<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengurus Besar Blogger Himpunan Mahasiswa Islam &#187; Wacana</title>
	<atom:link href="http://pbhmi.org/category/wacana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pbhmi.org</link>
	<description>Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan Mahasiswa, Info HMI dan Ideologi Islam</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 Oct 2011 04:16:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Siapakah Pembuat Ricuh Saat Nabi Sakit?</title>
		<link>http://pbhmi.org/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 10:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlulsunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Hujjah]]></category>
		<category><![CDATA[Hakekat]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah]]></category>
		<category><![CDATA[Tragedi Kamis Kelabu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasser Arafat Tulisan ini berkaitan dengan isu tragedi kamis kelabu yang menimpa Rasulullah Sawaw. Dulu pada awal-awal semester kuliah, saya pernah menerbitkan sebuah buletin dakwah dan pernah memuat tulisan tentang tragedi kamis kelabu ini. Tanpa disangka buletin dengan penampilan seadanya, dapat memunculkan reaksi yang begitu hebat dari sebagian orang yang tidak sepakat dengan tulisan-tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: <a href="http://ressay.wordpress.com/2010/01/28/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/" target="_blank">Yasser Arafat</a></strong></p>
<p>Tulisan ini berkaitan dengan isu tragedi kamis kelabu yang menimpa Rasulullah Sawaw. Dulu pada awal-awal semester kuliah, saya pernah menerbitkan sebuah buletin dakwah dan pernah memuat tulisan tentang tragedi kamis kelabu ini. Tanpa disangka buletin dengan penampilan seadanya, dapat memunculkan reaksi yang begitu hebat dari sebagian orang yang tidak sepakat dengan tulisan-tulisan di buletin yang saya buat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify">Sebagai reaksi atas buletin saya, ada sebagian orang yang kemudian membuat buletin baru yang bernama <strong>Al-Hujjah yang pernah mengaku sebagai Ahlulsunnah</strong> dan tulisannya khusus untuk membantah setiap tulisan yang dimuat di buletin saya. Salah satunya ialah tulisan tentang Tragedi Kamis Kelabu.<span id="more-530"></span></p>
<p style="text-align: justify">Di blog ini, sudah pernah saya bahas, antara lain:</p>
<p style="text-align: justify"><strong><a href="http://ressay.wordpress.com/2007/03/31/oh%E2%80%A6kamis-kelabu/" target="_blank">Kamis Kelabu I</a> </strong>dan <strong><a href="http://ressay.wordpress.com/2007/04/10/ohkamis-kelabu-ii/" target="_blank">Kamis Kelabu II</a></strong></p>
<p style="text-align: justify">Dalam salah satu tulisannya, buletin Al-Hujjah pernah menulis bahwa saat Nabi sedang sakit keras, beliau meminta dibawakan kertas dan tinta agar Nabi dapat menuliskan wasiatnya agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat, Umar berkata: Nabi sedang sakit keras dan Al Qur’an ada di tengah kalian, cukup bagi  kami kitab Allah. Setelah Umar berkata seperti itu, terjadilah perdebatan diantara orang-orang yang ada, yang kemudian menyebabkan Nabi mengusir mereka semua.</p>
<p style="text-align: justify">Persoalannya ialah, siapakah yang berdebat dan membuat kericuhan itu? Menurut Buletin Al-Hujjah, mereka yang berbuat kericuhan dihadapan Nabi ialah<strong> Ahlulbayt</strong>. Mereka berangkat dari riwayat:</p>
<blockquote><p>قال هلم أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده قال عمر إن النبي صلى الله عليه وسلم  غلبه الوجع وعندكم القرآن فحسبنا كتاب الله <strong><span style="text-decoration: underline">واختلف أهل البيت</span></strong> اختصموا فمنهم من يقول قربوا يكتب لكم رسول الله صلى الله عليه وسلم كتابا  لن تضلوا بعده ومنهم من يقول ما قال عمر فلما أكثروا اللغط والاختلاف عند  النبي صلى الله عليه وسلم قال قوموا عني . قال عبيد الله فكان بن عباس يقول  إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى الله عليه وسلم وبين أن  يكتب لهم ذلك الكتاب من اختلافهم ولغطهم ) . البخاري حديث رقم : 6932 كتاب  الاعتصام بالكتاب والسنة / باب كراهية الاختلاف</p>
<p>Nabi bersabda: mari  aku tuliskan bagi kalian tulisan yang kalian tidak akan sesat jika  mengamalkannya, Umar berkata: Nabi sedang sakit keras dan Al Qur’an ada  di tengah kalian, cukup bagi kami kitab Allah, <span style="text-decoration: underline"><strong>lalu Ahlul Bait  berselisih dan bertengkar</strong></span>, sebagian dari mereka mengatakan: dekatkan  pena pada Nabi agar Nabi menulis wasiat yang kalian tidak akan sesat  selamanya, sebagian lagi mengatakan seperti ucapan Umar. ketika mereka  ribut dan berselisih di depan Nabi, Nabi bersabda: pergi kalian dari  sini. Ubaidillah berkata: Ibnu Abbas mengatakan benar-benar musibah,  yaitu perselisihan dan keributan mereka hingga menghalangi Nabi dari  menulis wasiat. Shahih Bukhari Kitab I’tisham bil Kitab Was Sunnah, Bab  Karahiyatil Ikhtilaf</p></blockquote>
<p style="text-align: justify">Kalimat yang saya cetak tebal, baik yang bahasa arab maupun bahasa indonesia, mereka tafsirkan bahwa yang membuat kericuhan ialah Ahlulbayt Nabi dalam pengertian orang-orang syi&#8217;ah.</p>
<p style="text-align: justify">Seperti kita ketahui bersama bahwa orang-orang syi&#8217;ah berkeyakinan bahwa Ahlulbayt Nabi adalah orang-orang yang telah disucikan oleh Allah dalam surat 33 ayat 33 dan ketaatan kepada Ahlulbayt Nabi merupakan manifestasi dari ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p style="text-align: justify">Menurut Al-Hujjah, aneh betul Ahlulbayt yang katanya sudah disucikan dan diwajibkan taat kepada mereka, kok malah membuat Nabi marah dan mengusir mereka. Ahlulbayt berdebat di depan Nabi sedangkan tidak boleh berdebat dihadapan Nabi.</p>
<p style="text-align: justify">Pendapat Al-Hujjah ini ternyata diamini oleh <strong>pemilik website hakekat.com. yang juga pernah mengaku sebagai Ahlulsunnah</strong>. Dalam salah satu <a href="http://hakekat.com/content/view/61/1/" target="_blank">tulisannya</a>, website hakekat.com menulis:</p>
<blockquote><p>Akhirnya kita tahu siapa sebenarnya yang menghalangi Nabi menuliskan  wasiat. Seperti selalu diklaim oleh kawan-kawan syiah, ahlulbait adalah  maksum, artinya terpelihara dari dosa. Tetapi ahlulbait yang maksum di  sini malah ribut sendiri, Nabi pun marah dan terhalang dari menuliskan  wasiat.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify">Saya tertarik untuk menanggapi, benarkah Ahlulbayt (dalam pengertian syiah) yang membuat kericuhan pada saat Nabi sakit dan membuat Nabi marah kepada mereka?</p>
<p style="text-align: justify">Sebelumnya, saya harus menyampaikan bahwa riwayat-riwayat yang dijadikan argumen oleh <strong>al-hujjah</strong> maupun <strong>hakekat</strong>, memang benar-benar ada di shahih bukhari. Jadi tidak ada alasan lagi bagi kita untuk meragukan kejujuran al-hujjah dan hakekat dalam menyampaikan argumen mereka.</p>
<p style="text-align: justify">Tetapi ada satu hal yang menarik yang kita dituntut untuk kritis, yaitu persoalan <strong>siapa yang membuat kericuhan itu</strong>. Jelas bahwa al-hujjah dan hakekat menganggap bahwa Ahlulbayt (dalam pengertian syiah) lah yang membuat kericuhan itu. Tetapi apakah benar? Ada baiknya kita menyimak pemahaman kawan-kawan kita dari Ahlulsunnah mengenai riwayat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Riwayat berikut, saya kutipkan dari The Translation of the Meanings Shahih Bukhari, Arabic-English Vol. I, oleh Dr. Muhammad Muhsin Khan, Islamic University, Al-Medina Al-Munawwara:<span style="text-decoration: underline"> (Tentunya Ahlulsunnah)</span><br />
</strong></p>
<blockquote><p>Narated &#8216;Ubaidullah bin &#8216;Abdullah: Ibnu &#8216;Abbas said, &#8220;When the ailment of the Prophet became worse, he said, &#8216;Bring for me (writing) paper and I will write for you a statement after which you will not go astray.&#8217; But &#8216;Umar said, &#8216;The Prophet is seriously ill, and we have got Allah&#8217;s Book with us and that is sufficient for us.&#8217; But <strong><span style="text-decoration: underline">the companions of the Prophet differed about this</span> </strong>and there was a hue and cry. On that the Prophet said to them, &#8216;Go away (and leave me alone). It is not right that you should quarrel in front of me.&#8217;</p>
<p>Ibnu Abbas came out saying, &#8221; It was most unfortunate (a great disaster) that Allah&#8217;s Apostle was prevented from writing that statement for them because of their disagreement and noise.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify">Kalimat yang saya cetak tebal, menunjukkan bahwa <strong>the companions of the Prophet</strong> atau <strong>sahabat Nabi lah yang berbeda pendapat dan berbuat kericuhan.</strong></p>
<p style="text-align: justify">Saya juga pernah membaca tulisan seseorang yang memiliki blog A<strong>LFANARKU yang juga mengaku dirinya sebagai seorang yang bermazhab Ahlulsunnah</strong>. Dalam salah satu <a href="http://alfanarku.wordpress.com/2009/12/23/tragedi-kamis-kelabu-bagian-1/" target="_blank">tulisannya</a> yang juga membahas soal tragedi kamis kelabu, dia menulis:</p>
<blockquote><p><span style="text-decoration: underline"><strong>Mari kita baca Shahih Muslim 3/1257 No.  1637: </strong></span></p></blockquote>
<blockquote>
<p dir="rtl">22 – ( 1637 ) وحدثني محمد بن  رافع وعبد بن حميد ( قال عبد أخبرنا وقال ابن رافع حدثنا عبدالرزاق )  أخبرنا معمر عن الزهري عن عبيدالله بن عبدالله بن عتبة عن ابن عباس قال<br />
Y لما حضر رسول الله صلى الله عليه و سلم وفي <span style="text-decoration: underline"><strong>البيت</strong></span> رجال فيهم عمر ابن  الخطاب فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( هلم أكتب لكم كتابا لا تضلون بعده  ) فقال عمر إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قد غلب عليه الوجع وعندكم  القرآن حسبنا كتاب الله<span style="text-decoration: underline"> <strong>فاختلف</strong> <strong>أهل</strong> <strong>البيت</strong></span> <strong>فاختصموا</strong> <strong>فمنهم</strong> <strong>من</strong> <strong>يقول</strong> قربوا يكتب لكم رسول  الله صلى الله عليه و سلم كتابا لن تضلوا بعده ومنهم <strong>من</strong> <strong>يقول</strong> ما قال عمر فلما أكثروا  اللغو والاختلاف عند رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله  عليه و سلم ( قوموا )<br />
قال عبيدالله فكان ابن عباس <strong>يقول</strong> إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى  الله عليه و سلم وبين أن يكتب لهم ذلك الكتاب <strong>من</strong> اختلافهم ولغطهم<br />
[ ش ( لما حضر ) أي حضره الموت ]</p>
<p><em> </em>
</p>
<p dir="rtl"><em>(3/1257)</em></p>
<p style="text-align: justify"><em>Ibnu Abbas menceritakan : Ketika  ajal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah hampir tiba dan di  dalam rumah beliau ada beberapa orang dan salah satunya adalah Umar bin  Khattab ra. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “kemari,  aku akan menuliskan (mendiktekan) untuk kalian wasiat, agar kalian tidak  sesat setelahnya”. Kemudian Umar berkata : “sesungguhnya Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sakit parah dan di sisi  kalian ada Al-Qur’an, cukuplah Kitabullah untuk kita” <span style="text-decoration: underline"><strong>kemudian  orang-orang yang ada dalam rumah tersebut saling berselisih pendapat</strong></span>. </em><em>Sebagian  berkata, sediakan apa yang diinta oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa  sallam</em><em> Agar beliau menuliskan bagi kamu sesuatu yang  menghindarkan kamu dari kesesatan. Tetapi sebagian lainnya mengatakan  sama sebagaimana</em><em> ucapan Umar. Dan ketika keributan dan  pertengkaran makin bertambah di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa  sallam</em><em>, beliau memerintahkan: “</em><em>Keluarlah kalian dari  sini!” Ubaidullah berkata : Ibnu Abbas selalu berkata : “Itu adalah  musibah yang besar, sungguh sebuah musibah yang besar, disebabkan  pertengkaran dan kegaduhan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  tidak menuliskan (mendiktekan) wasiat untuk mereka”.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Dia menerjemahkan kalimat <span style="text-decoration: underline"><strong>&#8221; فاختلف أهل البيت &#8220;</strong></span> diterjemahkan menjadi<strong> </strong><strong> <span style="text-decoration: underline">&#8220;orang-orang yang ada dalam rumah tersebut saling berselisih pendapat&#8221;.</span></strong></p>
<p style="text-align: justify">Jadi ada saudara-saudara kita dari <strong>Islam Ahlulsunnah yang tetap berpandangan bahwa yang berbuat kericuhan ialah orang-orang yang ada di dalam rumah Nabi saat itu, dalam hal ini adalah Sahabat Nabi.</strong></p>
<p style="text-align: justify">Tetapi di sisi lain, ada orang yang mengaku sebagai Ahlulsunnah berpendapat bahwa Ahlulbayt-lah yang berbuat kericuhan dan membuat Nabi marah. <span style="text-decoration: underline"><strong>Ada baiknya antara Ahlulsunnah berbincang dulu <em>deh</em> soal siapa yang berbuat kericuhan dan membuat Nabi marah.  hehehe&#8230;</strong></span></p>
<p style="text-align: justify">Menurut saya, pendapat pertamalah yang benar, yaitu orang-orang yang ada di dalam rumah Nabi-lah yang berseteru dan membuat kegaduhan di hadapan Nabi sehingga membuat Nabi marah, atau dalam hal ini ialah sahabat Nabi.</p>
<p style="text-align: justify">Setidaknya ada dua alasan bagi saya untuk melakukan verifikasi:</p>
<p style="text-align: justify"><em><strong>Pertama,</strong> </em>Seperti kita ketahui bersama, banyak hadits shahih yang mengabarkan kepada kita bahwa Ahlulbayt Nabi telah disucikan oleh Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 33.  Dan ini sudah pernah saya bahas pada tulisan yang berjudul <a href="http://ressay.wordpress.com/2010/01/04/siapakah-ahlulbayt-dalam-surat-al-ahzab-ayat-33/" target="_blank"><strong>&#8220;Siapakah Ahlulbayt dalam Surat Al-Ahzab ayat 33&#8243;</strong></a>.</p>
<blockquote><p>وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا  تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ  وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ  اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ  تَطْهِيراً</p>
<p><em>dan hendaklah kamu tetap di rumahmu  dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang  Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan  ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak  menghilangkan dosa dari kamu, <strong>hai ahlul bait</strong> dan  membersihkan kamu sebersih-bersihnya. </em><strong>(QS. Al-Ahzab ayat  33)</strong></p>
<p><strong>Dalam Sunan Tirmidzi hadis no  3205 dalam Shahih Sunan Tirmidzi Syaikh Al Albani</strong></p>
<p>عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه  الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس  أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا  فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي  فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال  أنت على مكانك وأنت على خير</p>
<p>Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini  turun kepada Nabi SAW {Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa  dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.} di rumah  Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan  menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau  juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah  Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah  Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka,  Ya Nabi Allah?. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan  kamu dalam kebaikan”.</p></blockquote>
<p>Perihal ini, <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/11/25/al-quran-dan-hadis-menyatakan-ahlul-bait-selalu-dalam-kebenaran/" target="_blank">seorang blogger pernah menulis</a> dengan sangat apik:</p>
<blockquote><p><strong><em>Innama</em></strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong><em> </em></strong>Setelah mengetahui bahwa ayat ini  ditujukan untuk ahlul kisa’(Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah AS, Imam  Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS)  sekarang akan dibahas makna  dari ayat tersebut. Ayat ini diawali dengan kata <em>Innama</em>, dalam  bahasa arab kata ini memiliki makna al hashr atau pembatasan. Dengan  demikian lafal ini menunjukkan bahwa kehendak Allah itu hanya untuk  menghilangkan <em>ar rijs</em> dari Ahlul Bait as dan menyucikan Mereka  sesuci-sucinya. Allah SWT tidak menghendaki hal itu dari selain Ahlul  Bait as dan tidak juga menghendaki hal yang lain untuk Ahlul Bait as.</p>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Yuridullah</em></strong><br />
Setelah kata <em>Innama</em> diikuti kata <em>yuridullah</em> yang  berarti Allah berkehendak, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa iradah  Allah SWT terbagi dua yaitu <em>iradah takwiniyyah</em> dan <em>iradah  tasyri’iyyah</em>. <em>Iradah takwiniyyah</em> adalah iradah Allah yang  bersifat pasti atau niscaya terjadi, hal ini dapat dilihat dari ayat  berikut</p>
<ul style="text-align: justify">
<li><em>“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki  sesuatu hanyalah berkata kepadaNya ‘Jadilah ‘maka terjadilah ia”(QS  Yasin :82)</em></li>
<li><em>“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apanila Kami  menghendakinya,Kami hanya berkata kepadanya ‘Jadilah’maka jadilah ia”(QS  An Nahl :40)</em></li>
<li><em>“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”(QS  Hud:107)<br />
</em></li>
</ul>
<p style="text-align: justify">Sedangkan yang dimaksud <em>Iradah  tasyri’iyah </em>adalah Iradah Allah SWT yang terkait dengan penetapan  hukum syariat bagi hamba-hambanya agar melaksanakannya dengan ikhtiar  mereka sendiri. Dalam hal ini iradah Allah SWT adalah penetapan syariat  adapun pelaksanaannya oleh hamba adalah salah satu tujuan penetapan  syariat itu, oleh karenanya terkadang tujuan itu terealisasi dan  terkadang tidak sesuai dengan pilihan hamba itu sendiri apakah mematuhi  syariat yang telah ditetapkan Allah SWT atau melanggarnya. Contoh iradah  ini dapat dilihat pada ayat berikut:</p>
<ul style="text-align: justify">
<li><em>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)bulan  ramadhan,bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi  manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan  pembeda(antara yang haq dan yang bathil).Karena itu barangsiapa diantara  kamu hadir di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu dan  barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka(wajiblah  baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,pada hari-hari  yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki  kesukaran bagimu.Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan  hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan  kepadamu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Baqarah :185).</em></li>
<li><em>“Hai orang-orang beriman apabila kamu hendak mengerjakan  sholat,maka basuhlah muka dan tanganmu sampai ke siku dan sapulah  kepalamu dan kakimusampai dengan kedua mata kaki dan jika kamu junub  maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali  dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak  memperoleh air,maka bertanyamumlah dengan tanah yang baik(bersih)  sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak  menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan  nikmatnya bagimu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Maidah : 6)<br />
</em></li>
</ul>
<p style="text-align: justify"><em> </em><br />
Iradah dalam <em>Al Baqarah 185 </em>adalah berkaitan dengan <em>syariat  Allah tentang puasa </em>dimana aturan-aturan yang ditetapkan Allah itu  adalah untuk memudahkan manusia dalam melaksanakannya,sehingga iradah  ini akan terwujud pada orang yang berpuasa. Sedangkan yang tidak mau  berpuasa jelas tidak ada hubungannya dengan iradah ini. Begitu juga  Iradah dalam Al Maidah ayat 6 dimana <em>Allah hendak membersihkan  manusia dan menyempurnakan nikmatnya </em>bagi manusia supaya manusia  bersyukur, iradah ini jelas terkait dengan syariat wudhu dan tanyamum  yang Allah tetapkan oleh karenanya iradah ini akan terwujud bagi <em>orang  yang bersuci sebelum sholat dengan wudhu dan tanyamum dan ini tidak  berlaku bagi orang yang tidak bersuci baik dengan wudhu atau tanyamum.</em> Dan perlu ditekankan bahwa iradah tasyri’iyah ini ditujukan pada semua  umat muslim yang melaksanakan syariat Allah SWT tersebut termasuk dalam  hal ini Ahlul Bait as.
</p>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Iradah dalam Ayat tathhiir  adalah iradah takwiniyah dan bukan iradah tasyri’iyah</em></strong> artinya tidak terkait dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan,  tetapi iradah ini bersifat niscya atau pasti terjadi. Hal ini  berdasarkan alasan-alasan berikut</p>
<ol style="text-align: justify">
<li>Penggunaan lafal <em>Innama</em> yang bermakna <em>hashr</em> atau  pembatasan menunjukkan arti bahwa Allah tidak berkehendak untuk  menghilangkan <em>rijs</em> dengan bentuk seperti itu kecuali dari Ahlul  Bait, atau dengan kata lain kehendak penyucian ini terbatas hanya pada  pribadi yang disebut Ahlul Bait dalam ayat ini.</li>
<li>Berdasarkan asbabun nuzulnya ayat ini seperti dalam hadis riwayat  Turmudzi di atas tidak ada penjelasan bahwa iradah ini berkaitan dengan  syariat tertentu yang Allah tetapkan.</li>
<li>Allah memberi penekanan khusus setelah kata kerja <em>liyudzhiba</em>(menghilangkan)  dengan firmannya <em>wa yuthahhirakum tathiira</em>. Dan kata kerja  kedua ini <em>wa yuthahhirakum(menyucikanmu)</em> dikuatkan dengan <em>mashdar  tathiira(sesuci-sucinya)</em>yang mengakhiri ayat tersebut. Penekanan  khusus ini merupakan salah satu petunjuk bahwa iradah Allah ini adalah  iradah takwiniyah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Li yudzhiba </em></strong><strong><em>‘An  kumurrijsa Ahlal bait </em></strong><br />
Kemudian kalimat selanjutnya adalah <em>li yudzhiba ‘an kumurrijsa ahlal  bait</em> . Kalimat tersebut menggunakan kata <em>‘an</em> bukan <em>min. </em>Dalam bahasa Arab, kata <em>’an</em> digunakan untuk sesuatu yang  belum mengenai, sementara kata min digunakan untuk sesuatu yang telah  mengenai. Oleh karena itu, kalimat tersebut memiliki arti untuk  menghilangkan <em>rijs</em> dari  Ahlul Bait (sebelum <em>rijs</em> tersebut mengenai Ahlul Bait), atau dengan kata lain untuk menghindarkan  Ahlul Bait dari <em>rijs</em>. Sehingga jelas sekali, dari kalimat ini  terlihat makna kesucian Ahlul Bait dari <em>rijs.</em> Lagipula adalah  tidak tepat menisbatkan bahwa sebelumnya mereka Ahlul bait memiliki <em>rijs</em> kemudian baru Allah menyucikannya karena Ahlul Bait yang disucikan  dalam ayat ini meliputi Imam Hasan dan Imam Husain yang waktu itu masih  kecil dan belum memiliki <em>rijs</em>.</p>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Ar Rijs</em></strong><br />
Dalam Al Quran terdapat cukup banyak ayat yang menggunakan kata <em>rijs</em>,  diantaranya adalah sebagai berikut.</p>
<ul style="text-align: justify">
<li><em>“Sesungguhny,a (meminum) khamar, berjudi, (berkorban  untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji  (rijs) termasuk perbuatan setan” (QS Al Maidah: 90).</em></li>
<li><em>“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis (rijs) dan jauhilah  perkataan-perkataan dusta” (QS Al Hajj: 30).</em></li>
<li><em>“Dan adapun orang orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka  dengan surat ini bertambah kekafiran (rijs) mereka, di samping  kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (QS  At Taubah: 125).</em></li>
<li><em>“Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah  najis (rijs)” (QS At Taubah: 95).</em></li>
<li><em>“Dan Allah menimpakan kemurkaan (rijs) kepada orang-orang yang tidak  mempergunakan akalnya” (QS Yunus: 100).</em></li>
</ul>
<p style="text-align: justify">Dari semua ayat-ayat ini dapat ditarik  kesimpulan bahwa <em>rijs adalah segala hal bisa dalam bentuk keyakinan  atau perbuatan yang keji, najis yang tidak diridhai dan menyebabkan  kemurkaan Allah SWT. </em></p>
<p style="text-align: justify">Asy Syaukani dalam tafsir <em>Fathul  Qadir</em> jilid 4 hal 278 menulis,</p>
<p style="text-align: justify"><em> “… yang dimaksud dengan rijs ialah dosa yang dapat  menodai jiwa jiwa yang disebabkan oleh meninggalkan apa-apa yang  diperintahkan oleh Allah dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh-Nya.  Maka maksud dari kata tersebut ialah seluruh hal yang di dalamnya tidak  ada keridhaan Allah SWT”. </em></p>
<p style="text-align: justify">Kemudian ia melanjutkan,</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Firman `… dan menyucikan kalian… ‘ maksudnya adalah:  `Dan menyucikan kalian dari dosa dan karat (akibat bekas dosa) dengan  penyucian yang sempurna.’ Dan dalam peminjaman kata rijs untuk arti  dosa, serta penyebutan kata thuhr setelahnya, terdapat isyarat adanya  keharusan menjauhinya dan kecaman atas pelakunya”.</em></p>
<p style="text-align: justify">Lalu ia menyebutkan sebuah riwayat dari  Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath  Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab<em> Ad Dalail </em>jilid  4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda dengan sabda yang panjang, dan pada  akhirnya beliau mengatakan <em>“Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari  dosa-dosa”. (kami telah membahas secara khusus hadis ini di bagaian yang  lain)<br />
</em>
</p>
<p style="text-align: justify">Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam  kitab <em>Ash Shawaiq</em> hal 144-145 berkata,</p>
<p style="text-align: justify"><em>“Ayat ini adalah sumber keutamaan Ahlul Bait, karena  ia memuat mutiara keutamaan dan perhatian atas mereka. Allah  mengawalinya dengan innama yang berfungsi sebagai pengkhususan  kehendakNya untuk menghilangkan hanya dari mereka rijs yang berarti dosa  dan keraguan terhadap apa yang seharusnya diimani dan menyucikan mereka  dari seluruh akhlak dan keadaan tercela.”</em></p>
<p style="text-align: justify">Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab <em>Al  lklil</em> hal 178 menyebutkan bahwa</p>
<p style="text-align: justify"><em>kesalahan adalah rijs, oleh karena itu kesalahan  tidak mungkin ada pada Ahlul Bait.</em></p>
<p style="text-align: justify">Semua penjelasan diatas menyimpulkan  bahwa Ayat tathiir ini memiliki makna bahwa Allah SWT hanya berkehendak  untuk menyucikan Ahlul Bait dari semua bentuk keraguan dan perbuatan  yang tercela termasuk kesalahan yang dapat menyebabkan dosa dan kehendak  ini bersifat takwiniyah atau pasti terjadi. Selain itu penyucian ini  tidak berarti bahwa sebelumnya terdapat rijs tetapi penyucian ini  sebelum semua rijs itu mengenai Ahlul Bait atau dengan kata lain Ahlul  Bait dalam ayat ini adalah pribadi-pribadi yang dijaga dan dihindarkan  oleh Allah SWT dari semua bentuk rijs. Jadi tampak jelas sekali bahwa  ayat ini telah menjelaskan tentang kedudukan yang mulia dari Ahlul Bait  yaitu Rasulullah SAW, Imam Ali as, Sayyidah Fathimah Az Zahra as, Imam  Hasan as dan Imam Husain as. Penyucian ini menetapkan bahwa <strong><em>Mereka  Ahlul Bait senantiasa menjauhkan diri dari dosa-dosa dan senantiasa  berada dalam kebenaran. Oleh karenanya tepat sekali kalau mereka adalah  salah satu dari Tsaqalain selain Al Quran yang dijelaskan Rasulullah SAW  sebagai tempat berpegang dan berpedoman umat islam agar tidak tersesat.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Selain itu, ada juga hadits-hadits Nabi yang berkaitan dengan Ahlulbayt:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify"><em>Ra</em><em>sulullah SAW bersabda. </em><em>“Kutinggalkan  kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), <strong>kitab Allah dan Ahlul BaitKu</strong>.  Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali  kepadaKu di Al Haudh“</em><strong><em> <strong>(Mustadrak As Shahihain  Al Hakim juz III hal 148 </strong></em></strong>Al Hakim menyatakan  dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan  syarat Bukhari dan Muslim).</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify"><strong>Jadi, Ahlulbayt Nabi, dalam artian orang-orang yang sudah disucikan oleh  Allah dari segala kenistaan dan dosa, tidak mungkin berdebat dihadapan  Nabi sehingga membuat Nabi marah. Suatu hal yang mustahil Ahlulbayt Nabi berdebat di hadapan Nabi sehingga membuat Nabi marah kepada mereka. Karen Ahlulbayt Nabi telah dijauhkan oleh Allah dari segala perbuatan nista dan dosa serta diperintahkan oleh Nabi untuk diikuti setelah Al-Qur&#8217;an.</strong></p>
<p style="text-align: justify"><strong><em>Kedua, </em></strong>mari kita lihat kalimat awal dari riwayat tragedi kamis kelabu diatas.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify">لما حضر رسول الله صلى الله عليه و سلم وفي <span style="text-decoration: underline"><strong>البيت</strong></span> رجال فيهم  عمر ابن  الخطاب</p>
<p style="text-align: justify"><em>Ketika  ajal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah hampir  tiba dan <span style="text-decoration: underline"><strong>di  dalam rumah beliau</strong></span> ada beberapa orang&#8230;</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify">Jadi ada kata <span style="text-decoration: underline"><strong>البيت</strong></span> pada kalimat awal dari riwayat tragedi kamis kelabu tersebut, yang mana itu mengisahkan bahwa saat Nabi sakit, ada beberapa orang di dalam rumah Nabi. Dan tentunya, orang-orang yang ada di dalam rumah Nabi disebut <span style="text-decoration: underline"><strong>أهل</strong> <strong>البيت.</strong></span> Jadi, kata<strong> </strong><span style="text-decoration: underline"><strong>أهل</strong> <strong>البيت</strong></span><strong> </strong>dalam kalimat <span style="text-decoration: underline"><strong>فاختلف</strong> <strong>أهل</strong> <strong>البيت</strong></span><strong> </strong>merujuk pada orang-orang yang ada di rumah Nabi tersebut, bukan kepada Ahlulbayt dalam pengertian orang-orang yang telah disucikan oleh Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Jadi apa yang jadi pendapat Al-Hujjah dan Hakekat.com hanyalah mengada-ada saja. Jangan kita terkecoh dengan hal-hal yang terkesan ilmiah. Padahal jika kita ingin sedikit saja kritis, kita akan mendapati kejanggalan-kejanggalan di dalamnya. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/siapakah-pembuat-ricuh-saat-nabi-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opini publik sebagai hukuman sosial</title>
		<link>http://pbhmi.org/opini-publik-sebagai-hukuman-sosial/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/opini-publik-sebagai-hukuman-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 10:44:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alumni]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Buaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cicak]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[HMI Cabang Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Nurudin]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[Publik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nurudin Kasus “Cicak vs Buaya” menjadi semakin ruwet. Keruwetan ini muncul setelah menyeret banyak pihak yang terkait. Kasus itu semakin mendapat perhatian masyarakat luas setelah dengar pendapat Komisi III DPR dengan Kapolri beberapa waktu lalu. Terungkap, Kapolri membela dan ingin mengembalikan kewibawaan institusi Polri, Susno Duadji (mantan Kabareskrim) merasa tidak terlibat dalam kasus itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><strong><span style="font-size: 12px">Oleh: </span><span style="font-size: 12px">Nurudin</span></strong></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Kasus “Cicak vs Buaya” menjadi semakin ruwet. Keruwetan ini muncul setelah menyeret banyak pihak yang terkait. Kasus itu semakin mendapat perhatian masyarakat luas setelah dengar pendapat Komisi III DPR dengan Kapolri beberapa waktu lalu. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Terungkap, Kapolri membela dan ingin mengembalikan kewibawaan institusi Polri, Susno Duadji (mantan Kabareskrim) merasa tidak terlibat dalam kasus itu, bahkan sampai bersumpah sekalipun. Sementara dalam rekaman yang diungkap di Mahkamah Konstitusi (MK), nama dia justru sering disebut. Pertanyaannya adalah apakah Anggodo sedang melakukan “dramatisasi” sebuah perkara?<span id="more-523"></span> </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Sementara itu, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah juga mengatakan tidak pernah menerima suap. Lalu, siapa yang bersalah dan siapa yang benar?</span></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px"><strong>Peran media massa<br />
</strong>Berbagai rentetan peristiwa di atas kemudian diberitakan oleh media massa (cetak dan elektronik). Rentetan peristiwa itu kemudian diikuti oleh opini-opini yang dibangun di atas fakta-fakta yang berasal dari opini narasumber. Jadi, media massa memberitakan fakta-fakta yang berasal dari pendapat para narasumber tertentu atas fakta perseteruan antara “Cicak vs Buaya”. </span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Jika opini-opini itu diberitakan oleh media massa, pengaruhnya juga sampai ke pembaca, penonton atau pendengarnya – sebut saja audiens. Jika audiens tersebut terpengaruh oleh pemberitaan dari media massa itu, jadilah yang disebut dengan public opinion (opini publik). </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Opini publik adalah opini yang berkembang karena pengaruh pemberitaan dari media massa, meskipun ada juga opini publik yang bisa dibangun bukan dari media massa. Masalahnya, media massa mempunyai kekuatan untuk memperkuat dan mempercepat tersebarnya sebuah opini. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Publik hanya mereaksi dari apa yang diakses audiens lewat media massa. Dalam posisi ini, opini bisa berkembang dengan baik atau tidak sangat tergantung dari pemberitaan apa yang disiarkan media massa itu.<br />
</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Tak heran, jika opini publik bisa disebabkan oleh dua hal, direncanakan (planned opinion) dan tidak direncanakan (unplanned opinion). Opini publik yang direncanakan dikemukakan karena memang ada sebuah rencana tertentu yang disebarkan media massa agar menjadi opini publik. Ia mempunyai organisasi, kinerja dan target yang jelas. Misalnya, opini yang sengaja dibuat oleh elite politik tertentu bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. Ide ini dikemukakan di media massa secara gencar dengan perencanaan matang.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Lain halnya dengan opini publik yang tidak direncanakan. Ia muncul dengan sendirinya tanpa rekayasa. Media hanya sekadar memuat sebuah peristiwa yang terjadi, kemudian diperbincangkan di tengah masyarakat. Dalam posisi ini, media massa hanya mengagendakan sebuah peristiwa dan memberitakannya, hanya itu. Ia kemudian menjadi pembicaraan publik karena publik menganggap isu itu penting untuk diperbincangkan. Karena menjadi pembicaraan di masyarakat, media massa kemudian memberi penekanan tertentu atas sebuah isu. Akhirnya, ia menjadi opini publik juga. </span></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px"><strong>Tahapan opini publik</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Untuk menjadi opini publik, kemunculannya melalui berbagai proses yang tidak gampang dan singkat. Ferdinand Tonnies (Nurudin, 2001:56-57) dalam bukunya Die Offentlichen Meinung pernah mengungkapkan bahwa opini publik terbentuk melalui tiga tahapan; pertama, die luftartigen position. Pada tahap ini, opini publik masih semrawut seperti angin ribut. Masing-masing pihak mengemukakan pendapatnya berdasarkan pengetahuan, kepentingan, pengalaman dan faktor lain untuk mendukung opini yang diciptakannya. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Kedua, die fleissigen position. Pada tahap ini, opini publik sudah menunjukkan ke arah pembicaraan lebih jelas dan bisa dianggap bahwa pendapat-pendapat tersebut mulai mengumpul ke arah tertentu secara jelas. Artinya, sudah mengarah, mana opini mayoritas yang akan mendominasi dan mana opini minoritas yang akan tenggelam. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Ketiga, die festigen position. Pada tahap ketiga ini, opini publik telah menunjukkan bahwa pembicaraan dan diskusi telah mantap dan suatu pendapat telah terbentuk dan siap untuk dinyatakan. Dengan kata lain, siap untuk diyakini kebenarannya setelah melalui perdebatan dan perbedaan pendapat yang tajam sebelumnya.</span></p>
<p style="text-align: justify">
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px"><strong>Menunggu ending</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Perseteruan antara KPK dengan Polri jelas akan berdampak luar biasa bagi masyarakat. Tidak saja karena melibatkan dua institusi yang seharusnya memberikan contoh penegakan hukum, tetapi sudah mengarah pada gengsi antar lembaga. Polisi gengsi dan harus membela diri karena (merasa) dipojokkan, sementara itu KPK bisa menjadi besar kepala karena merasa didukung semua elemen masyarakat (demonstrasi, Facebook dan dukungan lain). </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Namun, perseteruan ini menyisakan persoalan karena semakin membuat ruwet opini yang berkembang di masyarakat. Pihak kepolisian membela diri, sementara KPK juga tidak jauh berbeda. Masyarakat yang tidak kritis tentu akan menelan mentah-mentah berita-berita yang berasal dari media massa. Jika begini, media massa harus punya agenda mendasar untuk memberikan perspektif cerdas berkaitan dengan persoalan itu. Misalnya, media massa tentu tidak pada tempatnya ikut-ikutan membela kepolisian gara-gara kebanyakan anggota Komisi III beberapa waktu lalu cenderung membela Polri. Perhelatan dengar pendapat bak sebuah dagelan politik. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Semakin ruwet persoalan tersebut di atas, jika dikaitkan dengan pembentukan opini publik, bisa masuk dalam tahapan pertama yakni opini publik masih semrawut sebab masing-masing pihak yang bertikai saling merasa benar sendiri dan cenderung menyalahkan pihak lain. Yang jelas, kepentingan masing-masing pihak sangat transparan. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Soal bagaimana ending (akhir) “drama politik” terbesar tahun ini, biarlah isu itu terus bergulir. Biarlah nanti opini publik melalui tahapan selanjutnya. Biarlah media massa punya agenda tersendiri tanpa campur tangan kepentingan pihak-pihak lain. Dan akhirnya, biarlah masyarakat menilai mana pihak yang benar, mana pihak yang salah. Opini publik seperti itu akan memberikan pelajaran berharga, betapa setiap kejahatan saat ini akan menjadi sorotan masyarakat karena semua kejadian bisa diekspos media massa. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Barangkali, dukungan masyarakat atas KPK dan cenderung memojokkan Polri menjadi puncak gunung es kekecewaan perilaku masyarakat atas anggota Polri selama ini – lepas dari siapa nantinya yang bersalah. Dari sini, semua pihak tentu harus berpikir jernih dan cerdas. Mereka boleh melakukan apa saja, tetapi opini publik masyarakat tidak bisa direkayasa, apalagi mereka dibohongi. Biarlah opini publik menjadi hukuman sosial (social punishment) atas keserakahan mereka. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px"><strong>Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),  penulis buku Jurnalisme Masa Kini, Alumni HMI Cabang Surakarta<br />
</strong></span>
</p>
<p style="text-align: justify">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/opini-publik-sebagai-hukuman-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Republik Facebook</title>
		<link>http://pbhmi.org/republik-facebook/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/republik-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 18:34:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ressay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[Bibit-Chandra]]></category>
		<category><![CDATA[Eko Setiawan]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[FISIP UNS]]></category>
		<category><![CDATA[HMI Cabang Surakarta]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eko Setiawan Mengemukanya kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri beberapa waktu terakhir memang cukup menghebohkan masyarakat luas. Hampir semua orang menaruh perhatian lebih pada kasus ini. Puncaknya adalah ketika dua pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah ditahan oleh polisi. Berubah-ubahnya tuduhan terhadap Bibit-Chandra, mulai dari tuduhan penerimaan suap sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Oleh : <strong>Eko Setiawan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><em><span style="font-size: 12px">Mengemukanya kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri beberapa waktu terakhir memang cukup menghebohkan masyarakat luas. Hampir semua orang menaruh perhatian lebih pada kasus ini. Puncaknya adalah ketika dua pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah ditahan oleh polisi. </span></em></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Berubah-ubahnya tuduhan terhadap Bibit-Chandra, mulai dari tuduhan penerimaan suap sampai tuduhan penyalahgunaan wewenang mengusik rasa percaya masyarakat terhadap institusi kepolisian. Sebaliknya, empati dan dukungan diberikan kepada KPK. Lembaga antikorupsi ini dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan institusi kepolisian.<span id="more-504"></span></span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Ditahannya Bibit-Chandra semakin meningkatkan rasa empati masyarakat kepada KPK sekaligus membuncahnya rasa jengkel kepada institusi Polri. Apalagi setelah terungkapnya rekaman antara Anggodo Widjojo dengan beberapa oknum di Polri dan Kejakgung semakin meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat kepada kedua institusi penegak hukum itu.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Dukungan pun terus mengalir kepada Bibit-Chandra dan KPK. Tidak terkecuali di dunia maya. Beberapa grup di Facebook dibentuk sebagai realisasi dukungan kepada KPK. Seperti grup 1.000.000 dukungan kepada Bibit-Chandra yang dibentuk 29 Oktober 2009. Grup ini sampai sekarang telah menembus angka satu juta pendukung yang ditargetkan.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Keefektifan Facebook sebagai salah satu bentuk perlawanan memang menjadi fenomena baru di era teknologi. Jika dulu dukungan masyarakat diwujudkan dalam demonstrasi jalanan, saat ini dunia maya menjadi pilihan alternatif yang dipandang lebih elegan. Dukungan lewat cyberspace ini memang tak bisa dipandang sebelah mata. Kemenangan Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, beberapa waktu silam, membuktikan itu. Di Indonesia, kasus Prita Mulyasari versus RS Omni International, beberapa bulan lalu, juga mendapat dukungan luas dari masyarakat lewat situs jejaring sosial ini.<br />
Komunitas virtual</span>
</p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Facebook diluncurkan pertama kali pada 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Universitas Harvard. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Kehadiran Facebook mau tidak mau, suka tidak suka, memang telah menciptakan sebuah ruang publik (public space) baru. Bersamaan dengan itu, konsekuensi logisnya adalah lahirnya komunitas virtual (virtual community) dalam masyarakat. Berbeda dengan komunitas tradisional yang memiliki keterikatan dengan ruang sosial, komunitas virtual tidak memiliki ruang sosial dalam arti tempat yang konkret dan nyata. Bisa dikatakan komunitas virtual memiliki ruang tetapi tak memiliki tempat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Ketidakhadiran tempat yang konkret pada komunitas virtual membuat komunitas ini seolah tidak terikat nilai-nilai sosial yang biasanya hadir pada komunitas tradisional. Jika pada komunitas tradisional dikenal adanya konvensi sosial (adat, hukum, aturan main), lembaga hukum dan pemimpin (ruler) maka komunitas virtual menafikan itu semua.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Pada komunitas virtual, semua orang seolah menjadi pemimpin, pengontrol dan penilai diri sendiri. Rheingold (1994) menyebutkan internet bisa menciptakan model komunitas yang demokratis dan terbuka. Namun apa jadinya jika komunitas demokratis ini malah berkembang menjadi komunitas “demokratis radikal”. Hal ini tentu sangat berbahaya jika komunitas virtual betul-betul menjadi sebuah komunitas yang tidak terkontrol. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Posisi KPK dalam kisruh KPK versus Polri misalnya, dalam kisruh ini KPK mendapat dukungan penuh dari komunitas virtual jejaring sosial Facebook. Suara facebookers (pengguna Facebook) seolah menggambarkan KPK mendapat legitimasi dukungan rakyat sepenuhnya. Namun jika dilihat lebih jauh, dukungan dari komunitas facebookers tidaklah bisa menjadi acuan dalam melihat representasi dari dukungan rakyat. Sebab facebookers bukanlah sebuah institusi resmi yang memiliki legitimasi rakyat.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Dengan demikian, menjadikan komunitas virtual sebagai parlemen “online” atau kekuatan politik baru, jelas butuh kajian lebih mendalam. Dibutuhkan sebuah regulasi atau institusi yang bisa melekatkan nilai-nilai sosial pada komunitas virtual. Jika kita memang ingin menjadikan komunitas virtual sebagai salah satu referensi dalam menentukan arah kebijakan bangsa ini ke depannya.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Hal yang jauh lebih penting sebenarnya adalah menyembuhkan disfungsi lembaga-lembaga negara penyampai aspirasi rakyat. Hadirnya Facebook sebagai sebuah komunitas virtual yang menyuarakan dukungan masyarakat terhadap isu tertentu menunjukkan lembaga negara yang seharusnya menjalankan fungsi itu, benar-benar mandul.</span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px">Republik ini membutuhkan institusi yang lebih konkret dan lembaga yang punya akseptibilitas dan kapabilitas lebih dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Selain itu, republik ini jelas memerlukan bentuk society yang lebih nyata untuk mereformasi sistem atau institusi hukum negeri ini. Kita tentu tak ingin melihat republik ini berubah menjadi Republik Facebook. Republik yang meletakkan representasi suara publik pada komunitas virtual. Komunitas yang tidak lekat dengan nilai-nilai sosial yang bisa dipertanggungjawabkan. </span></p>
<p style="text-align: justify"><span style="font-size: 12px"><strong><em> Mahasiswa FISIP UNS Solo dan Sekretaris Umum HMI Cabang Surakarta Komisariat FISIP UNS</em></strong></span></p>
<p style="text-align: justify"><strong>Dimuat di Harian Solopos, Selasa 10 November 2009</strong></p>
<p style="text-align: justify">http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h37&amp;id=294422</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/republik-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ulama, Intelektual Tukang dan Negara</title>
		<link>http://pbhmi.org/ulama-intelektual-tukang-dan-negara/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/ulama-intelektual-tukang-dan-negara/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 14:48:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Satria Nugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[desakralisasi]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual tukang]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[sekular]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman secara vulgar sering menyalahkan Islam atas berbagai keadaan buruk yang menimpa Indonesia. Menurutnya, Islam adalah biang keladi dari segala macam yang terjadi di Indonesia. Saya tidak heran setelah sekian banyak propaganda hitam atas Islam, banyak orang yang berpandangan demikian. Hal itu terjadi bukan tanpa sebab. Dan dia memiliki alasan untuk berfikir seperti itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang teman secara vulgar sering menyalahkan Islam atas berbagai keadaan buruk yang menimpa Indonesia. Menurutnya, <strong>Islam adalah biang keladi dari segala macam yang terjadi di Indonesia</strong>.</p>
<p>Saya tidak heran setelah sekian banyak propaganda hitam atas Islam, banyak orang yang berpandangan demikian. Hal itu terjadi bukan tanpa sebab. Dan dia memiliki alasan untuk berfikir seperti itu.</p>
<p>Pun saya tidak perbah bermaksud untuk mengklarifikasi penilaiannya. Biarkan saja siempunya itu berfikir demikian.</p>
<p><span id="more-285"></span><img class="alignleft" style="margin: 10px;" title="Ulama, Negara dan Intelektual Tukang" src="http://i243.photobucket.com/albums/ff318/sayasatria/AngelinaJolieinShalwarKameezpreview.jpg" alt="" width="215" height="301" />Kenyataannya, kita memiliki ulama yang memandang bahwa <strong>aurat itu hanya ada pada wanita</strong>. Dan karenanyalah wanita selalu menjadi objek dakwah, terutama masalah aurat.</p>
<blockquote><p><em>Karena perbankan, birokrasi dan pendidikan, serta berbagai macam bidang yang masih memerlukan perhatian di Negara kita ini tidak perlu ditutup auratnya.</em></p></blockquote>
<p>Korupsi, pelarian asset, dan perekonomian itu tidak punya aurat. Setidaknya itulah yang saya tangkap jika melihat gelagat ulama yang tidak kunjung memberikan pengarahan pada permasalahan-permasalahan sosial.</p>
<h3><span style="color: #008000;"><strong>Ulama di kangkangi Negara?</strong></span></h3>
<p>Saya tidak mau menyebutkannya begitu, namun si kawan berfikir seperti itu. Mencoba memahami bagaimana dia berfikir, saya bertanya: <em>mengapa?</em></p>
<p>Jawabannya ketus. Karena mereka melihat berbagai permasalahan ini timbul dari masalah individual. <strong>Jika orang miskin maka itu karena dia adalah pemalas</strong>. Mereka gagal mempereteli jeroan jejaring kuasa negara dalam menghambat proses pergerakan vertikal masyarakat.</p>
<p>Saat pendidikan ini menjadi hak setiap anak bangsa, <strong>kemana ulama saat terjadi privatisasi dan wacana BHP ditiupkan?</strong> Saat orang menjadi pengemis, maka tindakannya itu haram. Ok, kemiskinan dekat dengan kekafiran, namun di negara kita ini, <strong>terlalu naïf untuk menilai sabab musabab dari kemiskinan adalah kemalasan</strong>, sambil mengabaikan sistem yang memiskinkan.</p>
<p><strong>Pendidikan dan ekonomi tak punya aurat, maka tak perlu ditutupi</strong>. Padahal, saat pengemis dihukum atas kemiskinannya, sang teman menghina keras, ini <strong><em>blaming the victim</em></strong>. Wong korban kok dihukum. Miskin itu korban, siapa yang mau miskin?</p>
<blockquote><p><em>Mau kaya harus berpendidikan, mau berpendidikan harus bayar mahal.</em></p></blockquote>
<p>Apalah merdeka jika kampus dan sekolah adalah milik priyayi. <em>Apa ini jaman londo? </em>Katanya kesal. Hmm… bahasamu saja yang kurang di ayak, kataku dalam hati, akalmu agak <em>kinclong </em>juga.</p>
<h3><span style="color: #008000;">Terpisah dengan sengaja</span></h3>
<p>Maka tak salah jika ini disebut sebagai sekuler. <strong>Sekuler itu bukan orang yang ingin mewacanakan desakralisasi lembaga agama</strong>. Sekuler itu adalah <strong>perkerjaan para ulama untuk hanya mengurusi masalah aurat personal ketimbang aurat sosial</strong>. Fokus mengurusi masalah pribadi dan mengabaikan masalah masyarakat.</p>
<p>Membiarkan masyarakat berfikir bahwa masalah pribadi mereka adalah semata-mata kesalahannya sendiri, membuatnya frustasi dan gantung leher karena tidak bisa bayar SPP.</p>
<p><strong>Lembaga agama tidak sakral dan tidak tabu</strong>. Baik itu lembaga tempat <em>kongkow-kongkow</em>nya ulama, atau juga <a title="Organisasi intelektual muslim" href="http://pbhmi.org/">organisasi intelektual muslim</a> seperti HMI. Jika <a title="HMI" href="http://pbhmi.org/tag/hmi/"><strong>HMI</strong></a> hanya menghasilkan intelektual tukang dengan hasrat merapat kepada kekuasaan lebih besar daripada upaya untuk melakukan transformasi intelektual kepada masyarakat, maka dia sama saja. Pada akhirnya hanya menjadi intelektual tukang…</p>
<p>Sedih? Ya sedikit. Hanya yakin kawan-kawan HMI di lingkungan komisariat punya keyakinan dan daya juang tinggi. Mereka belajar dan bergerak, berusaha mewujudkan cita ideal masyrakatnya. Diatas sana, tak apalah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/ulama-intelektual-tukang-dan-negara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kunfayakun</title>
		<link>http://pbhmi.org/kunfayakun/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/kunfayakun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 19:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>delovicious</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[Postmodernisme]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[nocapitalnospace freedomisimaginary nodontfulloffense marginalcreativity womeninjail ssst..ah!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>nocapitalnospace</p>
<p>freedomisimaginary</p>
<p>nodontfulloffense</p>
<p>marginalcreativity</p>
<p>womeninjail</p>
<p>ssst..ah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/kunfayakun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Posisi Masyarakat Dalam Pemilu ( Ruang Kontestasi)</title>
		<link>http://pbhmi.org/posisi-masyarakat-dalam-pemilu-ruang-kontestasi/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/posisi-masyarakat-dalam-pemilu-ruang-kontestasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 19:45:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>delovicious</dc:creator>
				<category><![CDATA[HMI News]]></category>
		<category><![CDATA[Opini Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[anarki]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[golput]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat adalah kumpulan individu yang mempunyai tujuan sama dan menyepakati suatu ikatan struktur tertentu demi mencapai tujuan bersama tersebut. Ikatan itu bersifat resmi dan formal kelembagaan.Yang terbentuk dari hasil kesepakatan bersama itu banyak macamnya yaitu suku, bani, kaum, negara dan lain-lain. Di tulisan ini bentuk Negara yang akan dibahas. Sebagaimana dikatakan diatas bahwa Negara terbentuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masyarakat adalah kumpulan individu yang mempunyai tujuan sama dan menyepakati suatu ikatan struktur tertentu demi mencapai tujuan bersama tersebut. Ikatan itu bersifat resmi dan formal kelembagaan.Yang terbentuk dari hasil kesepakatan bersama itu banyak macamnya yaitu suku, bani, kaum, negara dan lain-lain. Di tulisan ini bentuk Negara yang akan dibahas.</p>
<p>Sebagaimana dikatakan diatas bahwa Negara terbentuk karena adanya kesepakatan antar warga untuk membentuk suatu lembaga yang memperjuangkan tujuan bersama secara efektif dan tidak menyimpang. Setelah terbentuknya Negara maka pasti dipilih seorang pemimpin yang dapat mengawal Negara tersebut. Berbagai macam cara digunakan berbagai kelompok manusia , salah satunya adalah demokrasi. Dalam sisitem demokrasi trias politica suara rakyat adalah factor mutlak yang menentukan arah dan kebijakan2 negara termasuk didalamnya peran menentukan siapa yang akan memimpin Negara ini termasuk wakil-wakilnya di parlemen. Disamping itu didalam demokrasi juga terdapat 4 unsur yang utuh dan saling terikat(integral) yaitu :</p>
<p><span id="more-229"></span></p>
<p>1. Partisipasi aktif sebagai bentuk kepedulian warga Negara dalam kehidupan bernegara. Sehingga tidak ada warga Negara yang tidak peduli dengan negaranya saat ini, masa lalu, dan masa depan.</p>
<p>2. Kontrol Agenda. Disini peran warga Negara dan aparatur Negara diharapkan selalu mengawal Negara agar tetap on the track dalam pencapaian tujuan bersama.</p>
<p>3. Transformasi ide. Tidak adanya sekat-sekat pengetahuan dan akses yang merata terhadap informasi dan ide akan mencetak pikiran2 yang tercerahkan (rausan fikr)</p>
<p>4. Ruang kontestasi. Sebagai sarana aktualisasi diri dari para rausyan fikri untuk berkompetisi di ruang Negara dengan jalan dipilh oleh rakyat terlebih dahulu dalam suatu pemilu.</p>
<p>Ke-empat unsur diatas harus ada satu sama lainnya. Jika salah satunya hilang maka dijamin bahwa proses demokrasi di Negara itu telah gagal dan menyimpang. Pada kondisi gagal dan menyimpang tersebut mengakibatkan sebuah instansi Negara yang lemah dan tidak legitimate. Biasanya Negara seperti ini adalah Negara yang di pimpin oleh minoritas yang hanya mementingkan tujuan2 pribadi atau kelompoknya dan bukan bekerja untuk tujuan bersama warga Negara seperti yang telah disepakati pada awal pembentukannya. Artinya lembaga resmi dan mulia ini telah disalah gunakan.</p>
<p>Kondisi seperti inilah yang menurut penulis sedang terjadi di Indonesia sekarang ini. Tujuan mulia yang tercantum didalam UUD45 sudah bukan hal yang di upayakan dan diperjuangkan tetapi telah menjadi alat jualan kampanye (kamuflase) para caleg untuk mengejar impian fantasi liar-nya masing-masing.. Bagaimana dengan pemilu sekarang? Pemilu sekarang adalah hajatan besar kelompok berkuasa sekarang, dan sangat wajar dan beralasan untuk tidak dipercayai ke absahannya serta sesuatu yang menyangkutnya.(belum lg dgn ditemukannya banyak manipulasi DPT di sana-sini). Dengan begitu pemilu kali ini tidak lebih dari pemuasan birahi kekuasaan kelompok-kelompok minoritas yang saling bercakar demi memuaskan nafsunya masing-masing bukan untuk rakyat.Akal sehat mengatakan bahwa sesuatu yang menyimpang haru di luruskan dan sesuatu yang bukan pada hak-nya harus kembali pada hak-nya. Maka sudah saatnya bagi warga negara atau rakyat untuk menolak pemilu ini dan berlepas tangan atas pemerintahan yang sekarang. Semua itu dilakukan dengan sadar akan kebernegaraan-nya dan dalam upaya merebut kembali Negara ini dari tangan para schizoprenik tersebut. Sampai kapan? Sampai berhasil!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/posisi-masyarakat-dalam-pemilu-ruang-kontestasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paradigma Ospek Harus Diubah</title>
		<link>http://pbhmi.org/paradigma-ospek-harus-diubah/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/paradigma-ospek-harus-diubah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 09:25:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Khoiril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Mencermati tulisan di kompas.com di laman edukasi, ada informasi menggelitik soal ospek yang terjadi di beberapa kampus. Setelah kematian seorang mahasiswa/taruna baru Akademi Keselamatan Penerbangan Indonesia di Medan beberapa waktu lalu, topik ospek kian hangat untuk dibicarakan. Ospek dinilai semakin terpuruk dan semakin tersudut, seolah kegiatan ini hanyalah sebagai ajang balas dendam semata. Terlepas dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mencermati tulisan di kompas.com di laman edukasi, ada informasi menggelitik soal ospek yang terjadi di beberapa kampus.</p>
<p>Setelah kematian seorang mahasiswa/taruna baru Akademi Keselamatan Penerbangan Indonesia di Medan beberapa waktu lalu, topik ospek kian hangat untuk dibicarakan. Ospek dinilai semakin terpuruk dan semakin tersudut, seolah kegiatan ini hanyalah sebagai ajang balas dendam semata.</p>
<p>Terlepas dari pro-kontra, ospek yang sejatinya merupakan wahana pengenalan lingkungan kampus, kian jauh dari esensinya. Ospek cenderung dikuasai oleh kegiatan-kegiatan fisik dan bukan lagi intelektual.</p>
<p>Meski ada kegiatan mengasah keintelektualan, tapi yang menonjol justeru fisiknya. Apalagi semakin bertambah &#8216;seram&#8217; ketika beberapa mahasiswa baru yang fisiknya tidak prima akhirnya menderita sakit.</p>
<p>Oleh sebab itu, perlu dipikirkan kembali soal format ospek ke depan. Menurut hemat penulis, ospek seharusnya diisi dengan berbagai kegiatan keintelektualan seperti diskusi kelompok, pengenalan jurnalistik, pengenalan karya ilmiah, dan lain sebagainya.</p>
<p>Bila hal itu yang terjadi, tentu ospek bukan lagi sebagai ajang balas dendam secara fisik, akan tetapi ajang untuk mengasah kepandaian intelektual.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/paradigma-ospek-harus-diubah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>IJASAH ASIN</title>
		<link>http://pbhmi.org/ijasah-asin/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/ijasah-asin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 03:51:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[IJASAH ASIN  (ASLI DAN INSTAN) Oleh: Mulyanto Sebuah kabaret pendidikan yang tidak pernah usai kembali manggung di pentas Perguruan Tinggi di Surabaya. Tema yang diambil bisa dikatakan tidak berubah, bahkan judulnya pun masih berulang dan  dikatakan sudah basi ‘jual beli ijasah sarjana’. Dengan mudah dan murahnya ijasah tersebut diperjual belikan dengan harga 8-12 juta. Tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>IJASAH ASIN  (ASLI DAN INSTAN)</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh: Mulyanto</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Sebuah kabaret pendidikan yang tidak pernah usai kembali manggung di pentas Perguruan Tinggi di Surabaya. Tema yang diambil bisa dikatakan tidak berubah, bahkan judulnya pun masih berulang dan  dikatakan sudah basi ‘jual beli ijasah sarjana’. Dengan mudah dan murahnya ijasah tersebut diperjual belikan dengan harga 8-12 juta. Tanpa proses yang nyelimet, dijamin ijasah sudah diperoleh dengan waktu yang singkat.</p>
<p>Transaksi ini kalau dilihat dari hukum jual beli ,boleh disebut, bersifat sah dan legal, yang bertanda tangan di ijasah dan transkip adalah pejabat dari PT yang bersangkutan dan yang lebih membuat terperangah, sang produsen penjual ijasah merupakan insitusi pendidikan resmi yang terdaftar di Kopertis wilayah VII.  Sehinga ijasah tesebut bisa (dikatakan) asli walaupun dibuat secara instan tanpa ada proses transfer ilmu secara periodek sesuai aturan perkuliahan di PT untuk menggapai gelar sarjana</p>
<p>Memori kita mungkin masih belum bisa melupakan peristiwa heboh sekitar tahun 1999. Pada saat itu, Indonesia dipenuhi dengan program-program pendidikan yang menawarkan gelar MBA. Mengejar gelar MBA seperti mengikuti acara kuis di layar kaca. Semakin mudah program kuis yang ditawarkan, semakin berjibun peminat yang mengikuti. Untuk mengikuti kuis tersebut nggak perlu orang yang cerdas atau mempunyai kapasitas keilmuan tertentu yang penting bisa tampil di layar kaca dan  keren. Demikian juga ketika mengikuti program MBA, nggak usah risau ada transfer ilmu atau tidak yang penting dapat Ijasah, kemudian dibelakang nama sudah ada embel-embel gelar MBA.</p>
<p>Episode buruk dunia perguruan tinggi di Indonesia tidak akan pernah usai. Pasar selalu terbuka lebar untuk menjalani transaksi demi menggapai investasi masa depan dengan cara mudah dan instant. Dan produsen pencetak ijasah tidak berubah masih seperti yang dulu-dulu, dan mungkin pelakunya juga masih sama, yah itu-itu juga.</p>
<p>Kalu mau ditelusuri lebih jauh, ada bentuk jual beli keilmuan yang selama ini berkembang di PT.  Pertama bisa bersifat soft sell. Ada beberapa dosen yang menjual nilai dengan cara tersamar, namun  proses <em>getok tular</em> cepat menyebar dikalangan mahasiswa pengikut mata kuliah dari dosen bersangkutan. Dan untuk bertransaksi juga dilakukan secara halus, ada koordinator mahasiswa yang telah ditunjuk untuk bernegosiasi dengan sang dosen. Praktek tersebut sudah berjalan  cukup lama  namun sulit untuk terdekteksi karena terjadi pada silent market. Para penjual dan pemebeli tahu sama tahu alias tst.</p>
<p>Kedua, medium sell, pada tataran ini  Transaksi ini kalau dilihat dari hukum jual beli ,boleh disebut, bersifat sah dan legal, yang bertanda tangan di ijasah dan transkip adalah rektor dan dekan dari fakultas yang bersangkutan dan yang lebih membuat terperangah, sang produsen penjual ijasah merupakan insitusi pendidikan resmi yang terdaftar di Kopertis wilayah VII.  Sehinga ijasah tesebut bisa (dikatakan) asli walaupun dibuat secara instan tanpa ada proses transfer ilmu secara periodek sesuai aturan perkuliahan di PT untuk menggapai gelas sarjana. .</p>
<p>Sang wasit pendidikan, Kopertis VII tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya jurus terandal yang bakal (mungkin) mereka lakukan adalah memperketat mekanisme laporan tiap semester yang selama ini berjalan, dan kalau langkah ini masih mental, Kopertis akan mengadu ke induk organisasi  lebih tinggi, yakni DIKTI untuk melakukan pembinaan yang dianggap perlu. Jika mash tidak ada perubahan, Perguruan Tinggi tersebut AKAN (sengaja pakai huruf besar karena impossiblenya juga besar) ditutup (Jawa Pos, 20/9/2008).</p>
<p>Bisa saja kejadian tragis yang diungkap jawa pos (18-19/9/2008) hanya merupakan bagian kecil  dari gunung es  wajah kelam dunia pendidikan Indonesia selama ini. Rintisan prestasi yang telah coba disemai oleh beberapa PT yang ingin  mampu berperan dan bersaing di era global luntur oleh  sebuah prestise instant oleh segelintir peselencar pendidikan yang menjadikan pilihan utama mereka, daripada prestasi yang bisa membekas sampai ke anak cucu.</p>
<p>Pemain dibalik kabaret jual beli ijasah tersebut sudah pasti bukan orang-orang yang buta tentang pendidikan bahkan pendidikan tinggi. Mereka adalah orang-orang yang menempatkan gelar di depan atau di belakang nama mereka. Dan gelar yang mereka sandang, terlepas didapat dari usaha yang sebenarnya atau sebaliknya, merupakan pijakan keilmuan dasar yang menjadi kompas kemana mereka akan belayar. Apakah ilmu tersebut akan terus ditekuni dan disebarkan atau sekedar sebagai barang dagangan.</p>
<p>Pada dasarnya prespektif keilmuan tidak bebas nilai Namun pijakan tersebut memiliki kecondongan dan akan ikut serta beradaptasi dengan subjek dimana proses keilmuan dan kesarjanaan itu berasal. Ketika proses jual beli lebih kental daripada proses transfer ilmu, maka dalam realitas keseharian akan nampak prespektif nilai moral terpinggirkan oleh nilai hedonis.</p>
<p>Seandainya fenomena diatas telah, sedang, dan akan terjadi, maka Tatanan nilai sosial yang lebih cenderung pada praktek kapitalisasi mulai menjadi suatu budaya baru. Manusia-manusia kapitalis mulai berkeliaran disekitar kita dengan menekankan kalkulasi cost-benefit yang ada pada proses penalaran mereka. Sehingga ketakutan adanya kapitalisasi dunia pendidikan yang selam ini telah diungkapkan oleh para pemerhati pendidikan memang benar-benar sedang dalam proses menjadi secara simultan.</p>
<p>Krisis moral keilmuan yang telah berproses di dunia pendidikan harus disikapi bukan sebagai suatu bencana tsunami yang akan memporak porandakan tatanan nilai dasar pendidikan yang telah dibangun dengan susah payah oleh para founding father pendidikan. Namun ada hikmah masih terkubur yang harus digali secara bersama untuk mendetekti ulang  penyakit penyakit yang ada.. Bagaimana pendapat anda?</p>
<p align="center">**************C’MOEL*******************</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/ijasah-asin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PROGRAM STUDI PERTANIAN DI PERSIMPANGAN JALAN</title>
		<link>http://pbhmi.org/program-studi-pertanian-di-persimpangan-jalan/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/program-studi-pertanian-di-persimpangan-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 03:41:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mulyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Program Studi Pertanian di Persimpangan Jalan Oleh: Mulyanto* Pagelaran memperebutkan kursi SNMPTN telah selesai dihelat, memasuki awal ramadhan ini, adik adik yang diterima di SNMPTN memulai lembaran baru dengan embel-embel MAHASISWA. Ada rasa bangga dalam dada mereka ketika bisa berkuliah dan mampu menembus persaingan yang sangat-sangat keta. . Ada yang luar biasa bagi peminat kursi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Program Studi Pertanian di Persimpangan Jalan</strong></p>
<p align="center"><strong>Oleh: Mulyanto</strong>*</p>
<p>Pagelaran memperebutkan kursi SNMPTN telah selesai dihelat, memasuki awal ramadhan ini, adik adik yang diterima di SNMPTN memulai lembaran baru dengan embel-embel MAHASISWA. Ada rasa bangga dalam dada mereka ketika bisa berkuliah dan mampu menembus persaingan yang sangat-sangat keta.</p>
<p>. Ada yang luar biasa bagi peminat kursi SNMPTN, yakni jumlah pesertanya tidak pernah mengalami kemerosotan tetapi sebaliknya setiap tahun selalu terjadi peningkatan.  Pada tahun ini secara nasional peserta yang berkompetisi  sudah menembus angka 400.000 dibanding tahun lalu sekitar 380.000 peserta. Itupun panitia tingkat nasional masih kewalahan dengan menambah 30.000 formulir. Pembengkakan jumlah peserta terutama pada jurusan IPA dan IPC ( kompas.com./26/6/2009).</p>
<p>Prodi-prodi favorit masih menjadi tujuan para peserta, terutama prodi yang  langsung bersentuhan dengan prospek yang menjajikan sebagai pijakan untuk meniti karir. Sebagai ilustrasi dari data yang terekam pada tahun lalu, prodi kedokteran msih merupakan prodi yang tidak pernah sepih peminat.</p>
<p>Diterima dan bisa berkuliah melalui jalur SNMPTN bukan saja sebuah prestasi mampu melewati ketatnya sebuah persaingan. Tetap juga  merupakan prestise tersendiri, karena kuliah di PTN bisa menaikkan imej keluarga di masyarakat.</p>
<p>Namun faktor terakhir yang lebih dominan diantara keduanya adalah masalah pulus (duit), sebab dari beberapa program saringan masuk diselenggarakan oleh PTN, jalur inilah yang tidak menguras kantong terlalu dalam.</p>
<p>Dibalik kegembiraan para calon mahasiswa baru PTN, ada nada keprihatinan dirasakan oleh para penyelengara PT. Kekhawatiran itu timbul karena ada beberapa program studi kekurangan peminat. Ada sekitar 9.019 bangku kosong alias tidak diminati  dari 22% calon mahasiswa yang diterima dari keseluruhan 378.054 orang peserta pengikut SNMPTN (Kompas 1/8). Dari angka di atas, 2.894 kursi kosong tanpa peminat berasal dari program studi pertanian dan peternakan (Kompas 2/8).</p>
<p>Melihat fakta seperti ini, koordinator penilai SNMPTN, Priyo Suprobo, memaparkan kekhawatiran tentang anomali yang sedang terjadi dan mungkin akan  berlanjut, mengingat Indonesia sebagai negara agraris dan pernah dikenal berswasembada pangan (Kompas 1/8).</p>
<p>Kegelisaan itu langsung mendapat respon kilat dari Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, bahwa untuk mengatasi turunnya minat calon mahasiswa mengambil jurusan pertanian, pendidikan pertanian ke depan akan difokuskan pada dua bidang, yakni agroteknologi/agro-ekoteknologi dan agribisnis. Selain itu, praktik-praktik teknologi modern, teknologi informasi, dan komunikasi juga akan diperkuat. Menurutnya berkurangnya minat lulusan SMA memilih bidang pertanian karena bidang tersebut terlalu spesifik dan bersifat monodisiplin, serta berorientasi pada aspek pendalaman ilmu (Kompas 2/8).  .</p>
<p>Penulis hanya bisa mengelus dada, melihat reaksi pemerintah sebagai penyelenggara PT tertinggi yang selalu terlambat dalam mengambil sebuah kebijakan kedepan, akan tetapi respon tersebut selalu diimbangi dengan tindakan sesaat yang lebih bersifat emosional.</p>
<p>Mungkin saja dengan menempelkan teknologi pada program pertanian mampu menjadi sebuah solusi alternatif.  Tetapi jangan sampai memberi status khusus kepada teknologi seolah-olah teknologi adalah suatu hukum alam (Naisbith, 2001:21). Sehingga sayang sekali kalau pada perjalanannya nanti, kecenderungan teknologinya lebih dikedepankan dibanding dengan program pendidikan pertanian di Indonesia yang mempunyai ciri khas tersendiri.</p>
<p>Keunikan serta keautentikan program studi pertanian yang bersentuan langsung dengan sosio kultural bangsa Indonesia, merupakan warisan tak ternilai dalam pengembangan budaya dasar keilmuan yang pernah ada dan mungkin pula akan membawa Indonesia menjadi rujukan keilmuan secara global. Seperti diungkapkan oleh Naisbith,  “tatkala dalam zaman yang serba hitech sudah sulit membedakan yang nyata dari yang semu, dunia bisnis justru merangkul erat keunikan dan keautentikan. Keunikan dan Keautentikan dapat sangat berhasil secara komersial” ( 2001:23).</p>
<p>Sehingga vonis yang dijatuhkan bahwa program pertanian terlalu spesifik dan bersifat monodisiplin, serta berorientasi pada aspek pendalaman ilmu menjadi tamparan tersendiri pada proses pengajaran yang selama ini sudah berjalan.  Karena, disisi lain Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Yonny Koesmaryono mengungkapkan kondisi menyedihkan ini karena pemerintah tidak serius menempatkan pertanian sebagai motor penggerak pembangunan.</p>
<p>Lebih menohok lagi, Guru besar sosial ekonomi dan industri UGM, M Maksum, memaparkan adanya kecenderungan generasi sekarang meninggalkan program studi pertanian sebagai pilihannya karena nilai tambah dari sektor ini telah terhadang dan tidak ada potensi yang menjanjikan bagi sarjana pertanian (Kompas 2/8)</p>
<p>Kalau mau menarik benang merah, mengapa proritas utama para peserta memilih program studi tersebut dan memilah program-porgram tertentu menjadi program favorit, seperti kedokteran., Teknik Informatika, Teknik Industri dan Teknik elektro yang setiap tahun selalu kebanjiran peminat.  Hal ini tidak terlepas bayang-bayang indah masa depan yang diciptakan oleh para penyelenggara pendidikan.</p>
<p>Pertama, pada tahap pendidiklan dasar, pondasi pemikiran siswa sudah mulai dicuci otak bahwa pendidikan bukan lagi merupakan <em>long life education,</em> dimana dasar sebuah pendidikan dan pengajaran adalah mempelajari sebuah ilmu didasarkan dari suatu minat untuk mencintai, bergumul dan mengembangkan ilmu itu sendiri. Akan tetapi paradigmanya sudah bergeser bahwa menuntut ilmu bagian dari <em>long life investment</em>, mencari dan menekuni sebuah ilmu untuk menggapai keberhasilan secara materi menjadi faktor dominan tujuan pokok anak didik.</p>
<p>Pergeseran perilkau itu terus berlanjut. Para calon mahasiswa sebagai konsumen semakin tercerahkan dengan membanjirnya informasi di benak mereka. Seorang <em>enlightened customer</em>, bukan konsumen yang berada dalam gelap seperti dulu lagi. Tapi, dia punya pandangan jauh ke depan dan bisa mempengearuhi orang lain supaya bisa ikut percaya pada visinya itu. Seorang konsumen yang tercerahkan adalah konsumen yang dalam menentukan pilihan pembelihannya selalu memakai pertimbangan jangka panjang (Kertjaya, 1996:17).</p>
<p>Fenomena ini semakin tumbuh subur karena pemerintah secara berkala memberi pupuk dengan kebijakan yang inkonsisten serta pola pengajaran mengacu pada unsur kognitif.  Ketika polemik terus berkembang, muncullah dewa penolong, Lembaga Bimbingan Belajar yang semakin lama keberadaannya tidak bisa dipisahkan dengan lembaga pendidikan formal. Bahkan institusi formal pun, kalau mau dikatakan,  saat ini menjadi kepanjangan tangan LBB.</p>
<p>Ada kurikulum tambahan yang hukumnya ‘wajib’ bagi mereka yang  sudah duduk ditingkat akhir untuk ikut LBB yang diadakan oleh sekolah secara internal atau ikut LBB diluar.  Dan irosnisnya hampir sebagian besar para pengajar, siswa bahkan orang tua percaya dengan mengikuti program tersebut, prestasi atau lebih tepatnya nilai mereka akan ikut terdongkrak.</p>
<p>Bagi mereka yang sudah duduk ditingkat akhir SMU, ada target ganda yang diinginkan, yakni tidak hanya lulus Ebtanas dengan perolehan NEM dengan standar minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah akan tetapi pencapaian berikutnya  lolos saringan SNMPTN di prodi favorit.</p>
<p>LBB sebagai lembaga penganut mashab komersial tidak menyiakan-nyiakan peluang ini. Untuk mempromosikan lembaga mereka, peserta program diprovokasi untuk bisa menembus PTN dan prodi favorit yang menjadi incaran. Mereka dipacu latihan bank soal SNMPTN dengan metode praktis. Metode itulah yang mereka jual kepada para peserta untuk mencapai keberhasilan sesaat. Karena keberhasilan mereka merupakan nilai tambah tersendiri bagi LBB tersebut untuk berpromosi menggaet peserta program pada tahun berikutnya.</p>
<p>Kedua, ketika stempel kapitalisasi pendidikan terlanjur menempel pada dunia pendidikan di Indonesia, sehingga sangat sulit menghapus brand tersebut yang sudah berposisi di otak masyarakat. Untuk meredam komentar-komentar miring tersebut, PTN, yang suatu saat bermetamorphose menjadi BHMN,  apalagi yang sudah berganti baju menjadi BHMN seharusnya mulai membentuk peta kognitif, meminjam istilah Rhenald Kasali, tidak hanya untuk mereformulasikan tujuan dasar pendidikan, tetapi lebih mendesak mensinergikan dikotomi yang selama ini berkembang antara penekanan aspek funngsi yang mempunyai peran idealis menelorkan para cerdik cendekia bebas dan inovatif untuk bertapak tilas tapal-tanpa-batas rdengan  realitas dunia usaha  sebagai partner strategis yang bisa membumikan ide-ide serta menelorkan suatu karya ilmiah, yang merupakan pijakan dari PP No.15/1994, berdaya guna bagi perkembangan dunia usaha, sudah menjadi keharusan.</p>
<p align="center">&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/program-studi-pertanian-di-persimpangan-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tutorial Penggunaan PBHMI.org</title>
		<link>http://pbhmi.org/tutorial%c2%a0penggunaan-pbhmi-org/</link>
		<comments>http://pbhmi.org/tutorial%c2%a0penggunaan-pbhmi-org/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 16:12:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Khoiril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wacana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pbhmi.org/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Tutorial Penggunaan PBHMI.org (tutorial bisa didownload disini ) Alhamdulillah… hanya itu kata yang bisa saya ucapkan saat akan mengantarkan Situs PBHMI.Org ini kepada teman ­teman. Pertemuan terakhir dengan Kawan­kawan inisiator situs PBHMI.Org, pada tanggal 29 Agustus 2009 di Maha Ratu Café Jl. Pelajar Pejuang 45 No.50, menandakan berdirinya Situs PBHMI.Org! Situs Baru! Gairah dan Semangat Baru! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tutorial Penggunaan PBHMI.org</p>
<p>(tutorial bisa didownload <a title="Tutorial" href="http://gudang.kauje.net/Tutorial_PBHMI_dot_Org.pdf" target="_blank">disini</a> )</p>
<p>Alhamdulillah… hanya itu kata yang bisa saya ucapkan saat akan mengantarkan Situs PBHMI.Org ini kepada teman ­teman.</p>
<p>Pertemuan terakhir dengan Kawan­kawan inisiator situs PBHMI.Org, pada tanggal 29 Agustus 2009 di Maha Ratu Café Jl. Pelajar Pejuang 45 No.50, menandakan berdirinya Situs PBHMI.Org! Situs Baru! Gairah dan Semangat Baru! Mari bergabung dan meramaikan Situs Komunitas Blogger, Pecinta Ilmu, Pegiat Menulis dalam PBHMI.Org!</p>
<p><em>“PBHMI.Org adalah milik kita semua = Kita semua harus dapat menggunkannya dengan MUDAH”</em></p>
<p>Untuk keperluan itulah kami dengan hormat mengundang kawan­ kawan sebagai tester PBHMI.org Versi BETA. Untuk menguji kesiapan situs PBHMI.org ini. Semua keperluan tester dilakukan di alamat http://pbhmi.org/</p>
<p>Tujuan dari test PBHMI.Org Versi BETA ini adalah:</p>
<ul>
<li>Mengecek kemudahan pengoperasian Situs PBHMI Bagi anggota</li>
<li>Memperkenalkan anggota pada fitur­-fitur yang dibutuhkan untuk melakukan publikasi</li>
<li>Mengetahui berbagai kesulitan yang muncul dalam melakukan publikasi</li>
<li>Mendapatkan feedback dan melakukan perbaikan</li>
</ul>
<p>Beberapa hal yang harus kawan ­kawan lakukan untuk percobaan ini adalah:<br />
1.     Melakukan registrasi<br />
2.     Login ke situs PBHMI<br />
3.     Mempublish satu tulisan (atau berapapun yang kawan2 mau)</p>
<p>Ok, Selamat mencoba <img src='http://pbhmi.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Kalo ada yang bingung, pusing, ingin bertanya silahkan tanyakan kepada :</p>
<ul>
<li>Satria http://www.facebook.com/satria.nugraha/</li>
<li>Cak Cyril yahoo!id: an_uu_ar</li>
</ul>
<p><strong>I. Registrasi : Hanya 4 Langkah! Kurang dari 5 Menit! </strong></p>
<p>1. Masuk ke halaman situs http://pbhmi.org<br />
2. Di sidebar atas ada kolom login. Klik pada register</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-113" title="gbr1" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr1.gif" alt="gbr1" width="400" height="246" /></p>
<p>&lt;gbr1&gt;<br />
3. Isi semua form pendaftaran. Kemudian Klik tombol ‘Register’<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-114" title="gbr2" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr2.gif" alt="gbr2" width="395" height="240" /></p>
<p>&lt;gbr2&gt;<br />
4. Konfirmasikan keanggotaan dengan meng­klik link yang dikirim ke email.<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-115" title="gbr3" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr3.gif" alt="gbr3" width="406" height="285" /></p>
<p>&lt;gbr3&gt;</p>
<p>SELESAI!</p>
<p><strong>II. Login ke PBHMI.Org</strong></p>
<p>1. Isi Username dan Password<br />
2. Klik Log In<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-116" title="gbr4" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr4.gif" alt="gbr4" width="400" height="231" /></p>
<p>&lt;gbr4&gt;</p>
<p>SELESAI!</p>
<p><strong>III. Mempublikasikan Tulisan!</strong></p>
<p>Setelah Login sidebar Login anda akan berubah menjadi seperti ini<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-117" title="gbr5" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr5.gif" alt="gbr5" width="392" height="254" /></p>
<p>&lt;gbr5&gt;</p>
<p>1. Klik Dashboard<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-118" title="gbr6" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr6.gif" alt="gbr6" width="392" height="254" /></p>
<p>&lt;gbr6&gt;<br />
2. Klik tanda panah diujung tulisan<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-119" title="gbr7" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr7.gif" alt="gbr7" width="400" height="250" /></p>
<p>&lt;gbr7&gt;<br />
3. Klik tanda panah diujung tulisan<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-120" title="gbr8" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr8.gif" alt="gbr8" width="400" height="216" /></p>
<p>&lt;gbr8&gt;<br />
4. Kita akan dibawa ke halaman add new post (membuat posting baru)<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-121" title="gbr9" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr9.gif" alt="gbr9" width="408" height="202" /></p>
<p>&lt;gbr9&gt;</p>
<p>Dengan mengklik icon &lt;toolbars&gt; maka beberapa tools untuk menulis akan muncul. Namun kita tidak akan membahas berbagai macam kegunaannya sekarang. Semudah seperti menulis email, kita bisa membuat dan mempublikasikan sebuah tulisan di web PBHMI.org. Jika kawan­ kawan pernah menulis email, maka kawan­ kawan pasti bisa mempublikasikan tulisan di PBHMI.org.</p>
<p>5. Menulis Judul Tulisan. Isi kolom berikut dengan judul tulisan<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-122" title="gbr10" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr10.gif" alt="gbr10" width="361" height="111" /></p>
<p>&lt;gbr10&gt;<br />
6. Mengetik tulisan. Isi kolom berikut dengan tulisan kawan­kawan.<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-123" title="gbr11" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr11.gif" alt="gbr11" width="360" height="254" /></p>
<p>&lt;gbr11&gt;</p>
<p>Catatan: Jangan meng­copy paste tulisan langsung dari Microsoft word kedalam kolom tersebut! Jika ingin meng­copy tulisan dari Word klik icon <img class="alignnone size-full wp-image-124" title="gbr16" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr16.gif" alt="gbr16" width="21" height="24" />&lt;gbr16&gt; Terlebih dahulu.</p>
<p>7. Upload Gambar. Upload gambar yang menurut kawan­kawan punya hubungan dengan tulisan. Kemudian klik save!<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-125" title="gbr12" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr12.gif" alt="gbr12" width="463" height="337" />&lt;gbr12&gt;<br />
8. Isi Post Tags. Post Tags adalah kata atau frase yang memiliki relevansi dengan tulisan kawan­kawan. Lalu klik add.<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-126" title="gbr13" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr13.gif" alt="gbr13" width="283" height="209" /></p>
<p>&lt;gbr13&gt;<br />
9. Pilih Categories. Categories adalah kategori yang cocok dengan tulisan yang kawan­kawan buat. (Tulisan bisa masuk ke lebih dari 1 kategori, namun tidak disarankan mengisi semua kategori)<br />
<img class="alignnone size-full wp-image-127" title="gbr14" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr14.gif" alt="gbr14" width="299" height="207" /></p>
<p>&lt;gbr14&gt;</p>
<p>10. Publish! Publikasikan tulisan kawan­kawan dengan 1 klik! Biarkan dunia tahu, isi kepala kita <img src='http://pbhmi.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
<img class="alignnone size-full wp-image-128" title="gbr15" src="http://pbhmi.org/wp-content/uploads/2009/08/gbr15.gif" alt="gbr15" width="227" height="166" /></p>
<p>&lt;gbr15&gt;</p>
<p>SELESAI! Sekarang Kawan­kawan sudah menjadi seorang Blogger PBHMI! Selamat menulis! Selamat Berwacana!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pbhmi.org/tutorial%c2%a0penggunaan-pbhmi-org/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
