<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengurus Besar Blogger Himpunan Mahasiswa Islam &#187; Keislaman</title>
	<atom:link href="http://pbhmi.org/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pbhmi.org</link>
	<description>Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa, Info HMI dan Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Apr 2010 06:15:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Siapakah Pembuat Ricuh Saat Nabi Sakit?</title>
		<link>http://pbhmi.org/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 10:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlulsunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Hujjah]]></category>
		<category><![CDATA[Hakekat]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tragedi Kamis Kelabu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasser Arafat
Tulisan ini berkaitan dengan isu tragedi kamis kelabu yang menimpa Rasulullah Sawaw. Dulu pada awal-awal semester kuliah, saya pernah menerbitkan sebuah buletin dakwah dan pernah memuat tulisan tentang tragedi kamis kelabu ini. Tanpa disangka buletin dengan penampilan seadanya, dapat memunculkan reaksi yang begitu hebat dari sebagian orang yang tidak sepakat dengan tulisan-tulisan di [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?'>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan'>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?'>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: <a href="http://ressay.wordpress.com/2010/01/28/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/ressay.wordpress.com/2010/01/28/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/?referer=');">Yasser Arafat</a></strong></p>
<p>Tulisan ini berkaitan dengan isu tragedi kamis kelabu yang menimpa Rasulullah Sawaw. Dulu pada awal-awal semester kuliah, saya pernah menerbitkan sebuah buletin dakwah dan pernah memuat tulisan tentang tragedi kamis kelabu ini. Tanpa disangka buletin dengan penampilan seadanya, dapat memunculkan reaksi yang begitu hebat dari sebagian orang yang tidak sepakat dengan tulisan-tulisan di buletin yang saya buat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">Sebagai reaksi atas buletin saya, ada sebagian orang yang kemudian membuat buletin baru yang bernama <strong>Al-Hujjah yang pernah mengaku sebagai Ahlulsunnah</strong> dan tulisannya khusus untuk membantah setiap tulisan yang dimuat di buletin saya. Salah satunya ialah tulisan tentang Tragedi Kamis Kelabu.<span id="more-530"></span></p>
<p style="text-align: justify">Di blog ini, sudah pernah saya bahas, antara lain:</p>
<p style="text-align: justify"><strong><a href="http://ressay.wordpress.com/2007/03/31/oh%E2%80%A6kamis-kelabu/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/ressay.wordpress.com/2007/03/31/oh_E2_80_A6kamis-kelabu/?referer=');">Kamis Kelabu I</a> </strong>dan <strong><a href="http://ressay.wordpress.com/2007/04/10/ohkamis-kelabu-ii/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/ressay.wordpress.com/2007/04/10/ohkamis-kelabu-ii/?referer=');">Kamis Kelabu II</a></strong></p>
<p style="text-align: justify">Dalam salah satu tulisannya, buletin Al-Hujjah pernah menulis bahwa saat Nabi sedang sakit keras, beliau meminta dibawakan kertas dan tinta agar Nabi dapat menuliskan wasiatnya agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat, Umar berkata: Nabi sedang sakit keras dan Al Qur’an ada di tengah kalian, cukup bagi  kami kitab Allah. Setelah Umar berkata seperti itu, terjadilah perdebatan diantara orang-orang yang ada, yang kemudian menyebabkan Nabi mengusir mereka semua.</p>
<p style="text-align: justify">Persoalannya ialah, siapakah yang berdebat dan membuat kericuhan itu? Menurut Buletin Al-Hujjah, mereka yang berbuat kericuhan dihadapan Nabi ialah<strong> Ahlulbayt</strong>. Mereka berangkat dari riwayat:</p>
<blockquote><p>قال هلم أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده قال عمر إن النبي صلى الله عليه وسلم  غلبه الوجع وعندكم القرآن فحسبنا كتاب الله <strong><span style="text-decoration: underline">واختلف أهل البيت</span></strong> اختصموا فمنهم من يقول قربوا يكتب لكم رسول الله صلى الله عليه وسلم كتابا  لن تضلوا بعده ومنهم من يقول ما قال عمر فلما أكثروا اللغط والاختلاف عند  النبي صلى الله عليه وسلم قال قوموا عني . قال عبيد الله فكان بن عباس يقول  إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى الله عليه وسلم وبين أن  يكتب لهم ذلك الكتاب من اختلافهم ولغطهم ) . البخاري حديث رقم : 6932 كتاب  الاعتصام بالكتاب والسنة / باب كراهية الاختلاف</p>
<p>Nabi bersabda: mari  aku tuliskan bagi kalian tulisan yang kalian tidak akan sesat jika  mengamalkannya, Umar berkata: Nabi sedang sakit keras dan Al Qur’an ada  di tengah kalian, cukup bagi kami kitab Allah, <span style="text-decoration: underline"><strong>lalu Ahlul Bait  berselisih dan bertengkar</strong></span>, sebagian dari mereka mengatakan: dekatkan  pena pada Nabi agar Nabi menulis wasiat yang kalian tidak akan sesat  selamanya, sebagian lagi mengatakan seperti ucapan Umar. ketika mereka  ribut dan berselisih di depan Nabi, Nabi bersabda: pergi kalian dari  sini. Ubaidillah berkata: Ibnu Abbas mengatakan benar-benar musibah,  yaitu perselisihan dan keributan mereka hingga menghalangi Nabi dari  menulis wasiat. Shahih Bukhari Kitab I’tisham bil Kitab Was Sunnah, Bab  Karahiyatil Ikhtilaf</p></blockquote>
<p style="text-align: justify">Kalimat yang saya cetak tebal, baik yang bahasa arab maupun bahasa indonesia, mereka tafsirkan bahwa yang membuat kericuhan ialah Ahlulbayt Nabi dalam pengertian orang-orang syi&#8217;ah.</p>
<p style="text-align: justify">Seperti kita ketahui bersama bahwa orang-orang syi&#8217;ah berkeyakinan bahwa Ahlulbayt Nabi adalah orang-orang yang telah disucikan oleh Allah dalam surat 33 ayat 33 dan ketaatan kepada Ahlulbayt Nabi merupakan manifestasi dari ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p style="text-align: justify">Menurut Al-Hujjah, aneh betul Ahlulbayt yang katanya sudah disucikan dan diwajibkan taat kepada mereka, kok malah membuat Nabi marah dan mengusir mereka. Ahlulbayt berdebat di depan Nabi sedangkan tidak boleh berdebat dihadapan Nabi.</p>
<p style="text-align: justify">Pendapat Al-Hujjah ini ternyata diamini oleh <strong>pemilik website hakekat.com. yang juga pernah mengaku sebagai Ahlulsunnah</strong>. Dalam salah satu <a href="http://hakekat.com/content/view/61/1/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/hakekat.com/content/view/61/1/?referer=');">tulisannya</a>, website hakekat.com menulis:</p>
<blockquote><p>Akhirnya kita tahu siapa sebenarnya yang menghalangi Nabi menuliskan  wasiat. Seperti selalu diklaim oleh kawan-kawan syiah, ahlulbait adalah  maksum, artinya terpelihara dari dosa. Tetapi ahlulbait yang maksum di  sini malah ribut sendiri, Nabi pun marah dan terhalang dari menuliskan  wasiat.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify">Saya tertarik untuk menanggapi, benarkah Ahlulbayt (dalam pengertian syiah) yang membuat kericuhan pada saat Nabi sakit dan membuat Nabi marah kepada mereka?</p>
<p style="text-align: justify">Sebelumnya, saya harus menyampaikan bahwa riwayat-riwayat yang dijadikan argumen oleh <strong>al-hujjah</strong> maupun <strong>hakekat</strong>, memang benar-benar ada di shahih bukhari. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk meragukan kejujuran al-hujjah dan hakekat dalam menyampaikan argumen mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Tetapi ada satu hal yang menarik yang kita dituntut untuk kritis, yaitu persoalan <strong>siapa yang membuat kericuhan itu</strong>. Jelas bahwa al-hujjah dan hakekat menganggap bahwa Ahlulbayt (dalam pengertian syiah) lah yang membuat kericuhan itu. Tetapi apakah benar? Ada baiknya kita menyimak pemahaman kawan-kawan kita dari Ahlulsunnah mengenai riwayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Riwayat berikut, saya kutipkan dari The Translation of the Meanings Shahih Bukhari, Arabic-English Vol. I, oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Al-Medina Al-Munawwara:<span style="text-decoration: underline"> (Tentunya Ahlulsunnah)</span><br />
</strong></p>
<blockquote><p>Narated &#8216;Ubaidullah bin &#8216;Abdullah: Ibnu &#8216;Abbas said, &#8220;When the ailment of the Prophet became worse, he said, &#8216;Bring for me (writing) paper and I will write for you a statement after which you will not go astray.&#8217; But &#8216;Umar said, &#8216;The Prophet is seriously ill, and we have got Allah&#8217;s Book with us and that is sufficient for us.&#8217; But <strong><span style="text-decoration: underline">the companions of the Prophet differed about this</span> </strong>and there was a hue and cry. On that the Prophet said to them, &#8216;Go away (and leave me alone). It is not right that you should quarrel in front of me.&#8217;</p>
<p>Ibnu Abbas came out saying, &#8221; It was most unfortunate (a great disaster) that Allah&#8217;s Apostle was prevented from writing that statement for them because of their disagreement and noise.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify">Kalimat yang saya cetak tebal, menunjukkan bahwa <strong>the companions of the Prophet</strong> atau <strong>sahabat Nabi lah yang berbeda pendapat dan berbuat kericuhan.</strong></p>
<p style="text-align: justify">Saya juga pernah membaca tulisan seseorang yang memiliki blog A<strong>LFANARKU yang juga mengaku dirinya sebagai seorang yang bermazhab Ahlulsunnah</strong>. Dalam salah satu <a href="http://alfanarku.wordpress.com/2009/12/23/tragedi-kamis-kelabu-bagian-1/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/alfanarku.wordpress.com/2009/12/23/tragedi-kamis-kelabu-bagian-1/?referer=');">tulisannya</a> yang juga membahas soal tragedi kamis kelabu, dia menulis:</p>
<blockquote><p><span style="text-decoration: underline"><strong>Mari kita baca Shahih Muslim 3/1257 No.  1637: </strong></span></p></blockquote>
<blockquote>
<p dir="rtl">22 – ( 1637 ) وحدثني محمد بن  رافع وعبد بن حميد ( قال عبد أخبرنا وقال ابن رافع حدثنا عبدالرزاق )  أخبرنا معمر عن الزهري عن عبيدالله بن عبدالله بن عتبة عن ابن عباس قال<br />
Y لما حضر رسول الله صلى الله عليه و سلم وفي <span style="text-decoration: underline"><strong>البيت</strong></span> رجال فيهم عمر ابن  الخطاب فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( هلم أكتب لكم كتابا لا تضلون بعده  ) فقال عمر إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قد غلب عليه الوجع وعندكم  القرآن حسبنا كتاب الله<span style="text-decoration: underline"> <strong>فاختلف</strong> <strong>أهل</strong> <strong>البيت</strong></span> <strong>فاختصموا</strong> <strong>فمنهم</strong> <strong>من</strong> <strong>يقول</strong> قربوا يكتب لكم رسول  الله صلى الله عليه و سلم كتابا لن تضلوا بعده ومنهم <strong>من</strong> <strong>يقول</strong> ما قال عمر فلما أكثروا  اللغو والاختلاف عند رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله  عليه و سلم ( قوموا )<br />
قال عبيدالله فكان ابن عباس <strong>يقول</strong> إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى  الله عليه و سلم وبين أن يكتب لهم ذلك الكتاب <strong>من</strong> اختلافهم ولغطهم<br />
[ ش ( لما حضر ) أي حضره الموت ]</p>
<p><em> </em>
</p>
<p dir="rtl"><em>(3/1257)</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>Ibnu Abbas menceritakan : Ketika  ajal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah hampir tiba dan di  dalam rumah beliau ada beberapa orang dan salah satunya adalah Umar bin  Khattab ra. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “kemari,  aku akan menuliskan (mendiktekan) untuk kalian wasiat, agar kalian tidak  sesat setelahnya”. Kemudian Umar berkata : “sesungguhnya Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sakit parah dan di sisi  kalian ada Al-Qur’an, cukuplah Kitabullah untuk kita” <span style="text-decoration: underline"><strong>kemudian  orang-orang yang ada dalam rumah tersebut saling berselisih pendapat</strong></span>. </em><em>Sebagian  berkata, sediakan apa yang diinta oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa  sallam</em><em> Agar beliau menuliskan bagi kamu sesuatu yang  menghindarkan kamu dari kesesatan. Tetapi sebagian lainnya mengatakan  sama sebagaimana</em><em> ucapan Umar. Dan ketika keributan dan  pertengkaran makin bertambah di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa  sallam</em><em>, beliau memerintahkan: “</em><em>Keluarlah kalian dari  sini!” Ubaidullah berkata : Ibnu Abbas selalu berkata : “Itu adalah  musibah yang besar, sungguh sebuah musibah yang besar, disebabkan  pertengkaran dan kegaduhan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  tidak menuliskan (mendiktekan) wasiat untuk mereka”.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Dia menerjemahkan kalimat <span style="text-decoration: underline"><strong>&#8221; فاختلف أهل البيت &#8220;</strong></span> diterjemahkan menjadi<strong> </strong><strong> <span style="text-decoration: underline">&#8220;orang-orang yang ada dalam rumah tersebut saling berselisih pendapat&#8221;.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify">Jadi ada saudara-saudara kita dari <strong>Islam Ahlulsunnah yang tetap berpandangan bahwa yang berbuat kericuhan ialah orang-orang yang ada di dalam rumah Nabi saat itu, dalam hal ini adalah Sahabat Nabi.</strong></p>
<p style="text-align: justify">Tetapi di sisi lain, ada orang yang mengaku sebagai Ahlulsunnah berpendapat bahwa Ahlulbayt-lah yang berbuat kericuhan dan membuat Nabi marah. <span style="text-decoration: underline"><strong>Ada baiknya antara Ahlulsunnah berbincang dulu <em>deh</em> soal siapa yang berbuat kericuhan dan membuat Nabi marah.  hehehe&#8230;</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Menurut saya, pendapat pertamalah yang benar, yaitu orang-orang yang ada di dalam rumah Nabi-lah yang berseteru dan membuat kegaduhan di hadapan Nabi sehingga membuat Nabi marah, atau dalam hal ini ialah sahabat Nabi.</p>
<p style="text-align: justify">Setidaknya ada dua alasan bagi saya untuk melakukan verifikasi:</p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>Pertama,</strong> </em>Seperti kita ketahui bersama, banyak hadits shahih yang mengabarkan kepada kita bahwa Ahlulbayt Nabi telah disucikan oleh Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 33.  Dan ini sudah pernah saya bahas pada tulisan yang berjudul <a href="http://ressay.wordpress.com/2010/01/04/siapakah-ahlulbayt-dalam-surat-al-ahzab-ayat-33/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/ressay.wordpress.com/2010/01/04/siapakah-ahlulbayt-dalam-surat-al-ahzab-ayat-33/?referer=');"><strong>&#8220;Siapakah Ahlulbayt dalam Surat Al-Ahzab ayat 33&#8243;</strong></a>.</p>
<blockquote><p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا  تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ  وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ  اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ  تَطْهِيراً</p>
<p><em>dan hendaklah kamu tetap di rumahmu  dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang  Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan  ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak  menghilangkan dosa dari kamu, <strong>hai ahlul bait</strong> dan  membersihkan kamu sebersih-bersihnya. </em><strong>(QS. Al-Ahzab ayat  33)</strong></p>
<p><strong>Dalam Sunan Tirmidzi hadis no  3205 dalam Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani</strong></p>
<p>عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه  الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس  أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا  فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي  فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال  أنت على مكانك وأنت على خير</p>
<p>Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini  turun kepada Nabi SAW {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa  dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.} di rumah  Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan  menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau  juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah  Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah  Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka,  Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan  kamu dalam kebaikan”.</p></blockquote>
<p>Perihal ini, <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/11/25/al-quran-dan-hadis-menyatakan-ahlul-bait-selalu-dalam-kebenaran/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/secondprince.wordpress.com/2007/11/25/al-quran-dan-hadis-menyatakan-ahlul-bait-selalu-dalam-kebenaran/?referer=');">seorang blogger pernah menulis</a> dengan sangat apik:</p>
<blockquote><p><strong><em>Innama</em></strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong><em> </em></strong>Setelah mengetahui bahwa ayat ini  ditujukan untuk ahlul kisa’(Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah AS, Imam  Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS)  sekarang akan dibahas makna  dari ayat tersebut. Ayat ini diawali dengan kata <em>Innama</em>, dalam  bahasa arab kata ini memiliki makna al hashr atau pembatasan. Dengan  demikian lafal ini menunjukkan bahwa kehendak Allah itu hanya untuk  menghilangkan <em>ar rijs</em> dari Ahlul Bait as dan menyucikan Mereka  sesuci-sucinya. Allah SWT tidak menghendaki hal itu dari selain Ahlul  Bait as dan tidak juga menghendaki hal yang lain untuk Ahlul Bait as.</p>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Yuridullah</em></strong><br />
Setelah kata <em>Innama</em> diikuti kata <em>yuridullah</em> yang  berarti Allah berkehendak, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa iradah  Allah SWT terbagi dua yaitu <em>iradah takwiniyyah</em> dan <em>iradah  tasyri’iyyah</em>. <em>Iradah takwiniyyah</em> adalah iradah Allah yang  bersifat pasti atau niscaya terjadi, hal ini dapat dilihat dari ayat  berikut</p>
<ul style="text-align: justify">
<li><em>“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki  sesuatu hanyalah berkata kepadaNya ‘Jadilah ‘maka terjadilah ia”(QS  Yasin :82)</em></li>
<li><em>“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apanila Kami  menghendakinya,Kami hanya berkata kepadanya ‘Jadilah’maka jadilah ia”(QS  An Nahl :40)</em></li>
<li><em>“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”(QS  Hud:107)<br />
</em></li>
</ul>
<p style="text-align: justify">Sedangkan yang dimaksud <em>Iradah  tasyri’iyah </em>adalah Iradah Allah SWT yang terkait dengan penetapan  hukum syariat bagi hamba-hambanya agar melaksanakannya dengan ikhtiar  mereka sendiri. Dalam hal ini iradah Allah SWT adalah penetapan syariat  adapun pelaksanaannya oleh hamba adalah salah satu tujuan penetapan  syariat itu, oleh karenanya terkadang tujuan itu terealisasi dan  terkadang tidak sesuai dengan pilihan hamba itu sendiri apakah mematuhi  syariat yang telah ditetapkan Allah SWT atau melanggarnya. Contoh iradah  ini dapat dilihat pada ayat berikut:</p>
<ul style="text-align: justify">
<li><em>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)bulan  ramadhan,bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi  manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan  pembeda(antara yang haq dan yang bathil).Karena itu barangsiapa diantara  kamu hadir di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu dan  barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka(wajiblah  baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,pada hari-hari  yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki  kesukaran bagimu.Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan  hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan  kepadamu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Baqarah :185).</em></li>
<li><em>“Hai orang-orang beriman apabila kamu hendak mengerjakan  sholat,maka basuhlah muka dan tanganmu sampai ke siku dan sapulah  kepalamu dan kakimusampai dengan kedua mata kaki dan jika kamu junub  maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali  dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak  memperoleh air,maka bertanyamumlah dengan tanah yang baik(bersih)  sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak  menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan  nikmatnya bagimu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Maidah : 6)<br />
</em></li>
</ul>
<p style="text-align: justify"><em> </em><br />
Iradah dalam <em>Al Baqarah 185 </em>adalah berkaitan dengan <em>syariat  Allah tentang puasa </em>dimana aturan-aturan yang ditetapkan Allah itu  adalah untuk memudahkan manusia dalam melaksanakannya,sehingga iradah  ini akan terwujud pada orang yang berpuasa. Sedangkan yang tidak mau  berpuasa jelas tidak ada hubungannya dengan iradah ini. Begitu juga  Iradah dalam Al Maidah ayat 6 dimana <em>Allah hendak membersihkan  manusia dan menyempurnakan nikmatnya </em>bagi manusia supaya manusia  bersyukur, iradah ini jelas terkait dengan syariat wudhu dan tanyamum  yang Allah tetapkan oleh karenanya iradah ini akan terwujud bagi <em>orang  yang bersuci sebelum sholat dengan wudhu dan tanyamum dan ini tidak  berlaku bagi orang yang tidak bersuci baik dengan wudhu atau tanyamum.</em> Dan perlu ditekankan bahwa iradah tasyri’iyah ini ditujukan pada semua  umat muslim yang melaksanakan syariat Allah SWT tersebut termasuk dalam  hal ini Ahlul Bait as.
</p>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Iradah dalam Ayat tathhiir  adalah iradah takwiniyah dan bukan iradah tasyri’iyah</em></strong> artinya tidak terkait dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan,  tetapi iradah ini bersifat niscya atau pasti terjadi. Hal ini  berdasarkan alasan-alasan berikut</p>
<ol style="text-align: justify">
<li>Penggunaan lafal <em>Innama</em> yang bermakna <em>hashr</em> atau  pembatasan menunjukkan arti bahwa Allah tidak berkehendak untuk  menghilangkan <em>rijs</em> dengan bentuk seperti itu kecuali dari Ahlul  Bait, atau dengan kata lain kehendak penyucian ini terbatas hanya pada  pribadi yang disebut Ahlul Bait dalam ayat ini.</li>
<li>Berdasarkan asbabun nuzulnya ayat ini seperti dalam hadis riwayat  Turmudzi di atas tidak ada penjelasan bahwa iradah ini berkaitan dengan  syariat tertentu yang Allah tetapkan.</li>
<li>Allah memberi penekanan khusus setelah kata kerja <em>liyudzhiba</em>(menghilangkan)  dengan firmannya <em>wa yuthahhirakum tathiira</em>. Dan kata kerja  kedua ini <em>wa yuthahhirakum(menyucikanmu)</em> dikuatkan dengan <em>mashdar  tathiira(sesuci-sucinya)</em>yang mengakhiri ayat tersebut. Penekanan  khusus ini merupakan salah satu petunjuk bahwa iradah Allah ini adalah  iradah takwiniyah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Li yudzhiba </em></strong><strong><em>‘An  kumurrijsa Ahlal bait </em></strong><br />
Kemudian kalimat selanjutnya adalah <em>li yudzhiba ‘an kumurrijsa ahlal  bait</em> . Kalimat tersebut menggunakan kata <em>‘an</em> bukan <em>min. </em>Dalam bahasa Arab, kata <em>’an</em> digunakan untuk sesuatu yang  belum mengenai, sementara kata min digunakan untuk sesuatu yang telah  mengenai. Oleh karena itu, kalimat tersebut memiliki arti untuk  menghilangkan <em>rijs</em> dari  Ahlul Bait (sebelum <em>rijs</em> tersebut mengenai Ahlul Bait), atau dengan kata lain untuk menghindarkan  Ahlul Bait dari <em>rijs</em>. Sehingga jelas sekali, dari kalimat ini  terlihat makna kesucian Ahlul Bait dari <em>rijs.</em> Lagipula adalah  tidak tepat menisbatkan bahwa sebelumnya mereka Ahlul bait memiliki <em>rijs</em> kemudian baru Allah menyucikannya karena Ahlul Bait yang disucikan  dalam ayat ini meliputi Imam Hasan dan Imam Husain yang waktu itu masih  kecil dan belum memiliki <em>rijs</em>.</p>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Ar Rijs</em></strong><br />
Dalam Al Quran terdapat cukup banyak ayat yang menggunakan kata <em>rijs</em>,  diantaranya adalah sebagai berikut.</p>
<ul style="text-align: justify">
<li><em>“Sesungguhny,a (meminum) khamar, berjudi, (berkorban  untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji  (rijs) termasuk perbuatan setan” (QS Al Maidah: 90).</em></li>
<li><em>“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis (rijs) dan jauhilah  perkataan-perkataan dusta” (QS Al Hajj: 30).</em></li>
<li><em>“Dan adapun orang orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka  dengan surat ini bertambah kekafiran (rijs) mereka, di samping  kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (QS  At Taubah: 125).</em></li>
<li><em>“Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah  najis (rijs)” (QS At Taubah: 95).</em></li>
<li><em>“Dan Allah menimpakan kemurkaan (rijs) kepada orang-orang yang tidak  mempergunakan akalnya” (QS Yunus: 100).</em></li>
</ul>
<p style="text-align: justify">Dari semua ayat-ayat ini dapat ditarik  kesimpulan bahwa <em>rijs adalah segala hal bisa dalam bentuk keyakinan  atau perbuatan yang keji, najis yang tidak diridhai dan menyebabkan  kemurkaan Allah SWT. </em></p>
<p style="text-align: justify">Asy Syaukani dalam tafsir <em>Fathul  Qadir</em> jilid 4 hal 278 menulis,</p>
<p style="text-align: justify"><em> “… yang dimaksud dengan rijs ialah dosa yang dapat  menodai jiwa jiwa yang disebabkan oleh meninggalkan apa-apa yang  diperintahkan oleh Allah dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh-Nya.  Maka maksud dari kata tersebut ialah seluruh hal yang di dalamnya tidak  ada keridhaan Allah SWT”. </em></p>
<p style="text-align: justify">Kemudian ia melanjutkan,</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Firman `… dan menyucikan kalian… ‘ maksudnya adalah:  `Dan menyucikan kalian dari dosa dan karat (akibat bekas dosa) dengan  penyucian yang sempurna.’ Dan dalam peminjaman kata rijs untuk arti  dosa, serta penyebutan kata thuhr setelahnya, terdapat isyarat adanya  keharusan menjauhinya dan kecaman atas pelakunya”.</em></p>
<p style="text-align: justify">Lalu ia menyebutkan sebuah riwayat dari  Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath  Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab<em> Ad Dalail </em>jilid  4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda dengan sabda yang panjang, dan pada  akhirnya beliau mengatakan <em>“Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari  dosa-dosa”. (kami telah membahas secara khusus hadis ini di bagaian yang  lain)<br />
</em>
</p>
<p style="text-align: justify">Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam  kitab <em>Ash Shawaiq</em> hal 144-145 berkata,</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Ayat ini adalah sumber keutamaan Ahlul Bait, karena  ia memuat mutiara keutamaan dan perhatian atas mereka. Allah  mengawalinya dengan innama yang berfungsi sebagai pengkhususan  kehendakNya untuk menghilangkan hanya dari mereka rijs yang berarti dosa  dan keraguan terhadap apa yang seharusnya diimani dan menyucikan mereka  dari seluruh akhlak dan keadaan tercela.”</em></p>
<p style="text-align: justify">Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab <em>Al  lklil</em> hal 178 menyebutkan bahwa</p>
<p style="text-align: justify"><em>kesalahan adalah rijs, oleh karena itu kesalahan  tidak mungkin ada pada Ahlul Bait.</em></p>
<p style="text-align: justify">Semua penjelasan diatas menyimpulkan  bahwa Ayat tathiir ini memiliki makna bahwa Allah SWT hanya berkehendak  untuk menyucikan Ahlul Bait dari semua bentuk keraguan dan perbuatan  yang tercela termasuk kesalahan yang dapat menyebabkan dosa dan kehendak  ini bersifat takwiniyah atau pasti terjadi. Selain itu penyucian ini  tidak berarti bahwa sebelumnya terdapat rijs tetapi penyucian ini  sebelum semua rijs itu mengenai Ahlul Bait atau dengan kata lain Ahlul  Bait dalam ayat ini adalah pribadi-pribadi yang dijaga dan dihindarkan  oleh Allah SWT dari semua bentuk rijs. Jadi tampak jelas sekali bahwa  ayat ini telah menjelaskan tentang kedudukan yang mulia dari Ahlul Bait  yaitu Rasulullah SAW, Imam Ali as, Sayyidah Fathimah Az Zahra as, Imam  Hasan as dan Imam Husain as. Penyucian ini menetapkan bahwa <strong><em>Mereka  Ahlul Bait senantiasa menjauhkan diri dari dosa-dosa dan senantiasa  berada dalam kebenaran. Oleh karenanya tepat sekali kalau mereka adalah  salah satu dari Tsaqalain selain Al Quran yang dijelaskan Rasulullah SAW  sebagai tempat berpegang dan berpedoman umat islam agar tidak tersesat.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Selain itu, ada juga hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan Ahlulbayt:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><em>Ra</em><em>sulullah SAW bersabda. </em><em>“Kutinggalkan  kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), <strong>kitab Allah dan Ahlul BaitKu</strong>.  Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali  kepadaKu di Al Haudh“</em><strong><em> <strong>(Mustadrak As Shahihain  Al Hakim juz III hal 148 </strong></em></strong>Al Hakim menyatakan  dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan  syarat Bukhari dan Muslim).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><strong>Jadi, Ahlulbayt Nabi, dalam artian orang-orang yang sudah disucikan oleh  Allah dari segala kenistaan dan dosa, tidak mungkin berdebat dihadapan  Nabi sehingga membuat Nabi marah. Suatu hal yang mustahil Ahlulbayt Nabi berdebat di hadapan Nabi sehingga membuat Nabi marah kepada mereka. Karen Ahlulbayt Nabi telah dijauhkan oleh Allah dari segala perbuatan nista dan dosa serta diperintahkan oleh Nabi untuk diikuti setelah Al-Qur&#8217;an.</strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Kedua, </em></strong>mari kita lihat kalimat awal dari riwayat tragedi kamis kelabu diatas.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify">لما حضر رسول الله صلى الله عليه و سلم وفي <span style="text-decoration: underline"><strong>البيت</strong></span> رجال فيهم  عمر ابن  الخطاب</p>
<p style="text-align: justify"><em>Ketika  ajal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah hampir  tiba dan <span style="text-decoration: underline"><strong>di  dalam rumah beliau</strong></span> ada beberapa orang&#8230;</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Jadi ada kata <span style="text-decoration: underline"><strong>البيت</strong></span> pada kalimat awal dari riwayat tragedi kamis kelabu tersebut, yang mana itu mengisahkan bahwa saat Nabi sakit, ada beberapa orang di dalam rumah Nabi. Dan tentunya, orang-orang yang ada di dalam rumah Nabi disebut <span style="text-decoration: underline"><strong>أهل</strong> <strong>البيت.</strong></span> Jadi, kata<strong> </strong><span style="text-decoration: underline"><strong>أهل</strong> <strong>البيت</strong></span><strong> </strong>dalam kalimat <span style="text-decoration: underline"><strong>فاختلف</strong> <strong>أهل</strong> <strong>البيت</strong></span><strong> </strong>merujuk pada orang-orang yang ada di rumah Nabi tersebut, bukan kepada Ahlulbayt dalam pengertian orang-orang yang telah disucikan oleh Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Jadi apa yang jadi pendapat Al-Hujjah dan Hakekat.com hanyalah mengada-ada saja. Jangan kita terkecoh dengan hal-hal yang terkesan ilmiah. Padahal jika kita ingin sedikit saja kritis, kita akan mendapati kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. </strong></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?'>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan'>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?'>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dualisme HMI; Antara Yasir, Sumayyah, dan Ammar bin Yasir</title>
		<link>http://pbhmi.org/dualisme-hmi-antara-yasir-sumayyah-dan-ammar-bin-yasir/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/dualisme-hmi-antara-yasir-sumayyah-dan-ammar-bin-yasir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 21:23:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Ammar bin Yasir]]></category>
		<category><![CDATA[Azas Tunggal]]></category>
		<category><![CDATA[HMI (DIPO)]]></category>
		<category><![CDATA[HMI (MPO)]]></category>
		<category><![CDATA[HMI Cabang Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Lafran Pane]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Sumayyah]]></category>
		<category><![CDATA[Taqiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Yasir]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu diantara banyak pertanyaan yang pasti saya dengar saat berdiskusi tentang HMI dengan mahasiswa baru ialah pertanyaan soal perpecahan HMI menjadi HMI (DIPO) dan HMI (MPO). Selalu saja pertanyaan ini mengisi ruang-ruang dialog antara mahasiswa baru dengan pengurus HMI. Dan biasanya pertanyaan tersebut disusul dengan pertanyaan lanjutan seputar siapa yang benar dan siapa yang [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Salah satu diantara banyak pertanyaan yang pasti saya dengar saat berdiskusi tentang HMI dengan mahasiswa baru ialah pertanyaan soal perpecahan HMI menjadi HMI (DIPO) dan HMI (MPO). Selalu saja pertanyaan ini mengisi ruang-ruang dialog antara mahasiswa baru dengan pengurus HMI. Dan biasanya pertanyaan tersebut disusul dengan pertanyaan lanjutan seputar siapa yang benar dan siapa yang salah (tersesat).<span id="more-489"></span></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Saya tertarik untuk sedikit memberikan pendapat terkait persoalan dualisme HMI ini. Ketertarikan sayani muncul ketika membaca artikel adu pendapat tentang siapa yang benar dan siapa yang sesat di beberapa website.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Jika kita berbicara tentang sejarah HMI, maka fase-fase sejarah HMI sudah dimulai sejak awal berdirinya pada tahun 1947. Fase tersebut merupakan fase perjuangan pasca kemerdekaan RI. HMI sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa Islam saat itu turut berkontribusi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Tahun 60-an merupakan tahun perjuangan HMI melawan ideologi komunisme dan Fase penting lain adalah pada tahun 1985 dimana saat itu di Indonesia diberlakukan Undang-Undang No. 8 Tahun 1985, tentang organisasi kemasyarakatan. Aturan tersebut memuat kebijakan soal azas tunggal yaitu Pancasila. Semua ormas dan orpol diharuskan merubah azas organisasi mereka menjadi Pancasila.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Pada HMI kebijakan ini sampai membuat perpecahan di tubuh organisasi dan mencapai puncaknya pada kongres HMI XVI yang diselenggarakan di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 24-31 Maret 1986, dimana ada beberapa kader HMI menyatakan dirinya sebagai HMI-MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) yang tetap menjaga Islam sebagai azas organisasi. Sedangkan HMI yang memilih strategi menuruti perintah penguasa saat itu untuk merubah azas organisasi menjadi Pancasila, sering disebut sebagai HMI (DIPO). DIPO sendiri merujuk pada nama jalan sekretariat PBHMI yaitu jalan Diponegoro.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Dalam perjalanan sejarah organisasi ini, ada beberapa oknum kader HMI (DIPO) maupun HMI (MPO) yang sering kali mengklaim bahwa dirinyalah yang betul-betul HMI. Oknum kader HMI (DIPO) menganggap bahwa HMI (MPO) merupakan organisasi ekstrem dan kaku. Begitu juga sebaliknya, oknum kader HMI (MPO) menganggap HMI (DIPO) sudah tersesat dengan mengganti azas organisasi mereka dari Islam menjadi Pancasila.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Sampai hari ini, persoalan ini masih saja menimbulkan polemik di beberapa cabang. Bahkan terakhir saya membaca tulisan mengenai polemik antara HMI (DIPO) dan HMI (MPO) Cabang Semarang. Seperti biasanya, masing-masing diantara mereka mengklaim dirinya merupakan pewaris sah dari organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane ini.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Kalau boleh saya berpendapat dan sekaligus menjawab pertanyaan mahasiswa baru soal pihak mana yang berada pada kebenaran, maka saya dengan tegas mengatakan bahwa keduanya benar. Mungkin Anda akan memprotes saya dengan mengatakan bahwa mustahil kebenaran ada dua.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Menurut saya, kebenaran itu memang harus satu. Mustahil kebenaran itu ada dua. Tetapi, itu kebenaran yang bersifat mutlak. Sedangkan kebenaran yang saya maksud disini ialah kebenaran subyektif. Kebenaran yang diklaim oleh masing-masing pihak atas dasar sudut pandang masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Jika saya memandang persoalan dualisme HMI ini, saya jadi teringat dengan sejarah mengenai keluarga salah seorang sahabat Nabi, Ammar bin Yasir. Dialah yang pernah disebut dalam sebuah hadits Nabi, ”Siapa yang memaki-maki Ammar Bin Yasir, Allah akan memaki-maki dia. Barang siapa yang memusuhinya, Allah akan menjadi musuh dia. Barangsiapa yang merendahkan Ammar, Allah pun akan merendahkan dia.”</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Kisah keluarga Ammar bin Yasir ini kemudian diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya surat An-Nahl ayat 106.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Ammar bersama orangtuanya, Sumayyah Binti Kahiyyat dan Yasir pernah disiksa oleh Abu Jahal Bin Hisyam ditengah-tengah padang pasir, ramdha. Saat tahu tentang itu, Rasulullah datang dan berkata, “Hai keluarga Yasir, sabarlah! Kalian dijanjikan pahala surga.”</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Bahkan mereka diancam akan dibunuh jika tidak meninggalkan agama Islam. Kedua orangtua Ammar, Yasir dan Sumayah, tetap berpegang teguh memegang Islam dengan berani berujar di hadapan para musyrikin, “Kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya lagi.” Mendengar itu para musyrikin marah dan akhirnya membunuh keduanya dengan tombak. Atas tindakan itu, akhirnya Ammar tidak bisa apa-apa selain menuruti kaum musyrikin. Ia dihadapan para pemuka musyrikin melontarkan cacian dan makiannya kepada Rasulullah dan langsung menyatakan keluar dari agama Islam. Kejadian itu pun diketahui Nabi. Selang beberapa hari setelah kejadian itu turunlah ayat kepada Nabi, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (Dia mendapat kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman (Dia tidak berdosa)” (QS An-nahl:106).</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Berdasarkan ayat ini umat Islam pada waktu itu diizinkan untuk melakukan taqiyyah dalam rangka menjaga keselamatan. Taqiyyah ialah sikap untuk menampakkan kekafiran dan menyembunyikan kebenaran. Inilah yang dilakukan Ammar yang terpaksa mencaci maki Nabi dan menyatakan keluar dari Islam untuk penyelamatan jiwanya. Dan tindakan taqiyyah yang dilakukan Ammar tadi dibenarkan oleh Nabi, “Kalau mereka kembali menyiksamu lagi, ucapkan cacianmu padaku; Allah akan mengampunimu dikarenakan kamu terpaksa melakukannya.”</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Jika diibaratkan, HMI (MPO) adalah Sumayyah dan Yasir. Mereka berteriak lantang ketika penguasa dzalim saat itu memaksa untuk menggadaikan keimanan mereka. Mereka menantang penguasa dzalim saat itu dengan teriakan, ”Kami yang sudah suci dengan Islam tidak mau mengotorinya lagi.” Tentu sikap mereka ini mendapatkan tekanan dari penguasa yang berkuasa. Dan hal ini yang memaksa mereka untuk bergerak secara bawah tanah.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">HMI (DIPO) merupakan Ammar bin Yasir di bangsa ini yang bertaqiyyah. Mereka menuruti kemauan penguasa untuk melepaskan keislaman dari azas organisasi yang mereka kendarai. Hal ini dilakukan untuk menyelamatkan eksistensi organisasi ini. Secara lisan dan sikap mereka merubah azas mereka dari Islam menjadi Pancasila. Tetapi dalam hatinya masih tersimpan ruh Islam. Meskipun telah terjadi perubahan azas HMI dari Islam menjadi Pancasila namun HMI (DIPO) tetap menjadikan Islam sebagai landasan juangnya. Konsistensi mereka terhadap Islam tampak pada saat mereka menyiasati isi dari Anggaran Dasar HMI sehingga tidak bertentangan dengan kehendak penguasa tetapi juga tetap membawa spirit keislaman.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Seperti kita ketahui bersama bahwa awalnya HMI (DIPO) berazaskan Pancasila yang tertuang dalam Pasal 4 Anggaran Dasar HMI. Namun semenjak diberlakukannya azas tunggal, HMI merubah isi Anggaran Dasar. Pada Anggaran Dasar pasca diberlakukannya azas Tunggal Pancasila, ditambahkan 1 (satu) pasal tentang identitas, yaitu Pasal 3 Anggaran Dasar yang berbunyi bahwa ”HMI menghimpun mahasiswa yang beridentitaskan Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah”. Pasal tentang azas terdapat pada Pasal 4 Anggaran Dasar yang berbunyi ”organisasi ini berasaskan Pancasila”.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">HMI (DIPO) percaya bahwa penguasa itu tidak akan bercokol di tahta tiran selama-lamanya. Mereka percaya suatu saat penguasa itu akan tumbang dan mereka akan kembali lagi pada azas awal dari organisasi ini yaitu Islam.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Dan akhirnya pada Kongres Jambi 1999 HMI benar-benar kembali ke Khittah awal. Mereka kembali mengenakan Islam sebagai azas organisasi.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Seperti itulah analogi dualisme HMI bahwa ternyata keduanya sama-sama benar. Benar menurut ukuran dan sudut pandang masing-masing. HMI (MPO) merupakan cerminan orang-orang yang konsisten terhadap apa yang diyakininya sebagai sebuah kebenaran. Sedangkan HMI (DIPO) ialah cerminan orang-orang yang terpaksa berucap kata kafir walaupun sebenarnya dalam hati mereka tetap beriman. Hal ini dilakukan semata-mata untuk melindungi dirinya dari bahaya para tiran, baik tiran agama maupun tiran politik.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">Dengan kembalinya azas HMI (DIPO) menjadi Islam, maka tidak seharusnya kedua organisasi ini, baik DIPO maupun MPO, untuk tetap membiarkan perpecahan ini terjadi. Tidak ada alasan lagi bagi HMI DIPO dan MPO untuk berpecah. Karena akar permasalahan perpecahan tersebut sudah tidak ada lagi. Keduanya sudah sama-sama berazaskan Islam.[]</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><em><strong>Oleh: <a href="http://ressay.wordpress.com" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/ressay.wordpress.com?referer=');">Yasser Arafat</a></strong></em></p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>Ketua Bidang Pembinaan Anggota</strong></em></p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>HMI Cabang Surakarta</strong></em></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify">


<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/dualisme-hmi-antara-yasir-sumayyah-dan-ammar-bin-yasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</title>
		<link>http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 16:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ilham]]></category>
		<category><![CDATA[Ressay]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini masih terkait dengan sebuah blog yang dalam beberapa kesempatan pemiliknya berdiskusi dengan saya. Dan isi diskusi kami sebagian sudah saya postingkan dalam blog ini, diantaranya adalah Wahyu dan Ilham dalam Terjemahan dan Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?
Dalam sela-sela diskusi kami, ia tampak sekali kehabisan argumen sehingga ia merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan'>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?'>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/kader-hmi-kok-tidak-bisa-membaca-bagaimana-mau-menulis/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kader HMI Kok Tidak Bisa Membaca Bagaimana Mau Menulis?'>Kader HMI Kok Tidak Bisa Membaca Bagaimana Mau Menulis?</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify">Tulisan ini masih terkait dengan sebuah blog yang dalam beberapa kesempatan pemiliknya berdiskusi dengan saya. Dan isi diskusi kami sebagian sudah saya postingkan dalam blog ini, diantaranya adalah <a href="http://ressay.wordpress.com/2009/09/04/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/ressay.wordpress.com/2009/09/04/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/?referer=');">Wahyu dan Ilham dalam Terjemahan</a> dan <a href="http://ressay.wordpress.com/2009/09/25/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/ressay.wordpress.com/2009/09/25/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/?referer=');">Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></p>
<p style="text-align:justify">Dalam sela-sela diskusi kami, ia tampak sekali kehabisan argumen sehingga ia merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan mengubah wajah dari foto saya. Ada juga gambar-gambar yang ia buat, yang menurut saya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim.<span id="more-474"></span></p>
<p style="text-align:justify">Di tengah-tengah sesi diskusi itu, ada salah seorang pengunjung yang mengkritik ketika saya menuliskan salah satu ayat Al-Qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align:justify"><strong>Beliau berkata: </strong></p>
<blockquote><p><strong>Menurut Al Qur’an (QS 16: 98):</strong><br />
“Maka apabila engkau <strong>membaca</strong> Al Quran maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk “</p>
<p>Jadi tolong setiap <strong>menulis</strong> 1 ayat AL Quran yang lengkap dibiasakan didahuli dengan ta&#8217;awwudz.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify">Sepintas membaca kritikan tersebut, saya langsung berucap istighfar mohon ampun jika memang ada kesalahan. Tetapi setelah saya cermati lagi, ada hal yang perlu dikritisi balik, menurut saya.</p>
<p style="text-align:justify">Pada kutipan diatas, saya sengaja memberikan cetak tebal pada dua buah kalimat, yaitu <strong>membaca </strong>dan<strong> menulis</strong>. Biasanya sih, itu untuk menunjukkan bahwa dua kalimat tersebut yang merupakan titik fokus pengkritisan kita.</p>
<p style="text-align:justify">Beliau mengutip surat An-Nahl ayat 98 untuk mendukung kritikan beliau atas saya. Tetapi nampaknya <span style="text-decoration: underline"><strong>ada perbedaan konteks antara ayat yang ia kutip dengan nasehatnya</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify">Pada surat An-Nahl ayat 98 diatas, <span style="text-decoration: underline"><strong>Allah memerintahkan kita untuk membaca ta&#8217;awwudz ketika hendak membaca Al-Qur&#8217;an</strong></span>. Membaca ta&#8217;awwudz maksudnya meminta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan  syaitan yang terkutuk yaitu dengan mengucapkan kalimat &#8220;A&#8217;udzubillahi  Minasy-syaithanir-rajim (aku berlindung kepada Allah dengan godaan setan yang  terkutuk).</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline"><strong>Tetapi perintah Allah ini, berbeda dengan nasehat beliau bahwa saya hendaknya menuliskan ta&#8217;awwudz dulu sebelum menulis ayat Al-Qur&#8217;an. </strong></span></p>
<p style="text-align:justify">Sekejap saya langsung sadar bahwa ada ketidaksesuaian antara perintah Allah dengan nasehat beliau. Dan tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap beliau, saya lebih memilih perintah Allah ketimbang nasehat seseorang yang saya tidak tahu menahu tentang pribadinya.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan'>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?'>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/kader-hmi-kok-tidak-bisa-membaca-bagaimana-mau-menulis/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kader HMI Kok Tidak Bisa Membaca Bagaimana Mau Menulis?'>Kader HMI Kok Tidak Bisa Membaca Bagaimana Mau Menulis?</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</title>
		<link>http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 17:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Argumentum ad Hominem]]></category>
		<category><![CDATA[Fallacy]]></category>
		<category><![CDATA[Ilham]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ressay]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=447</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini masih menyambung tulisan yang terdahulu mengenai ilham dan wahyu yang nampaknya masih memberikan efek sampai saat ini kepada orang-orang yang sudah kadung taqlid dengan penerjemahan Al-Qur&#8217;an versi DEPAG RI. Sampai-sampai ada seorang blogger yang tidak kesampaian untuk membantah apa yang jadi pendapat saya, sehingga merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan mengubah-ubah foto wajah [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan'>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?'>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Siapakah Pembuat Ricuh Saat Nabi Sakit?'>Siapakah Pembuat Ricuh Saat Nabi Sakit?</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify">Tulisan ini masih menyambung <a href="http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/" target="_blank">tulisan yang terdahulu mengenai ilham dan wahyu</a> yang nampaknya masih memberikan efek sampai saat ini kepada orang-orang yang sudah kadung taqlid dengan penerjemahan Al-Qur&#8217;an versi DEPAG RI. Sampai-sampai ada seorang blogger yang tidak kesampaian untuk membantah apa yang jadi pendapat saya, sehingga merasa perlu untuk mendiskreditkan saya dengan mengubah-ubah foto wajah saya menjadi wajah keledai. Mungkin pengubahan wajah tersebut sebetulnya adalah representasi dari sifat keledai yang ada di dalam diri blogger tersebut.<span id="more-447"></span></p>
<p style="text-align:justify">Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, izinkan saya untuk menuliskan apa yang menjadi pendapat saya pada sesi diskusi dengan beliau ini.</p>
<p style="text-align: center">&#8212;</p>
<p style="text-align:justify">Pada tulisan sebelum ini, saya menyampaikan kritikan atas penerjemahan Al-Qur&#8217;an versi DEPAG RI atas surat Asy-Syura ayat 52, surat Al-Maidah ayat 111, dan surat Asy-Syams ayat 8. Sebelum Anda menuntaskan membaca tulisan ini, silakan Anda baca kembali <a href="http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/" target="_blank">tulisan terdahulu</a> tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Ok, jika sudah, berikut ini saya akan melanjutkan tulisan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify">Persoalannya, apakah mungkin wahyu itu turun kepada selain Nabi?</p>
<p style="text-align:justify">Sebelum itu, saya ingin mengkritisi kembali penerjemahan Al-Qur&#8217;an versi DEPAG.</p>
<p style="text-align:justify">Mari kita buka lagi Al-Qur&#8217;an kita dan cari surat asy-syura ayat 52.</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Dalam surat asy-syura ayat 52 Allah berfirman:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُم مُّتَّبَعُونَ</p>
<p style="text-align:justify">artinya: Dan Kami <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyukan</strong></span> (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli”.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">Pada ayat diatas, ada kata yang saya cetak tebal dan saya garis bawahi. Ini menandakan bahwa saya ingin mengajak Anda untuk memfokuskan diri pada satu kata tersebut. Itulah yang akan jadi obyek pengkritisan saya.</p>
<p style="text-align:justify">Jika sudah, mari kita buka ayat lain.</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Dalam surat Al-Qashash ayat 7, Allah berfirman:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ</p>
<p style="text-align:justify">artinya: Dan kami<span style="text-decoration: underline;"> <strong>ilhamkan</strong></span> kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">Silakan Anda cermati kedua ayat yang saya kutipkan diatas dengan tetap memfokuskan pada kata yang saya cetak tebal dan saya garis bawahi.</p>
<p style="text-align:justify">Pada kedua ayat tersebut, terdapat kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span> yang sebetulnya berasal dari kata dasar <span style="text-decoration: underline;"><strong>Wa-Ha-Ya</strong></span> yang berarti wahyu. Baik Surat Asy-Syura ayat 52 dan surat Al-Qashash ayat 7, sama-sama menggunakan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span>. Tetapi mari kita lihat dengan cermat terjemahannya.</p>
<p style="text-align:justify">Pada surat Asy-Syura ayat 52, kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span> diterjemahkan menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyu</strong></span>. Tetapi anehnya pada surat Al-Qashash ayat 7, kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span> diterjemahkan menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>ilham</strong>.</span></p>
<p style="text-align:justify">Ini aneh menurutku. Seharusnya kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span><strong> </strong>dalam surat Al-Qashash ayat 7 ini diterjemahkan sama dengan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span><strong> </strong>dalam surat Asy-Syura ayat 52, yaitu <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyu</strong></span>. Mengapa?</p>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Mari kita bersilogisme:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">Pada surat Al-Qashash terdapat kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify">Kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>&#8220;auhaina&#8221;</strong></span> diterjemahkan dalam surat asy-syura ayat 52 menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyu</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify">Maka, kata<span style="text-decoration: underline;"><strong> &#8220;auhaina&#8221;</strong></span> dalam surat Al-Qashash diterjemahkan menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>wahyu</strong></span>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">Jadi, menurut pendapat saya, penerjemahan yang dilakukan oleh tim DEPAG RI, ternyata salah.</p>
<p style="text-align: center">&#8212;</p>
<p style="text-align:justify">Lalu kita kembali pada persoalan yang hendak kita tuntaskan.</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Apakah mungkin wahyu itu turun kepada selain Nabi? </strong></span></p>
<p style="text-align:justify">Pertanyaan ini saya munculkan setelah berdiskusi dengan salah seorang blogger yang sampai saat ini masih kelimpungan bagaimana harus membantah argumen saya. Sehingga untuk menyelamatkan rasa malunya, ia berusaha membuat beberapa tulisan untuk mendiskreditkan pribadi saya. Apa yang ia komentari bukan lagi pendapat saya yang senantiasa menggunakan Al-Qur&#8217;an, tetapi yang ia komentari adalah foto saya yang wajahnya ia rubah menjadi keledai. Mungkin ia menginginkan saya berwajah sama dengan wajah asli dia, yaitu keledai. Simbol dari kedunguan.</p>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify"><strong>Bagaimana kita menjawab pertanyaan tersebut?</strong></p>
<p style="text-align:justify"><strong><span style="text-decoration: underline;">Cara menemukan jawabannya tentu dari Al-Qur&#8217;an</span>, khan kita muslim. </strong></p>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify">Semoga kita tidak bosan untuk terus mempelajari kitab suci kita, yaitu Al-Qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align:justify">Saya menemukan beberapa ayat yang menurut saya dapat menjawab pertanyaan diatas.</p>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Allah mewahyukan kepada </strong><strong>LEBAH</strong></span>:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ</p>
<p style="text-align:justify">Artinya: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, (QS. An-Nahl 16:68)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Allah mewahyukan kepada para malaikat:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلآئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُواْ الرَّعْبَ فَاضْرِبُواْ فَوْقَ الأَعْنَاقِ وَاضْرِبُواْ مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ</p>
<p style="text-align:justify">Artinya: (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat : “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (QS. Al-Anfaal 8:12)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify"><strong><br />
</strong>
</p>
<p style="text-align:justify"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Allah mewahyukan kepada langit:</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify">فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظاً ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ</p>
<p style="text-align:justify">Artinya: Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Fush Shilat 41:12)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify">Jadi, menurut saya, wahyu bisa diturunkan juga kepada selain Nabi. Sekali lagi, menurut saya. Adalah hak Anda untuk tidak mempercayai apa yang jadi pendapat saya. Saya tidak pernah mengklaim apa yang jadi pendapat saya merupakan representasi dari Islam yang sesungguhnya menurut Allah. Ini hanya persoalan penafsiran saya atas Islam.</p>
<p style="text-align:justify">Jika ada yang tidak setuju, silakan ajukan pendapat. Siapa tahu pendapat Anda jauh lebih kuat sehingga saya bisa sama-sama dengan Anda meyakini sesuatu yang sama.</p>
<p style="text-align:justify">Berpendapatlah dengan ilmiah, bukan dengan fallacy.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan'>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?'>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Siapakah Pembuat Ricuh Saat Nabi Sakit?'>Siapakah Pembuat Ricuh Saat Nabi Sakit?</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</title>
		<link>http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 17:13:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Ilham]]></category>
		<category><![CDATA[Wahyu]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari diskusi di blog tetangga tentang ilham dan wahyu, saya jadi kepikiran untuk menulis mengenai hal itu. Tetapi tulisan ini difokuskan pada permasalahan, apakah selain Nabi dapat memperoleh wahyu, atau hanya dapat memperoleh ilham saja?
Dalam surat Asy-Syura ayat 52, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
Artinya: “Dan demikanlah Kami wahyukan&#8230;”

Kata &#8220;auhaina” disana diterjemahkan ke [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?'>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?'>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/kritik-atas-waktu-memulai-puasa-dan-waktu-berbuka-puasa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kritik Atas Waktu Memulai Puasa dan Waktu Berbuka Puasa'>Kritik Atas Waktu Memulai Puasa dan Waktu Berbuka Puasa</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Berawal dari diskusi di blog tetangga <strong>tentang ilham dan wahyu</strong>, saya jadi kepikiran untuk menulis mengenai hal itu. Tetapi tulisan ini difokuskan pada permasalahan, apakah selain Nabi dapat memperoleh wahyu, atau hanya dapat memperoleh ilham saja?<span id="more-443"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dalam surat Asy-Syura ayat 52, Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 16pt;">وَكَذَلِكَ <span style="text-decoration: underline;">أَوْحَيْنَا</span> إِلَيْكَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Artinya: <em>“Dan demikanlah Kami <strong><span style="text-decoration: underline;">wahyukan</span></strong>&#8230;”</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Kata <strong><em>&#8220;auhaina”</em></strong><em> </em>disana diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi <strong>WAHYU</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Namun, ada perbedaan dengan surat Al-Maidah ayat 111. Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em>berfirman:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span style="font-size: 16pt;">وَإِذْ <span style="text-decoration: underline;">أَوْحَيْتُ</span> إِلَى الْحَوَارِيِّين</span><span style="font-size:16pt"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify">Artinya: <em>“Dan (ingatlah), ketika Aku <strong><span style="text-decoration: underline;">ilhamkan</span></strong> kepada pengikut &#8216;Isa yang setia:…”</em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dalam ayat diatas, Allah menggunakan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>”auhaitu</em></strong></span><em><span style="text-decoration: underline;">”</span> </em>yang seharusnya berarti sama dengan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“auhaina”</em></strong></span><em> </em>yang ada pada surat Asy-Syura ayat 52, yaitu <span style="text-decoration: underline;"><strong>WAHYU</strong></span>. Baik <strong><span style="text-decoration: underline;"><em>auhaitu</em></span></strong> maupuan <em><strong><span style="text-decoration: underline;">auhaina</span></strong></em>, sama-sama berasal dari kata <span style="text-decoration: underline;"><strong>Wa-Ha-Y</strong></span>a. Tetapi anehnya, penerjemah ketika menerjemahkan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“auhaitu”</em></strong></span><em> </em>dalam surat Al-Maidah ayat 111 ke dalam bahasa Indonesia, ia terjemahkan menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>ILHAM</strong></span>-kan. Kebetulan terjemahan yang saya gunakan adalah <strong>terjemahan DEPAG RI</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Keanehan ini bertambah parah ketika kita membaca surat Asy-Syams ayat 8. Allah berfirman:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify"><span style="font-size: 16pt;">فَ<span style="text-decoration: underline;">أَلْهَمَهَا</span> فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify">Artinya: <em>“maka Allah <strong>mengilhamkan</strong> kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”</em><em> </em></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Pada ayat diatas, Allah menggunakan kata <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“alhamaha”</em></strong></span> untuk menunjukkan <span style="text-decoration: underline;"><strong>MENGILHAMKAN</strong></span>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Jadi sebetulnya,<strong> <span style="text-decoration: underline;">ILHAM</span></strong> dalam bahasa arab itu <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“alhamaha”</em></strong></span><em> </em>ataukah <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>“auhaitu”</em></strong></span>?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size:16pt"> </span></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?'>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?'>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/kritik-atas-waktu-memulai-puasa-dan-waktu-berbuka-puasa/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kritik Atas Waktu Memulai Puasa dan Waktu Berbuka Puasa'>Kritik Atas Waktu Memulai Puasa dan Waktu Berbuka Puasa</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi: Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama</title>
		<link>http://pbhmi.org/diskusi-ahmadiyah-di-tengah-kerukunan-umat-beragama/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/diskusi-ahmadiyah-di-tengah-kerukunan-umat-beragama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 20:38:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[HMI News]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[Mustaqim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Qadiyan]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Yasser Arafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan telah datang. Dalam menyambut kedatangan dan mewarnai bulan Ramadhan ini, HMI Cabang Surakarta membuat serangkaian kegiatan yang bermanfaat.
Setelah melakukan pawai Becak dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan slogan “Shaum Terus Maksiat Jangan”, hari ini Minggu 30 Agustus 2009 HMI Cabang Surakarta mengadakan diskusi yang dinamakan SERABI “Semarak Ramadhan Bersinar ala HMI”.
Bertempat di Gedung [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/hmi-solo-adakan-serabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: HMI Solo Adakan Serabi'>HMI Solo Adakan Serabi</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?'>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?'>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Bulan Ramadhan telah datang. Dalam menyambut kedatangan dan mewarnai bulan Ramadhan ini, HMI Cabang Surakarta membuat serangkaian kegiatan yang bermanfaat.</p>
<p>Setelah melakukan pawai Becak dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan slogan “Shaum Terus Maksiat Jangan”, hari ini Minggu 30 Agustus 2009 HMI Cabang Surakarta mengadakan diskusi yang dinamakan SERABI “Semarak Ramadhan Bersinar ala HMI”.<span id="more-191"></span></p>
<p>Bertempat di Gedung Insan Cita HMI, diskusi tersebut mengangkat tema “Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama”.</p>
<p>Beberapa tahun kemarin MUI mengeluarkan fatwa sesat atas Ahmadiyah. Pemerintah pun menyusulnya dengan mengeluarkan SKB 3 menteri. Berdasarkan hal tersebut, HMI berusaha membuka ruang bagi Ahmadiyah untuk berdialog bersama menyampaikan keyakinannya dihadapan para kader-kader HMI.</p>
<p>Sebagai pembicara dalam acara tersebut Ustadz Mustaqim, Ketua Ahmadiyah Qadiyan Solo, dan Yasser Arafat, Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Surakarta.</p>
<p>Ustadz Mustaqim menjelaskan bahwa Ahmadiyah tidak memiliki Nabi pembawa syariat setelah Nabi Muhammad. Mereka hanya meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi yang tidak membawa syariat. Artinya Nabi yang masih berpegang pada syariat Nabi Muhammad. Pengertian kenabian menurut Ahmadiyah dan mayoritas umat Islam pun berbeda. Beliau pun mengutip beberapa ayat Al-Qur’an untuk mendukung keyakinannya diantaranya ayat yang menyebut bahwa Nabi Muhammad adalah Khataman Nabiyyin (QS. 33:40). Beliau menafsirkan itu khataman Nabiyyin sebagai Nabi yang istimewa, luar biasa, paling bagus, yang terakhir membawa syariat. Khataman Nabiyyin bukanlah penutup para Nabi karena masih dimungkinkan ada Nabi-Nabi lain sepeninggal Nabi Muhammad.</p>
<p>Yasser Arafat sebagai pembicara kedua berusaha menyanggahnya. Setelah menjelaskan bahwa Ahmadiyah itu ada dua macam dan keduanya saling menganggap sesat satu sama lainnya, Yasser menyanggah bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi. Tidak ada lagi Nabi sepeninggal beliau.</p>
<p>Dia menuturkan bahwa ada banyak metode dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an. Apa yang dilakukan oleh Ustadz Mustaqim adalah penafsiran Al-Qur’an dengan ra’yunya sendiri. Masih ada lagi cara penafsiran lain, yaitu menafsirkan ayat dengan ayat yang lain, menafsirkan ayat dengan hadits, dll.</p>
<p>”Saya lebih memilih untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an tersebut dengan hadits Nabi,” begitu kata Yasser. Di dalam hadits, Rasulullah pernah berkata, ”Tidakkah engkau ridha wahai Ali, kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa namun tidak ada lagi Nabi setelah.” Jadi dari hadits tersebut bahwa tidak ada lagi Nabi sepeninggal beliau.</p>
<p>Yasser juga menekankan bahwa jangan sampai kita terjebak pada sikap merasa diri paling benar sendiri dan menganggap orang lain sebagai orang sesat. ”Tidak boleh kita mengatakan orang lain sesat menurut Islam. Tetapi jika kita mengatakan orang lain sesat menurut Islam yang kita pahami, bolehlah. Karena ketika kita membaca ayat Al-Qur’an, pasti ada unsur subyektifitas kita dalam menafsirkan ayat tersebut. Masing-masing diantara kita memiliki penafsiran yang berbeda-beda.”</p>
<p>Diskusi pun diakhiri dengan buka puasa bersama. Para peserta diskusi dan pembicara duduk bersama menyantap hidangan buka puasa.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/hmi-solo-adakan-serabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: HMI Solo Adakan Serabi'>HMI Solo Adakan Serabi</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/wahyu-turun-kepada-selain-nabi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?'>Wahyu Turun Kepada Selain Nabi?</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/membaca-atau-menulis-taawwudz/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?'>Membaca atau Menulis Ta&#8217;awwudz?</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/diskusi-ahmadiyah-di-tengah-kerukunan-umat-beragama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HMI Solo Adakan Serabi</title>
		<link>http://pbhmi.org/hmi-solo-adakan-serabi/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/hmi-solo-adakan-serabi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 20:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[HMI News]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Gedung Insan Cita]]></category>
		<category><![CDATA[HMI]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Luhung Ahmad Perguna]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[UNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Karangasem (Espos). Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo menggelar kajian Ramadan dan buka bersama dengan tajuk Serabi (Semarak Ramadan Bersinar Ala HMI), Minggu (30/8), di Gedung Insan Cita (GIC) belakang kampus UNS Solo.
Kegiatan ini dimulai pada pukul 16.00 WIB, diawali dengan kajian bertema Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama. Acara ini dijadwalkan selesai hingga adzan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/diskusi-ahmadiyah-di-tengah-kerukunan-umat-beragama/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Diskusi: Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama'>Diskusi: Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/hmi-becak-fh-uns-gelar-basic-training/' rel='bookmark' title='Permanent Link: HMI Becak FH UNS Gelar Basic Training'>HMI Becak FH UNS Gelar Basic Training</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong>Karangasem (Espos). </strong>Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo menggelar kajian Ramadan dan buka bersama dengan tajuk Serabi (Semarak Ramadan Bersinar Ala HMI), Minggu (30/8), di Gedung Insan Cita (GIC) belakang kampus UNS Solo.</p>
<p style="text-align: justify">Kegiatan ini dimulai pada pukul 16.00 WIB, diawali dengan kajian bertema Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama. Acara ini dijadwalkan selesai hingga adzan Maghrib kemudian dilanjutkan dengan berbuka bersama. Ketua HMI Cabang Solo, Luhung Achmad Perguna, dalam siaran pers yang diterima Espos mengatakan, acara ini merupakan salah satu upaya menumbuhkan semangat keberagaman dan kerukunan (inklusivitas) umat di Kota Solo. &#8211; Oleh : ike/*</p>
<p style="text-align: justify">Sumber: <a href="http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h29&amp;id=285975" target="_blank" onclick="urchinTracker('/outgoing/www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h29_amp_id=285975&amp;referer=');">SOLOPOS</a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/diskusi-ahmadiyah-di-tengah-kerukunan-umat-beragama/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Diskusi: Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama'>Diskusi: Ahmadiyah di Tengah Kerukunan Umat Beragama</a></li><li><a href='http://pbhmi.org/hmi-becak-fh-uns-gelar-basic-training/' rel='bookmark' title='Permanent Link: HMI Becak FH UNS Gelar Basic Training'>HMI Becak FH UNS Gelar Basic Training</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/hmi-solo-adakan-serabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kritik Atas Waktu Memulai Puasa dan Waktu Berbuka Puasa</title>
		<link>http://pbhmi.org/kritik-atas-waktu-memulai-puasa-dan-waktu-berbuka-puasa/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/kritik-atas-waktu-memulai-puasa-dan-waktu-berbuka-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 22:57:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qur'an]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Kritik]]></category>
		<category><![CDATA[Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sahur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Udah lama pingin banget nulis hal ini. Tetapi baru sekarang aku memberanikan diri. Karena apa yang hendak aku tuliskan, sebetulnya dapat saja dengan mudahnya diragukan kebenarannya oleh para penganut paham Argumentum ad Hominem.
Pasalnya, aku seorang mahasiswa fakultas hukum yang buta akan tafsir agama, memberanikan diri menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits.
Kepada para ahli agama, mohon maaf [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan'>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Udah lama pingin banget nulis hal ini. Tetapi baru sekarang aku memberanikan diri. Karena apa yang hendak aku tuliskan, sebetulnya dapat saja dengan mudahnya diragukan kebenarannya oleh para penganut paham Argumentum ad Hominem.</p>
<p style="text-align: justify">Pasalnya, aku seorang mahasiswa fakultas hukum yang buta akan tafsir agama, memberanikan diri menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits.</p>
<p style="text-align: justify">Kepada para ahli agama, mohon maaf jika apa yang aku sampaikan ternyata berbeda dengan pendapat Anda.</p>
<p style="text-align: justify">Ini seputar waktu berbuka puasa dan waktu memulai puasa.<span id="more-107"></span></p>
<p style="text-align: justify">Banyak diantara temen-temenku yang sering kali menegur untuk segera berbuka puasa. Mereka berkata bahwa Nabi memerintahkan kita untuk menyegerakan berbuka puasa. Dalam hatiku aku bertanya, kalau memang menyegerakan, knapa ndak berbuka puasa ketika jam 9 pagi saja? Hehehe…ini hanya pertanyaan bodoh yang sepintas ada dalam pikiranku saat itu.</p>
<p style="text-align: justify">Aku coba membuat saat-saat berbuka puasa itu menjadi sebuah diskusi yang menarik. Untungnya di handphoneku ada Al-Qur’an digital. Segera saja aku buka Surat Al-Baqarah ayat 187. Disana terdapat ketentuan mengenai waktu berbuka puasa dan waktu memulai puasa.</p>
<p style="text-align: justify">”… dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” (QS. Al-Baqarah : 187)</p>
<p><strong>Waktu memulai puasa</strong></p>
<p style="text-align: justify">Banyak diantara kita yang berpendapat bahwa waktu memulai puasa adalah ketika masuk waktu adzan subuh yang ada pada jadwal imsakiyah. Bahkan diantaranya ada yang menghentikan aktivitas makan dan minum mereka beberapa menit sebelum adzan subuh. Apakah itu benar?</p>
<p style="text-align: justify">Memang betul waktu memulai puasa (fajar) adalah ketika masuk waktu subuh, karena waktu fajar juga digunakan untuk menunjukkan waktu shalat subuh dalam Surat Al-Isra’ ayat 78:</p>
<p style="text-align: justify">”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) fajar. Sesungguhnya shalat fajar itu disaksikan (oleh malaikat).”</p>
<p style="text-align: justify">Namun, menurutku yang dhoif ini, waktu tersebut tidak sesuai dengan penafsiranku terhadap ayat tersebut. Aku ndak berani mengatakan pendapat mayoritas umat Islam itu berbeda dengan ayat Al-Qur’an. Aku hanya berani mengatakan bahwa pendapat yang mengatakan waktu memulai puasa adalah ketika adzan subuh (menurut mayoritas umat Islam), berbeda dengan penafsiranku terhadap surat Al-Baqarah ayat 187.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam Shahih Muslim, hadits No. 1825, Hadits riwayat Sahal bin Saad RA, ia berkata: Ketika turun ayat: Makan dan minumlah hingga nyata bagimu benang yang putih dari benang yang hitam. Beliau berkata: seorang lelaki mengambil seutas benang yang berwarna putih dan seutas benang berwarna hitam. Lalu ia makan sampai kedua benang tersebut kelihatan jelas olehnya sampai akhirnya Allah menurunkan ayat kelanjutannya ’Pada waktu fajar’.</p>
<p style="text-align: justify">Riwayat diatas bercerita tentang seseorang yang menjadikan seutas benang putih dan hitam sebagai tanda mulainya waktu berpuasa. Tidak seperti sekarang kita ini yang menjadikan jadwal imsakiyah sebagai patokan. Lho, emangnya salah kalau jadwal imsakiyah dijadikan patokan?</p>
<p style="text-align: justify">Menurutku, tidak terlalu tepat. Kesimpulan ini aku ambil ketika aku membaca sebuah riwayat dan membaca penafsiran Ibnu Katsir atas ayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">Ibnu Katsir menafsirkan surat al-baqarah ayat 187 mengenai waktu memulai puasa, ”yakni hingga jelas terangnya pagi dari gelapnya malam. Dan untuk menghilangkan kesamaran, maka Allah berfirman ’yaitu fajar’.”</p>
<p style="text-align: justify">Menurutku, penafsiran Ibnu Katsir itu sesuai dengan hadits riwayat Adi bin Hatim RA: Ketika turun ayat: Sehingga nyata bagimu benang yang putih dari benang yang hitam, yaitu fajar, maka Adi bin Hatim berkata kepada Rasulullah Saw: Wahai Rasulullah, sungguh saya meletakkan benang berwarna putih dan benang berwarna hitam di bawah bantalku, sehingga aku dapat mengenali antara waktu malam dan waktu siang hari. Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya bantalmu itu sangat lebar. Sesungguhnya yang dimaksud adalah hitamnya (gelapnya) malam dan putihnya (terangnya) siang pada saat fajar. (Shahih Bukhari No. 1824)</p>
<p style="text-align: justify">Dari Surat Al-Baqarah 187 dan hadits2 diatas, aku berpikiran bahwa waktu untuk memulai puasa adalah ketika langit sudah mulai agak terang atau ketika jelas terangnya pagi dari gelapnya malam. Di Al-Qur’an disebutkan waktu itu adalah waktu fajar atau waktu shalat subuh.</p>
<p style="text-align: justify">Al-Hakim dan al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Ibn Abbas, bahwa Nabi bersabda: &#8220;Fajar itu ada dua; fajar yang di dalamnya haram makanan serta dihalalkan shalat, kedua fajar yang di dalamnya halam makanan dan haram shalat  -Subuh-.&#8221; Dishahihkan al-Albani dalam Shahih Al-Jami&#8217; no. 4279.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam sebuah riwayat disebutkan, &#8220;Fajar ada dua, fajar yang disebut seperti ekor serigala adalah fajar kadzib yang memanjang vertical dan tidak menyebar secara horizontal, yang kedua fajar yang melebar (horizontal) dan bukan vertical.&#8221; Dishahihkan oleh Al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 2002; Shahih al-Jami&#8217;: 4278.</p>
<p style="text-align: justify">Ibn Hazm mengatakan, &#8220;Fajar pertama adalah meninggi ke atas seperti ekor serigala, setelah itu gelap lagi menyelimuti ufuk, tidak mengharamkan makan dan minum bagi orang yang  puasa, belum masuk waktu shalat Subuh. Ini tidak diperselisihkan oleh seorangpun dari umat ini. Fajar kedua, adalah sinar terang yang melebar di langit di ufuk timur di tempat terbitnya  matahari pada setiap masa. Ia berpindah dengan perpindahannya (matahari), ia merupakan permulaan cahaya Subuh, dan semakin terang, barangkali dicampuri dengan semburat merah yang indah. Inilah yang menjelaskan masuknya waktu puasa, dan adzan shalat Subuh. Adapun masuknya waktu shalat terjadi dengan semakin terangnya, maka ini tidak diperselisihkan oleh seorangpun.&#8221; (Al-Muhalla, 3/192)</p>
<p style="text-align: justify">Dari dalil-dalil ini, menjadi jelas bagi kita kapan waktu fajar shadiq. Kita bisa mengenalinya dengan sinar terang yang menyebar di langit. Agar sinar terang ini menjadi jelas, dan kita mengetahui kapan ulama terdahulu shalat, mari kita baca penjelasan Ibn Jarir At-Thabari tentang sifat atau karakter sinar terang tersebut. Ia mengatakan,</p>
<p style="text-align: justify">&#8220;Sifat sinar Subuh yang terang itu, ia menyebar dan meluas di langit, sinarnya (terangnya) dan cahayanya memenuhi dunia hingga memperlihatkan jalan-jalan menjadi jelas.&#8221; (Tafsir At-Thabari, 2/167).</p>
<p style="text-align: justify">Mari sejenak kita cocokkan waktu adzan subuh menurut jadwal imsakiyah dengan ketentuan yang ada dalam ayat Al-Qur’an, hadits, serta pendapat ulama diatas.</p>
<p style="text-align: justify">Aku mendapati bahwa waktu adzan subuh menurut jadwal imsakiyah jauh lebih cepat ketimbang waktu yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p style="text-align: justify">Menurut Nabi, waktu memulai puasa adalah ketika jelas ”terangnya siang” atau dalam riwayat lain ”terangnya pagi”, dari ”gelapnya malam”. Dalam arti lain bahwa kita memulai puasa ketika langit sudah agak terang. Sedangkan pada waktu memulai puasa atau waktu subuh menurut jadwal imsakiyah, langit masih dalam keadaan gelap. Bisa dikatakan disini bahwa waktu mulai berpuasa menurut Al-Qur’an dan waktu memulai puasa menurut jadwal imsakiyah, berbeda. Mau ikut yang mana hayo?</p>
<p style="text-align: justify">Jadi, waktu shalat subuh atau shalat fajar adalah waktu untuk memulai puasa. Dan itu adalah ketika mulai jelas terangnya pagi dari gelapnya malam. Atau dalam kata lain, langit sudah mulai terang.</p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><strong>Waktu Berbuka Puasa</strong></p>
<p style="text-align: justify">Aku juga tidak sepakat dengan waktu maghrib menurut jadwal imsakiyah. Waktu maghrib menurut jadwal imsakiyah sering kali dijadikan patokan waktu untuk berbuka puasa. Betulkah hal itu dijadikan patokan?</p>
<p style="text-align: justify">Menurut surat Al-Baqarah ayat 187 bahwa waktu berbuka puasa adalah:</p>
<p style="text-align: justify">”…Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…”</p>
<p style="text-align: justify">Waktu berbuka puasa menurut Al-Qur’an adalah ketika datangnya malam. Apa tanda-tandanya?</p>
<p style="text-align: justify">Untuk menafsirkan ayat ini, jauh lebih aman jika kita menggunakan hadits untuk menafsirkannya.</p>
<p style="text-align: justify">Memang betul bahwa Nabi pernah berkata bahwa manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. (Shahih Bukhari dan Muslim). Tetapi bukan berarti kita berbuka bukan pada waktunya.</p>
<p style="text-align: justify">Hadits riwayat Umar RA, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: Ketika malam datang, siang pergi dan matahari pun terbenam, maka saat itulah orang yang berpuasa mulai berbuka. (Shahih Muslim, Hadits No. 1841).</p>
<p style="text-align: justify">Jadi, waktu berbuka puasa itu ketika malam datang, siang pergi dan matahari terbenam. Waktu berpuasa bukan ketika sudah masuk waktu yang ditentukan dalam jadwal Imsakiyah.</p>
<p style="text-align: justify">Tapi riwayat di Shahih Muslim diatas belum menjelaskan secara detail kapan waktu berbuka puasa.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam riwayat Shahih Bukhari, disebutkan dengan jelas waktu berbuka puasa.</p>
<p style="text-align: justify">Umar bin Khattab dari ayahnya, ia berkata: ”Rasulullah bersabda: ’Apabila malam datang dari sini dan siang berlalu dari sini, sedang matahari telah terbenam, maka sesungguhnya orang yang berpuasa boleh berbuka.’”</p>
<p style="text-align: justify">Diatas, ada kata-kata ”malam datang dari sini dan ”siang berlalu dari sini”. Apa maksudnya ini?</p>
<p style="text-align: justify">Menurutku, maksudnya ”malam datang dari sini” adalah malam datang dari sebelah timur. Langit disebelah timur sudah mulai menggelap. Sedangkan ”Siang berlalu dari sini”, maksudnya adalah siang berlalu dari sebelah barat. Pada langit sebelah barat terdapat rona merah.</p>
<p style="text-align: justify">Waktu berbuka puasa menurut riwayat diatas bahwa ketika langit disebelah timur, mega merah mulai menghilang, walaupun langit di sebelah barat masih terdapat mega merah.</p>
<p style="text-align: justify">Lagi-lagi, ketika aku cocokkan dengan waktu imsakiyah, ternyata berbeda. Ketika adzan maghrib berkumandang (menurut waktu jadwal imsakiyah), langit di sebelah timur masih terang. Tanda-tanda datangnya malam belum tampak.</p>
<p style="text-align: justify">Jadi, masihkah kita berpatokan pada jadwal imsakiyah? Ya itu sih terserah Anda. Aku tidak berani mengatakan bahwa pendapatku ini yang paling benar. Hanya Allah-lah yang lebih mengetahui siapa-siapa yang berada pada jalan kebenaran. (An-Nahl ayat 125).</p>
<p style="text-align: justify">


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pbhmi.org/ilham-dan-wahyu-dalam-terjemahan/' rel='bookmark' title='Permanent Link: ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan'>ILHAM dan WAHYU Dalam Terjemahan</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/kritik-atas-waktu-memulai-puasa-dan-waktu-berbuka-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->