifat mutlak. Sedangkan kebenaran yang saya maksud disini ialah kebenaran subyektif. Kebenaran yang diklaim oleh masing-masing pihak atas dasar sudut pandang masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Jika saya memandang persoalan dualisme HMI ini, saya jadi teringat dengan sejarah mengenai keluarga salah seorang sahabat Nabi, Ammar bin Yasir. Dialah yang pernah disebut dalam sebuah hadits Nabi, ”Siapa yang memaki-maki Ammar Bin Yasir, Allah akan memaki-maki dia. Barang siapa yang memusuhinya, Allah akan menjadi musuh dia. Barangsiapa yang merendahkan Ammar, Allah pun akan merendahkan dia.”</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Kisah keluarga Ammar bin Yasir ini kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya surat An-Nahl ayat 106.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Ammar bersama orangtuanya, Sumayyah Binti Kahiyyat dan Yasir pernah disiksa oleh Abu Jahal Bin Hisyam ditengah-tengah padang pasir, ramdha. Saat tahu tentang itu, Rasulullah datang dan berkata, “Hai keluarga Yasir, sabarlah! Kalian dijanjikan pahala surga.”</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Bahkan mereka diancam akan dibunuh jika tidak meninggalkan agama Islam. Kedua orangtua Ammar, Yasir dan Sumayah, tetap berpegang teguh memegang Islam dengan berani berujar di hadapan para musyrikin, “Kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya lagi.” Mendengar itu para musyrikin marah dan akhirnya membunuh keduanya dengan tombak. Atas tindakan itu, akhirnya Ammar tidak bisa apa-apa selain menuruti kaum musyrikin. Ia dihadapan para pemuka musyrikin melontarkan cacian dan makiannya kepada Rasulullah dan langsung menyatakan keluar dari agama Islam. Kejadian itu pun diketahui Nabi. Selang beberapa hari setelah kejadian itu turunlah ayat kepada Nabi, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman (Dia tidak berdosa)” (QS An-nahl:106).</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Berdasarkan ayat ini umat Islam pada waktu itu diizinkan untuk melakukan taqiyyah dalam rangka menjaga keselamatan. Taqiyyah ialah sikap untuk menampakkan kekafiran dan menyembunyikan kebenaran. Inilah yang dilakukan Ammar yang terpaksa mencaci maki Nabi dan menyatakan keluar dari Islam untuk penyelamatan jiwanya. Dan tindakan taqiyyah yang dilakukan Ammar tadi dibenarkan oleh Nabi, “Kalau mereka kembali menyiksamu lagi, ucapkan cacianmu padaku; Allah akan mengampunimu dikarenakan kamu terpaksa melakukannya.”</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Jika diibaratkan, HMI (MPO) adalah Sumayyah dan Yasir. Mereka berteriak lantang ketika penguasa dzalim saat itu memaksa untuk menggadaikan keimanan mereka. Mereka menantang penguasa dzalim saat itu dengan teriakan, ”Kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya lagi.” Tentu sikap mereka ini mendapatkan tekanan dari penguasa yang berkuasa. Dan hal ini yang memaksa mereka untuk bergerak secara bawah tanah.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">HMI (DIPO) merupakan Ammar bin Yasir di bangsa ini yang bertaqiyyah. Mereka menuruti kemauan penguasa untuk melepaskan keislaman dari azas organisasi yang mereka kendarai. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan eksistensi organisasi ini. Secara lisan dan sikap mereka merubah azas mereka dari Islam menjadi Pancasila. Tetapi dalam hatinya masih tersimpan ruh Islam. Meskipun telah terjadi perubahan azas HMI dari Islam menjadi Pancasila namun HMI (DIPO) tetap menjadikan Islam sebagai landasan juangnya. Konsistensi mereka terhadap Islam tampak pada saat mereka menyiasati isi dari Anggaran Dasar HMI sehingga tidak bertentangan dengan kehendak penguasa tetapi juga tetap membawa spirit keislaman.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Seperti kita ketahui bersama bahwa awalnya HMI (DIPO) berazaskan Pancasila yang tertuang dalam Pasal 4 Anggaran Dasar HMI. Namun semenjak diberlakukannya azas tunggal, HMI merubah isi Anggaran Dasar. Pada Anggaran Dasar pasca diberlakukannya azas Tunggal Pancasila, ditambahkan 1 (satu) pasal tentang identitas, yaitu Pasal 3 Anggaran Dasar yang berbunyi bahwa ”HMI menghimpun mahasiswa yang beridentitaskan Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Pasal tentang azas terdapat pada Pasal 4 Anggaran Dasar yang berbunyi ”organisasi ini berasaskan Pancasila”.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">HMI (DIPO) percaya bahwa penguasa itu tidak akan bercokol di tahta tiran selama-lamanya. Mereka percaya suatu saat penguasa itu akan tumbang dan mereka akan kembali lagi pada azas awal dari organisasi ini yaitu Islam.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Dan akhirnya pada Kongres Jambi 1999 HMI benar-benar kembali ke Khittah awal. Mereka kembali mengenakan Islam sebagai azas organisasi.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Seperti itulah analogi dualisme HMI bahwa ternyata keduanya sama-sama benar. Benar menurut ukuran dan sudut pandang masing-masing. HMI (MPO) merupakan cerminan orang-orang yang konsisten terhadap apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Sedangkan HMI (DIPO) ialah cerminan orang-orang yang terpaksa berucap kata kafir walaupun sebenarnya dalam hati mereka tetap beriman. Hal ini dilakukan semata-mata untuk melindungi dirinya dari bahaya para tiran, baik tiran agama maupun tiran politik.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Dengan kembalinya azas HMI (DIPO) menjadi Islam, maka tidak seharusnya kedua organisasi ini, baik DIPO maupun MPO, untuk tetap membiarkan perpecahan ini terjadi. Tidak ada alasan lagi bagi HMI DIPO dan MPO untuk berpecah. Karena akar permasalahan perpecahan tersebut sudah tidak ada lagi. Keduanya sudah sama-sama berazaskan Islam.[]</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><em><strong>Oleh: <a href="http://ressay.wordpress.com" target="_blank">Yasser Arafat</a></strong></em></p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>Ketua Bidang Pembinaan Anggota</strong></em></p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>HMI Cabang Surakarta</strong></em></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/dualisme-hmi-antara-yasir-sumayyah-dan-ammar-bin-yasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</title>
		<link>http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 16:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ilham]]></category>
		<category><![CDATA[Ressay]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini masih terkait dengan sebuah blog yang dalam beberapa kesempatan pemiliknya berdiskusi dengan saya. Dan isi diskusi kami sebagian sudah saya postingkan dalam blog ini, diantaranya adalah Wahyu dan Ilham dalam Terjemahan dan Wahyu Turun Kepada Selain Nabi? Dalam sela-sela diskusi kami, ia tampak sekali kehabisan argumen sehingga ia merasa perlu untuk mendiskreditkan saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify">Tulisan ini masih terkait dengan sebuah blog yang dalam beberapa kesempatan pemiliknya berdiskusi dengan saya. Dan isi diskusi kami sebagian sudah saya postingkan dalam blog ini, diantaranya adalah <a href="http://ressay.wordpress.com/2009/09/04/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/" target="_blank">Wahyu dan Ilham dalam Terjemahan</a> dan <a href="http://ressay.wordpress.com/2009/09/25/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/" target="_blank">Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></p>
<p style="text-align:justify">Dalam sela-sela diskusi kami, ia tampak sekali kehabisan argumen sehingga ia merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan mengubah wajah dari foto saya. Ada juga gambar-gambar yang ia buat, yang menurut saya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim.<span id="more-474"></span></p>
<p style="text-align:justify">Di tengah-tengah sesi diskusi itu, ada salah seorang pengunjung yang mengkritik ketika saya menuliskan salah satu ayat Al-Qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align:justify"><strong>Beliau berkata: </strong></p>
<blockquote><p><strong>Menurut Al Qur’an (QS 16: 98):</strong><br />
“Maka apabila engkau <strong>membaca</strong> Al Quran maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk “</p>
<p>Jadi tolong setiap <strong>menulis</strong> 1 ayat AL Quran yang lengkap dibiasakan didahuli dengan ta&#8217;awwudz.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify">Sepintas membaca kritikan tersebut, saya langsung berucap istighfar mohon ampun jika memang ada kesalahan. Tetapi setelah saya cermati lagi, ada hal yang perlu dikritisi balik, menurut saya.</p>
<p style="text-align:justify">Pada kutipan diatas, saya sengaja memberikan cetak tebal pada dua buah kalimat, yaitu <strong>membaca </strong>dan<strong> menulis</strong>. Biasanya sih, itu untuk menunjukkan bahwa dua kalimat tersebut yang merupakan titik fokus pengkritisan kita.</p>
<p style="text-align:justify">Beliau mengutip surat An-Nahl ayat 98 untuk mendukung kritikan beliau atas saya. Tetapi nampaknya <span style="text-decoration: underline"><strong>ada perbedaan konteks antara ayat yang ia kutip dengan nasehatnya</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify">Pada surat An-Nahl ayat 98 diatas, <span style="text-decoration: underline"><strong>Allah memerintahkan kita untuk membaca ta&#8217;awwudz ketika hendak membaca Al-Qur&#8217;an</strong></span>. Membaca ta&#8217;awwudz maksudnya meminta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan  syaitan yang terkutuk yaitu dengan mengucapkan kalimat &#8220;A&#8217;udzubillahi  Minasy-syaithanir-rajim (aku berlindung kepada Allah dengan godaan setan yang  terkutuk).</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline"><strong>Tetapi perintah Allah ini, berbeda dengan nasehat beliau bahwa saya hendaknya menuliskan ta&#8217;awwudz dulu sebelum menulis ayat Al-Qur&#8217;an. </strong></span></p>
<p style="text-align:justify">Sekejap saya langsung sadar bahwa ada ketidaksesuaian antara perintah Allah dengan nasehat beliau. Dan tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap beliau, saya lebih memilih perintah Allah ketimbang nasehat seseorang yang saya tidak tahu menahu tentang pribadinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</title>
		<link>http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 17:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Argumentum ad Hominem]]></category>
		<category><![CDATA[Fallacy]]></category>
		<category><![CDATA[Ilham]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ressay]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini masih menyambung tulisan yang terdahulu mengenai ilham dan wahyu yang nampaknya masih memberikan efek sampai saat ini kepada orang-orang yang sudah kadung taqlid dengan penerjemahan Al-Qur&#8217;an versi DEPAG RI. Sampai-sampai ada seorang blogger yang tidak kesampaian untuk membantah apa yang jadi pendapat saya, sehingga merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan mengubah-ubah foto wajah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify">Tulisan ini masih menyambung <a href="http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/" target="_blank">tulisan yang terdahulu mengenai ilham dan wahyu</a> yang nampaknya masih memberikan efek sampai saat ini kepada orang-orang yang sudah kadung taqlid dengan penerjemahan Al-Qur&#8217;an versi DEPAG RI. Sampai-sampai ada seorang blogger yang tidak kesampaian untuk membantah apa yang jadi pendapat saya, sehingga merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan mengubah-ubah foto wajah saya menjadi wajah keledai. Mungkin pengubahan wajah tersebut sebetulnya adalah representasi dari sifat keledai yang ada di dalam diri blogger tersebut.<span id="more-447"></span></p>
<p style="text-align:justify">Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, izinkan saya untuk menuliskan apa yang menjadi pendapat saya pada sesi diskusi dengan beliau ini.</p>
<p style="text-align: center">&#8212;</p>
<p style="text-align:justify">Pada tulisan sebelum ini, saya menyampaikan kritikan atas penerjemahan Al-Qur&#8217;an versi DEPAG RI atas surat Asy-Syura ayat 52, surat Al-Maidah ayat 111, dan surat Asy-Syams ayat 8. Sebelum Anda menuntaskan membaca tulisan ini, silakan Anda baca kembali <a href="http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/" target="_blank">tulisan terdahulu</a> tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Ok, jika sudah, berikut ini saya akan melanjutkan tulisan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Persoalannya, apakah mungkin wahyu itu turun kepada selain Nabi?</p>
<p style="text-align:justify">Sebelum itu, saya ingin mengkritisi kembali penerjemahan Al-Qur&#8217;an versi DEPAG.</p>
<p style="text-align:justify">Mari kita buka lagi Al-Qur&#8217;an kita dan cari surat asy-syura ayat 52.</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Dalam surat asy-syura ayat 52 Allah berfirman:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ</p>
<p style="text-align:justify">artinya: Dan Kami <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyukan</strong></span> (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli”.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">Pada ayat diatas, ada kata yang saya cetak tebal dan saya garis bawahi. Ini menandakan bahwa saya ingin mengajak Anda untuk memfokuskan diri pada satu kata tersebut. Itulah yang akan jadi obyek pengkritisan saya.</p>
<p style="text-align:justify">Jika sudah, mari kita buka ayat lain.</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Dalam surat Al-Qashash ayat 7, Allah berfirman:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ</p>
<p style="text-align:justify">artinya: Dan kami<span style="text-decoration: underline;"> <strong>ilhamkan</strong></span> kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">Silakan Anda cermati kedua ayat yang saya kutipkan diatas dengan tetap memfokuskan pada kata yang saya cetak tebal dan saya garis bawahi.</p>
<p style="text-align:justify">Pada kedua ayat tersebut, terdapat kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span> yang sebetulnya berasal dari kata dasar <span style="text-decoration: underline;"><strong>Wa-Ha-Ya</strong></span> yang berarti wahyu. Baik Surat Asy-Syura ayat 52 dan surat Al-Qashash ayat 7, sama-sama menggunakan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span>. Tetapi mari kita lihat dengan cermat terjemahannya.</p>
<p style="text-align:justify">Pada surat Asy-Syura ayat 52, kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span> diterjemahkan menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyu</strong></span>. Tetapi anehnya pada surat Al-Qashash ayat 7, kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span> diterjemahkan menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>ilham</strong>.</span></p>
<p style="text-align:justify">Ini aneh menurutku. Seharusnya kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span><strong> </strong>dalam surat Al-Qashash ayat 7 ini diterjemahkan sama dengan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span><strong> </strong>dalam surat Asy-Syura ayat 52, yaitu <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyu</strong></span>. Mengapa?</p>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Mari kita bersilogisme:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">Pada surat Al-Qashash terdapat kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify">Kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span> diterjemahkan dalam surat asy-syura ayat 52 menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyu</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify">Maka, kata<span style="text-decoration: underline;"><strong> &#8220;auhaina&#8221;</strong></span> dalam surat Al-Qashash diterjemahkan menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyu</strong></span>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">Jadi, menurut pendapat saya, penerjemahan yang dilakukan oleh tim DEPAG RI, ternyata salah.</p>
<p style="text-align: center">&#8212;</p>
<p style="text-align:justify">Lalu kita kembali pada persoalan yang hendak kita tuntaskan.</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Apakah mungkin wahyu itu turun kepada selain Nabi? </strong></span></p>
<p style="text-align:justify">Pertanyaan ini saya munculkan setelah berdiskusi dengan salah seorang blogger yang sampai saat ini masih kelimpungan bagaimana harus membantah argumen saya. Sehingga untuk menyelamatkan rasa malunya, ia berusaha membuat beberapa tulisan untuk mendiskreditkan pribadi saya. Apa yang ia komentari bukan lagi pendapat saya yang senantiasa menggunakan Al-Qur&#8217;an, tetapi yang ia komentari adalah foto saya yang wajahnya ia rubah menjadi keledai. Mungkin ia menginginkan saya berwajah sama dengan wajah asli dia, yaitu keledai. Simbol dari kedunguan.</p>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify"><strong>Bagaimana kita menjawab pertanyaan tersebut?</strong></p>
<p style="text-align:justify"><strong><span style="text-decoration: underline;">Cara menemukan jawabannya tentu dari Al-Qur&#8217;an</span>, khan kita muslim. </strong></p>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify">Semoga kita tidak bosan untuk terus mempelajari kitab suci kita, yaitu Al-Qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align:justify">Saya menemukan beberapa ayat yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas.</p>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Allah mewahyukan kepada </strong><strong>LEBAH</strong></span>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ</p>
<p style="text-align:justify">Artinya: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, (QS. An-Nahl 16:68)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Allah mewahyukan kepada para malaikat:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلآئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرَّعْبَ فَاضْرِبُواْ فَوْقَ الأَعْنَاقِ وَاضْرِبُواْ مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ</p>
<p style="text-align:justify">Artinya: (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (QS. Al-Anfaal 8:12)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify"><strong><br />
</strong>
</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Allah mewahyukan kepada langit:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ</p>
<p style="text-align:justify">Artinya: Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Fush Shilat 41:12)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">Jadi, menurut saya, wahyu bisa diturunkan juga kepada selain Nabi. Sekali lagi, menurut saya. Adalah hak Anda untuk tidak mempercayai apa yang jadi pendapat saya. Saya tidak pernah mengklaim apa yang jadi pendapat saya merupakan representasi dari Islam yang sesungguhnya menurut Allah. Ini hanya persoalan penafsiran saya atas Islam.</p>
<p style="text-align:justify">Jika ada yang tidak setuju, silakan ajukan pendapat. Siapa tahu pendapat Anda jauh lebih kuat sehingga saya bisa sama-sama dengan Anda meyakini sesuatu yang sama.</p>
<p style="text-align:justify">Berpendapatlah dengan ilmiah, bukan dengan fallacy.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</title>
		<link>http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 17:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ilham]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari diskusi di blog tetangga tentang ilham dan wahyu, saya jadi kepikiran untuk menulis mengenai hal itu. Tetapi tulisan ini difokuskan pada permasalahan, apakah selain Nabi dapat memperoleh wahyu, atau hanya dapat memperoleh ilham saja? Dalam surat Asy-Syura ayat 52, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ Artinya: “Dan demikanlah Kami wahyukan&#8230;” Kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Berawal dari diskusi di blog tetangga <strong>tentang ilham dan wahyu</strong>, saya jadi kepikiran untuk menulis mengenai hal itu. Tetapi tulisan ini difokuskan pada permasalahan, apakah selain Nabi dapat memperoleh wahyu, atau hanya dapat memperoleh ilham saja?<span id="more-443"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dalam surat Asy-Syura ayat 52, Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 16pt;">وَكَذَلِكَ <span style="text-decoration: underline;">أَوْحَيْنَا</span> إِلَيْكَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Artinya: <em>“Dan demikanlah Kami <strong><span style="text-decoration: underline;">wahyukan</span></strong>&#8230;”</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kata <strong><em>&#8220;auhaina”</em></strong><em> </em>disana diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi <strong>WAHYU</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Namun, ada perbedaan dengan surat Al-Maidah ayat 111. Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span style="font-size: 16pt;">وَإِذْ <span style="text-decoration: underline;">أَوْحَيْتُ</span> إِلَى الْحَوَارِيِّين</span><span style="font-size:16pt"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify">Artinya: <em>“Dan (ingatlah), ketika Aku <strong><span style="text-decoration: underline;">ilhamkan</span></strong> kepada pengikut &#8216;Isa yang setia:…”</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dalam ayat diatas, Allah menggunakan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>”auhaitu</em></strong></span><em><span style="text-decoration: underline;">”</span> </em>yang seharusnya berarti sama dengan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“auhaina”</em></strong></span><em> </em>yang ada pada surat Asy-Syura ayat 52, yaitu <span style="text-decoration: underline;"><strong>WAHYU</strong></span>. Baik <strong><span style="text-decoration: underline;"><em>auhaitu</em></span></strong> maupuan <em><strong><span style="text-decoration: underline;">auhaina</span></strong></em>, sama-sama berasal dari kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>Wa-Ha-Y</strong></span>a. Tetapi anehnya, penerjemah ketika menerjemahkan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“auhaitu”</em></strong></span><em> </em>dalam surat Al-Maidah ayat 111 ke dalam bahasa Indonesia, ia terjemahkan menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>ILHAM</strong></span>-kan. Kebetulan terjemahan yang saya gunakan adalah <strong>terjemahan DEPAG RI</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Keanehan ini bertambah parah ketika kita membaca surat Asy-Syams ayat 8. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span style="font-size: 16pt;">فَ<span style="text-decoration: underline;">أَلْهَمَهَا</span> فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify">Artinya: <em>“maka Allah <strong>mengilhamkan</strong> kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”</em><em> </em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Pada ayat diatas, Allah menggunakan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“alhamaha”</em></strong></span> untuk menunjukkan <span style="text-decoration: underline;"><strong>MENGILHAMKAN</strong></span>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Jadi sebetulnya,<strong> <span style="text-decoration: underline;">ILHAM</span></strong> dalam bahasa arab itu <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“alhamaha”</em></strong></span><em> </em>ataukah <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“auhaitu”</em></strong></span>?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size:16pt"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi: Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama</title>
		<link>http://pbhmi.org/diskusi-ahmadiyah-di-tengah-kerukunan-umat-beragama/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/diskusi-ahmadiyah-di-tengah-kerukunan-umat-beragama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 20:38:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[HMI News]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[Mustaqim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Qadiyan]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan telah datang. Dalam menyambut kedatangan dan mewarnai bulan Ramadhan ini, HMI Cabang Surakarta membuat serangkaian kegiatan yang bermanfaat. Setelah melakukan pawai Becak dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan slogan “Shaum Terus Maksiat Jangan”, hari ini Minggu 30 Agustus 2009 HMI Cabang Surakarta mengadakan diskusi yang dinamakan SERABI “Semarak Ramadhan Bersinar ala HMI”. Bertempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Bulan Ramadhan telah datang. Dalam menyambut kedatangan dan mewarnai bulan Ramadhan ini, HMI Cabang Surakarta membuat serangkaian kegiatan yang bermanfaat.</p>
<p>Setelah melakukan pawai Becak dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan slogan “Shaum Terus Maksiat Jangan”, hari ini Minggu 30 Agustus 2009 HMI Cabang Surakarta mengadakan diskusi yang dinamakan SERABI “Semarak Ramadhan Bersinar ala HMI”.<span id="more-191"></span></p>
<p>Bertempat di Gedung Insan Cita HMI, diskusi tersebut mengangkat tema “Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama”.</p>
<p>Beberapa tahun kemarin MUI mengeluarkan fatwa sesat atas Ahmadiyah. Pemerintah pun menyusulnya dengan mengeluarkan SKB 3 menteri. Berdasarkan hal tersebut, HMI berusaha membuka ruang bagi Ahmadiyah untuk berdialog bersama menyampaikan keyakinannya dihadapan para kader-kader HMI.</p>
<p>Sebagai pembicara dalam acara tersebut Ustadz Mustaqim, Ketua Ahmadiyah Qadiyan Solo, dan Yasser Arafat, Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Surakarta.</p>
<p>Ustadz Mustaqim menjelaskan bahwa Ahmadiyah tidak memiliki Nabi pembawa syariat setelah Nabi Muhammad. Mereka hanya meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi yang tidak membawa syariat. Artinya Nabi yang masih berpegang pada syariat Nabi Muhammad. Pengertian kenabian menurut Ahmadiyah dan mayoritas umat Islam pun berbeda. Beliau pun mengutip beberapa ayat Al-Qur’an untuk mendukung keyakinannya diantaranya ayat yang menyebut bahwa Nabi Muhammad adalah Khataman Nabiyyin (QS. 33:40). Beliau menafsirkan itu khataman Nabiyyin sebagai Nabi yang istimewa, luar biasa, paling bagus, yang terakhir membawa syariat. Khataman Nabiyyin bukanlah penutup para Nabi karena masih dimungkinkan ada Nabi-Nabi lain sepeninggal Nabi Muhammad.</p>
<p>Yasser Arafat sebagai pembicara kedua berusaha menyanggahnya. Setelah menjelaskan bahwa Ahmadiyah itu ada dua macam dan keduanya saling menganggap sesat satu sama lainnya, Yasser menyanggah bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi. Tidak ada lagi Nabi sepeninggal beliau.</p>
<p>Dia menuturkan bahwa ada banyak metode dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an. Apa yang dilakukan oleh Ustadz Mustaqim adalah penafsiran Al-Qur’an dengan ra’yunya sendiri. Masih ada lagi cara penafsiran lain, yaitu menafsirkan ayat dengan ayat yang lain, menafsirkan ayat dengan hadits, dll.</p>
<p>”Saya lebih memilih untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an tersebut dengan hadits Nabi,” begitu kata Yasser. Di dalam hadits, Rasulullah pernah berkata, ”Tidakkah engkau ridha wahai Ali, kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa namun tidak ada lagi Nabi setelah.” Jadi dari hadits tersebut bahwa tidak ada lagi Nabi sepeninggal beliau.</p>
<p>Yasser juga menekankan bahwa jangan sampai kita terjebak pada sikap merasa diri paling benar sendiri dan menganggap orang lain sebagai orang sesat. ”Tidak boleh kita mengatakan orang lain sesat menurut Islam. Tetapi jika kita mengatakan orang lain sesat menurut Islam yang kita pahami, bolehlah. Karena ketika kita membaca ayat Al-Qur’an, pasti ada unsur subyektifitas kita dalam menafsirkan ayat tersebut. Masing-masing diantara kita memiliki penafsiran yang berbeda-beda.”</p>
<p>Diskusi pun diakhiri dengan buka puasa bersama. Para peserta diskusi dan pembicara duduk bersama menyantap hidangan buka puasa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/diskusi-ahmadiyah-di-tengah-kerukunan-umat-beragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
