Archive | Wacana

Tags: , , , , ,

Siapakah Pembuat Ricuh Saat Nabi Sakit?

Posted on 02 February 2010 by ressay

Oleh: Yasser Arafat

Tulisan ini berkaitan dengan isu tragedi kamis kelabu yang menimpa Rasulullah Sawaw. Dulu pada awal-awal semester kuliah, saya pernah menerbitkan sebuah buletin dakwah dan pernah memuat tulisan tentang tragedi kamis kelabu ini. Tanpa disangka buletin dengan penampilan seadanya, dapat memunculkan reaksi yang begitu hebat dari sebagian orang yang tidak sepakat dengan tulisan-tulisan di buletin yang saya buat tersebut.

Sebagai reaksi atas buletin saya, ada sebagian orang yang kemudian membuat buletin baru yang bernama Al-Hujjah yang pernah mengaku sebagai Ahlulsunnah dan tulisannya khusus untuk membantah setiap tulisan yang dimuat di buletin saya. Salah satunya ialah tulisan tentang Tragedi Kamis Kelabu. Continue Reading

Comments (0)

Tags: , , , , , , , ,

Opini publik sebagai hukuman sosial

Posted on 12 November 2009 by ressay

Oleh: Nurudin

Kasus “Cicak vs Buaya” menjadi semakin ruwet. Keruwetan ini muncul setelah menyeret banyak pihak yang terkait. Kasus itu semakin mendapat perhatian masyarakat luas setelah dengar pendapat Komisi III DPR dengan Kapolri beberapa waktu lalu.

Terungkap, Kapolri membela dan ingin mengembalikan kewibawaan institusi Polri, Susno Duadji (mantan Kabareskrim) merasa tidak terlibat dalam kasus itu, bahkan sampai bersumpah sekalipun. Sementara dalam rekaman yang diungkap di Mahkamah Konstitusi (MK), nama dia justru sering disebut. Pertanyaannya adalah apakah Anggodo sedang melakukan “dramatisasi” sebuah perkara? Continue Reading

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Republik Facebook

Posted on 09 November 2009 by ressay

Oleh : Eko Setiawan

Mengemukanya kisruh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri beberapa waktu terakhir memang cukup menghebohkan masyarakat luas. Hampir semua orang menaruh perhatian lebih pada kasus ini. Puncaknya adalah ketika dua pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah ditahan oleh polisi.

Berubah-ubahnya tuduhan terhadap Bibit-Chandra, mulai dari tuduhan penerimaan suap sampai tuduhan penyalahgunaan wewenang mengusik rasa percaya masyarakat terhadap institusi kepolisian. Sebaliknya, empati dan dukungan diberikan kepada KPK. Lembaga antikorupsi ini dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan institusi kepolisian. Continue Reading

Comments (0)

Tags: , , , ,

Ulama, Intelektual Tukang dan Negara

Posted on 06 September 2009 by Satria Nugraha

Seorang teman secara vulgar sering menyalahkan Islam atas berbagai keadaan buruk yang menimpa Indonesia. Menurutnya, Islam adalah biang keladi dari segala macam yang terjadi di Indonesia.

Saya tidak heran setelah sekian banyak propaganda hitam atas Islam, banyak orang yang berpandangan demikian. Hal itu terjadi bukan tanpa sebab. Dan dia memiliki alasan untuk berfikir seperti itu.

Pun saya tidak perbah bermaksud untuk mengklarifikasi penilaiannya. Biarkan saja siempunya itu berfikir demikian.

Continue Reading

Comments (2)

Tags:

kunfayakun

Posted on 03 September 2009 by delovicious

nocapitalnospace

freedomisimaginary

nodontfulloffense

marginalcreativity

womeninjail

ssst..ah!

Comments (2)

Tags: , , , , ,

Posisi Masyarakat Dalam Pemilu ( Ruang Kontestasi)

Posted on 03 September 2009 by delovicious

Masyarakat adalah kumpulan individu yang mempunyai tujuan sama dan menyepakati suatu ikatan struktur tertentu demi mencapai tujuan bersama tersebut. Ikatan itu bersifat resmi dan formal kelembagaan.Yang terbentuk dari hasil kesepakatan bersama itu banyak macamnya yaitu suku, bani, kaum, negara dan lain-lain. Di tulisan ini bentuk Negara yang akan dibahas.

Sebagaimana dikatakan diatas bahwa Negara terbentuk karena adanya kesepakatan antar warga untuk membentuk suatu lembaga yang memperjuangkan tujuan bersama secara efektif dan tidak menyimpang. Setelah terbentuknya Negara maka pasti dipilih seorang pemimpin yang dapat mengawal Negara tersebut. Berbagai macam cara digunakan berbagai kelompok manusia , salah satunya adalah demokrasi. Dalam sisitem demokrasi trias politica suara rakyat adalah factor mutlak yang menentukan arah dan kebijakan2 negara termasuk didalamnya peran menentukan siapa yang akan memimpin Negara ini termasuk wakil-wakilnya di parlemen. Disamping itu didalam demokrasi juga terdapat 4 unsur yang utuh dan saling terikat(integral) yaitu :

Continue Reading

Comments (4)

Paradigma Ospek Harus Diubah

Posted on 02 September 2009 by Khoiril

Mencermati tulisan di kompas.com di laman edukasi, ada informasi menggelitik soal ospek yang terjadi di beberapa kampus.

Setelah kematian seorang mahasiswa/taruna baru Akademi Keselamatan Penerbangan Indonesia di Medan beberapa waktu lalu, topik ospek kian hangat untuk dibicarakan. Ospek dinilai semakin terpuruk dan semakin tersudut, seolah kegiatan ini hanyalah sebagai ajang balas dendam semata.

Terlepas dari pro-kontra, ospek yang sejatinya merupakan wahana pengenalan lingkungan kampus, kian jauh dari esensinya. Ospek cenderung dikuasai oleh kegiatan-kegiatan fisik dan bukan lagi intelektual.

Meski ada kegiatan mengasah keintelektualan, tapi yang menonjol justeru fisiknya. Apalagi semakin bertambah ‘seram’ ketika beberapa mahasiswa baru yang fisiknya tidak prima akhirnya menderita sakit.

Oleh sebab itu, perlu dipikirkan kembali soal format ospek ke depan. Menurut hemat penulis, ospek seharusnya diisi dengan berbagai kegiatan keintelektualan seperti diskusi kelompok, pengenalan jurnalistik, pengenalan karya ilmiah, dan lain sebagainya.

Bila hal itu yang terjadi, tentu ospek bukan lagi sebagai ajang balas dendam secara fisik, akan tetapi ajang untuk mengasah kepandaian intelektual.

Comments (0)

IJASAH ASIN

Posted on 01 September 2009 by mulyanto

IJASAH ASIN  (ASLI DAN INSTAN)

Oleh: Mulyanto

Sebuah kabaret pendidikan yang tidak pernah usai kembali manggung di pentas Perguruan Tinggi di Surabaya. Tema yang diambil bisa dikatakan tidak berubah, bahkan judulnya pun masih berulang dan  dikatakan sudah basi ‘jual beli ijasah sarjana’. Dengan mudah dan murahnya ijasah tersebut diperjual belikan dengan harga 8-12 juta. Tanpa proses yang nyelimet, dijamin ijasah sudah diperoleh dengan waktu yang singkat.

Transaksi ini kalau dilihat dari hukum jual beli ,boleh disebut, bersifat sah dan legal, yang bertanda tangan di ijasah dan transkip adalah pejabat dari PT yang bersangkutan dan yang lebih membuat terperangah, sang produsen penjual ijasah merupakan insitusi pendidikan resmi yang terdaftar di Kopertis wilayah VII.  Sehinga ijasah tesebut bisa (dikatakan) asli walaupun dibuat secara instan tanpa ada proses transfer ilmu secara periodek sesuai aturan perkuliahan di PT untuk menggapai gelar sarjana

Memori kita mungkin masih belum bisa melupakan peristiwa heboh sekitar tahun 1999. Pada saat itu, Indonesia dipenuhi dengan program-program pendidikan yang menawarkan gelar MBA. Mengejar gelar MBA seperti mengikuti acara kuis di layar kaca. Semakin mudah program kuis yang ditawarkan, semakin berjibun peminat yang mengikuti. Untuk mengikuti kuis tersebut nggak perlu orang yang cerdas atau mempunyai kapasitas keilmuan tertentu yang penting bisa tampil di layar kaca dan  keren. Demikian juga ketika mengikuti program MBA, nggak usah risau ada transfer ilmu atau tidak yang penting dapat Ijasah, kemudian dibelakang nama sudah ada embel-embel gelar MBA.

Episode buruk dunia perguruan tinggi di Indonesia tidak akan pernah usai. Pasar selalu terbuka lebar untuk menjalani transaksi demi menggapai investasi masa depan dengan cara mudah dan instant. Dan produsen pencetak ijasah tidak berubah masih seperti yang dulu-dulu, dan mungkin pelakunya juga masih sama, yah itu-itu juga.

Kalu mau ditelusuri lebih jauh, ada bentuk jual beli keilmuan yang selama ini berkembang di PT.  Pertama bisa bersifat soft sell. Ada beberapa dosen yang menjual nilai dengan cara tersamar, namun  proses getok tular cepat menyebar dikalangan mahasiswa pengikut mata kuliah dari dosen bersangkutan. Dan untuk bertransaksi juga dilakukan secara halus, ada koordinator mahasiswa yang telah ditunjuk untuk bernegosiasi dengan sang dosen. Praktek tersebut sudah berjalan  cukup lama  namun sulit untuk terdekteksi karena terjadi pada silent market. Para penjual dan pemebeli tahu sama tahu alias tst.

Kedua, medium sell, pada tataran ini  Transaksi ini kalau dilihat dari hukum jual beli ,boleh disebut, bersifat sah dan legal, yang bertanda tangan di ijasah dan transkip adalah rektor dan dekan dari fakultas yang bersangkutan dan yang lebih membuat terperangah, sang produsen penjual ijasah merupakan insitusi pendidikan resmi yang terdaftar di Kopertis wilayah VII.  Sehinga ijasah tesebut bisa (dikatakan) asli walaupun dibuat secara instan tanpa ada proses transfer ilmu secara periodek sesuai aturan perkuliahan di PT untuk menggapai gelas sarjana. .

Sang wasit pendidikan, Kopertis VII tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya jurus terandal yang bakal (mungkin) mereka lakukan adalah memperketat mekanisme laporan tiap semester yang selama ini berjalan, dan kalau langkah ini masih mental, Kopertis akan mengadu ke induk organisasi  lebih tinggi, yakni DIKTI untuk melakukan pembinaan yang dianggap perlu. Jika mash tidak ada perubahan, Perguruan Tinggi tersebut AKAN (sengaja pakai huruf besar karena impossiblenya juga besar) ditutup (Jawa Pos, 20/9/2008).

Bisa saja kejadian tragis yang diungkap jawa pos (18-19/9/2008) hanya merupakan bagian kecil  dari gunung es  wajah kelam dunia pendidikan Indonesia selama ini. Rintisan prestasi yang telah coba disemai oleh beberapa PT yang ingin  mampu berperan dan bersaing di era global luntur oleh  sebuah prestise instant oleh segelintir peselencar pendidikan yang menjadikan pilihan utama mereka, daripada prestasi yang bisa membekas sampai ke anak cucu.

Pemain dibalik kabaret jual beli ijasah tersebut sudah pasti bukan orang-orang yang buta tentang pendidikan bahkan pendidikan tinggi. Mereka adalah orang-orang yang menempatkan gelar di depan atau di belakang nama mereka. Dan gelar yang mereka sandang, terlepas didapat dari usaha yang sebenarnya atau sebaliknya, merupakan pijakan keilmuan dasar yang menjadi kompas kemana mereka akan belayar. Apakah ilmu tersebut akan terus ditekuni dan disebarkan atau sekedar sebagai barang dagangan.

Pada dasarnya prespektif keilmuan tidak bebas nilai Namun pijakan tersebut memiliki kecondongan dan akan ikut serta beradaptasi dengan subjek dimana proses keilmuan dan kesarjanaan itu berasal. Ketika proses jual beli lebih kental daripada proses transfer ilmu, maka dalam realitas keseharian akan nampak prespektif nilai moral terpinggirkan oleh nilai hedonis.

Seandainya fenomena diatas telah, sedang, dan akan terjadi, maka Tatanan nilai sosial yang lebih cenderung pada praktek kapitalisasi mulai menjadi suatu budaya baru. Manusia-manusia kapitalis mulai berkeliaran disekitar kita dengan menekankan kalkulasi cost-benefit yang ada pada proses penalaran mereka. Sehingga ketakutan adanya kapitalisasi dunia pendidikan yang selam ini telah diungkapkan oleh para pemerhati pendidikan memang benar-benar sedang dalam proses menjadi secara simultan.

Krisis moral keilmuan yang telah berproses di dunia pendidikan harus disikapi bukan sebagai suatu bencana tsunami yang akan memporak porandakan tatanan nilai dasar pendidikan yang telah dibangun dengan susah payah oleh para founding father pendidikan. Namun ada hikmah masih terkubur yang harus digali secara bersama untuk mendetekti ulang  penyakit penyakit yang ada.. Bagaimana pendapat anda?

**************C’MOEL*******************

Comments (0)

Tags:

PROGRAM STUDI PERTANIAN DI PERSIMPANGAN JALAN

Posted on 01 September 2009 by mulyanto

Program Studi Pertanian di Persimpangan Jalan

Oleh: Mulyanto*

Pagelaran memperebutkan kursi SNMPTN telah selesai dihelat, memasuki awal ramadhan ini, adik adik yang diterima di SNMPTN memulai lembaran baru dengan embel-embel MAHASISWA. Ada rasa bangga dalam dada mereka ketika bisa berkuliah dan mampu menembus persaingan yang sangat-sangat keta.

. Ada yang luar biasa bagi peminat kursi SNMPTN, yakni jumlah pesertanya tidak pernah mengalami kemerosotan tetapi sebaliknya setiap tahun selalu terjadi peningkatan.  Pada tahun ini secara nasional peserta yang berkompetisi  sudah menembus angka 400.000 dibanding tahun lalu sekitar 380.000 peserta. Itupun panitia tingkat nasional masih kewalahan dengan menambah 30.000 formulir. Pembengkakan jumlah peserta terutama pada jurusan IPA dan IPC ( kompas.com./26/6/2009).

Prodi-prodi favorit masih menjadi tujuan para peserta, terutama prodi yang  langsung bersentuhan dengan prospek yang menjajikan sebagai pijakan untuk meniti karir. Sebagai ilustrasi dari data yang terekam pada tahun lalu, prodi kedokteran msih merupakan prodi yang tidak pernah sepih peminat.

Diterima dan bisa berkuliah melalui jalur SNMPTN bukan saja sebuah prestasi mampu melewati ketatnya sebuah persaingan. Tetap juga  merupakan prestise tersendiri, karena kuliah di PTN bisa menaikkan imej keluarga di masyarakat.

Namun faktor terakhir yang lebih dominan diantara keduanya adalah masalah pulus (duit), sebab dari beberapa program saringan masuk diselenggarakan oleh PTN, jalur inilah yang tidak menguras kantong terlalu dalam.

Dibalik kegembiraan para calon mahasiswa baru PTN, ada nada keprihatinan dirasakan oleh para penyelengara PT. Kekhawatiran itu timbul karena ada beberapa program studi kekurangan peminat. Ada sekitar 9.019 bangku kosong alias tidak diminati  dari 22% calon mahasiswa yang diterima dari keseluruhan 378.054 orang peserta pengikut SNMPTN (Kompas 1/8). Dari angka di atas, 2.894 kursi kosong tanpa peminat berasal dari program studi pertanian dan peternakan (Kompas 2/8).

Melihat fakta seperti ini, koordinator penilai SNMPTN, Priyo Suprobo, memaparkan kekhawatiran tentang anomali yang sedang terjadi dan mungkin akan  berlanjut, mengingat Indonesia sebagai negara agraris dan pernah dikenal berswasembada pangan (Kompas 1/8).

Kegelisaan itu langsung mendapat respon kilat dari Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, bahwa untuk mengatasi turunnya minat calon mahasiswa mengambil jurusan pertanian, pendidikan pertanian ke depan akan difokuskan pada dua bidang, yakni agroteknologi/agro-ekoteknologi dan agribisnis. Selain itu, praktik-praktik teknologi modern, teknologi informasi, dan komunikasi juga akan diperkuat. Menurutnya berkurangnya minat lulusan SMA memilih bidang pertanian karena bidang tersebut terlalu spesifik dan bersifat monodisiplin, serta berorientasi pada aspek pendalaman ilmu (Kompas 2/8).  .

Penulis hanya bisa mengelus dada, melihat reaksi pemerintah sebagai penyelenggara PT tertinggi yang selalu terlambat dalam mengambil sebuah kebijakan kedepan, akan tetapi respon tersebut selalu diimbangi dengan tindakan sesaat yang lebih bersifat emosional.

Mungkin saja dengan menempelkan teknologi pada program pertanian mampu menjadi sebuah solusi alternatif.  Tetapi jangan sampai memberi status khusus kepada teknologi seolah-olah teknologi adalah suatu hukum alam (Naisbith, 2001:21). Sehingga sayang sekali kalau pada perjalanannya nanti, kecenderungan teknologinya lebih dikedepankan dibanding dengan program pendidikan pertanian di Indonesia yang mempunyai ciri khas tersendiri.

Keunikan serta keautentikan program studi pertanian yang bersentuan langsung dengan sosio kultural bangsa Indonesia, merupakan warisan tak ternilai dalam pengembangan budaya dasar keilmuan yang pernah ada dan mungkin pula akan membawa Indonesia menjadi rujukan keilmuan secara global. Seperti diungkapkan oleh Naisbith,  “tatkala dalam zaman yang serba hitech sudah sulit membedakan yang nyata dari yang semu, dunia bisnis justru merangkul erat keunikan dan keautentikan. Keunikan dan Keautentikan dapat sangat berhasil secara komersial” ( 2001:23).

Sehingga vonis yang dijatuhkan bahwa program pertanian terlalu spesifik dan bersifat monodisiplin, serta berorientasi pada aspek pendalaman ilmu menjadi tamparan tersendiri pada proses pengajaran yang selama ini sudah berjalan.  Karena, disisi lain Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Yonny Koesmaryono mengungkapkan kondisi menyedihkan ini karena pemerintah tidak serius menempatkan pertanian sebagai motor penggerak pembangunan.

Lebih menohok lagi, Guru besar sosial ekonomi dan industri UGM, M Maksum, memaparkan adanya kecenderungan generasi sekarang meninggalkan program studi pertanian sebagai pilihannya karena nilai tambah dari sektor ini telah terhadang dan tidak ada potensi yang menjanjikan bagi sarjana pertanian (Kompas 2/8)

Kalau mau menarik benang merah, mengapa proritas utama para peserta memilih program studi tersebut dan memilah program-porgram tertentu menjadi program favorit, seperti kedokteran., Teknik Informatika, Teknik Industri dan Teknik elektro yang setiap tahun selalu kebanjiran peminat.  Hal ini tidak terlepas bayang-bayang indah masa depan yang diciptakan oleh para penyelenggara pendidikan.

Pertama, pada tahap pendidiklan dasar, pondasi pemikiran siswa sudah mulai dicuci otak bahwa pendidikan bukan lagi merupakan long life education, dimana dasar sebuah pendidikan dan pengajaran adalah mempelajari sebuah ilmu didasarkan dari suatu minat untuk mencintai, bergumul dan mengembangkan ilmu itu sendiri. Akan tetapi paradigmanya sudah bergeser bahwa menuntut ilmu bagian dari long life investment, mencari dan menekuni sebuah ilmu untuk menggapai keberhasilan secara materi menjadi faktor dominan tujuan pokok anak didik.

Pergeseran perilkau itu terus berlanjut. Para calon mahasiswa sebagai konsumen semakin tercerahkan dengan membanjirnya informasi di benak mereka. Seorang enlightened customer, bukan konsumen yang berada dalam gelap seperti dulu lagi. Tapi, dia punya pandangan jauh ke depan dan bisa mempengearuhi orang lain supaya bisa ikut percaya pada visinya itu. Seorang konsumen yang tercerahkan adalah konsumen yang dalam menentukan pilihan pembelihannya selalu memakai pertimbangan jangka panjang (Kertjaya, 1996:17).

Fenomena ini semakin tumbuh subur karena pemerintah secara berkala memberi pupuk dengan kebijakan yang inkonsisten serta pola pengajaran mengacu pada unsur kognitif.  Ketika polemik terus berkembang, muncullah dewa penolong, Lembaga Bimbingan Belajar yang semakin lama keberadaannya tidak bisa dipisahkan dengan lembaga pendidikan formal. Bahkan institusi formal pun, kalau mau dikatakan,  saat ini menjadi kepanjangan tangan LBB.

Ada kurikulum tambahan yang hukumnya ‘wajib’ bagi mereka yang  sudah duduk ditingkat akhir untuk ikut LBB yang diadakan oleh sekolah secara internal atau ikut LBB diluar.  Dan irosnisnya hampir sebagian besar para pengajar, siswa bahkan orang tua percaya dengan mengikuti program tersebut, prestasi atau lebih tepatnya nilai mereka akan ikut terdongkrak.

Bagi mereka yang sudah duduk ditingkat akhir SMU, ada target ganda yang diinginkan, yakni tidak hanya lulus Ebtanas dengan perolehan NEM dengan standar minimal yang telah ditetapkan oleh pemerintah akan tetapi pencapaian berikutnya  lolos saringan SNMPTN di prodi favorit.

LBB sebagai lembaga penganut mashab komersial tidak menyiakan-nyiakan peluang ini. Untuk mempromosikan lembaga mereka, peserta program diprovokasi untuk bisa menembus PTN dan prodi favorit yang menjadi incaran. Mereka dipacu latihan bank soal SNMPTN dengan metode praktis. Metode itulah yang mereka jual kepada para peserta untuk mencapai keberhasilan sesaat. Karena keberhasilan mereka merupakan nilai tambah tersendiri bagi LBB tersebut untuk berpromosi menggaet peserta program pada tahun berikutnya.

Kedua, ketika stempel kapitalisasi pendidikan terlanjur menempel pada dunia pendidikan di Indonesia, sehingga sangat sulit menghapus brand tersebut yang sudah berposisi di otak masyarakat. Untuk meredam komentar-komentar miring tersebut, PTN, yang suatu saat bermetamorphose menjadi BHMN,  apalagi yang sudah berganti baju menjadi BHMN seharusnya mulai membentuk peta kognitif, meminjam istilah Rhenald Kasali, tidak hanya untuk mereformulasikan tujuan dasar pendidikan, tetapi lebih mendesak mensinergikan dikotomi yang selama ini berkembang antara penekanan aspek funngsi yang mempunyai peran idealis menelorkan para cerdik cendekia bebas dan inovatif untuk bertapak tilas tapal-tanpa-batas rdengan  realitas dunia usaha  sebagai partner strategis yang bisa membumikan ide-ide serta menelorkan suatu karya ilmiah, yang merupakan pijakan dari PP No.15/1994, berdaya guna bagi perkembangan dunia usaha, sudah menjadi keharusan.

&&&&&&&&&

Comments (0)

Tutorial Penggunaan PBHMI.org

Posted on 31 August 2009 by Khoiril

Tutorial Penggunaan PBHMI.org

(tutorial bisa didownload disini )

Alhamdulillah… hanya itu kata yang bisa saya ucapkan saat akan mengantarkan Situs PBHMI.Org ini kepada teman ­teman.

Pertemuan terakhir dengan Kawan­kawan inisiator situs PBHMI.Org, pada tanggal 29 Agustus 2009 di Maha Ratu Café Jl. Pelajar Pejuang 45 No.50, menandakan berdirinya Situs PBHMI.Org! Situs Baru! Gairah dan Semangat Baru! Mari bergabung dan meramaikan Situs Komunitas Blogger, Pecinta Ilmu, Pegiat Menulis dalam PBHMI.Org!

“PBHMI.Org adalah milik kita semua = Kita semua harus dapat menggunkannya dengan MUDAH”

Untuk keperluan itulah kami dengan hormat mengundang kawan­ kawan sebagai tester PBHMI.org Versi BETA. Untuk menguji kesiapan situs PBHMI.org ini. Semua keperluan tester dilakukan di alamat http://pbhmi.org/

Tujuan dari test PBHMI.Org Versi BETA ini adalah:

  • Mengecek kemudahan pengoperasian Situs PBHMI Bagi anggota
  • Memperkenalkan anggota pada fitur­-fitur yang dibutuhkan untuk melakukan publikasi
  • Mengetahui berbagai kesulitan yang muncul dalam melakukan publikasi
  • Mendapatkan feedback dan melakukan perbaikan

Beberapa hal yang harus kawan ­kawan lakukan untuk percobaan ini adalah:
1.     Melakukan registrasi
2.     Login ke situs PBHMI
3.     Mempublish satu tulisan (atau berapapun yang kawan2 mau)

Ok, Selamat mencoba :D Kalo ada yang bingung, pusing, ingin bertanya silahkan tanyakan kepada :

  • Satria http://www.facebook.com/satria.nugraha/
  • Cak Cyril yahoo!id: an_uu_ar

I. Registrasi : Hanya 4 Langkah! Kurang dari 5 Menit!

1. Masuk ke halaman situs http://pbhmi.org
2. Di sidebar atas ada kolom login. Klik pada register

gbr1

<gbr1>
3. Isi semua form pendaftaran. Kemudian Klik tombol ‘Register’
gbr2

<gbr2>
4. Konfirmasikan keanggotaan dengan meng­klik link yang dikirim ke email.
gbr3

<gbr3>

SELESAI!

II. Login ke PBHMI.Org

1. Isi Username dan Password
2. Klik Log In
gbr4

<gbr4>

SELESAI!

III. Mempublikasikan Tulisan!

Setelah Login sidebar Login anda akan berubah menjadi seperti ini
gbr5

<gbr5>

1. Klik Dashboard
gbr6

<gbr6>
2. Klik tanda panah diujung tulisan
gbr7

<gbr7>
3. Klik tanda panah diujung tulisan
gbr8

<gbr8>
4. Kita akan dibawa ke halaman add new post (membuat posting baru)
gbr9

<gbr9>

Dengan mengklik icon <toolbars> maka beberapa tools untuk menulis akan muncul. Namun kita tidak akan membahas berbagai macam kegunaannya sekarang. Semudah seperti menulis email, kita bisa membuat dan mempublikasikan sebuah tulisan di web PBHMI.org. Jika kawan­ kawan pernah menulis email, maka kawan­ kawan pasti bisa mempublikasikan tulisan di PBHMI.org.

5. Menulis Judul Tulisan. Isi kolom berikut dengan judul tulisan
gbr10

<gbr10>
6. Mengetik tulisan. Isi kolom berikut dengan tulisan kawan­kawan.
gbr11

<gbr11>

Catatan: Jangan meng­copy paste tulisan langsung dari Microsoft word kedalam kolom tersebut! Jika ingin meng­copy tulisan dari Word klik icon gbr16<gbr16> Terlebih dahulu.

7. Upload Gambar. Upload gambar yang menurut kawan­kawan punya hubungan dengan tulisan. Kemudian klik save!
gbr12<gbr12>
8. Isi Post Tags. Post Tags adalah kata atau frase yang memiliki relevansi dengan tulisan kawan­kawan. Lalu klik add.
gbr13

<gbr13>
9. Pilih Categories. Categories adalah kategori yang cocok dengan tulisan yang kawan­kawan buat. (Tulisan bisa masuk ke lebih dari 1 kategori, namun tidak disarankan mengisi semua kategori)
gbr14

<gbr14>

10. Publish! Publikasikan tulisan kawan­kawan dengan 1 klik! Biarkan dunia tahu, isi kepala kita :D
gbr15

<gbr15>

SELESAI! Sekarang Kawan­kawan sudah menjadi seorang Blogger PBHMI! Selamat menulis! Selamat Berwacana!

Comments (0)

Gabung Dengan Komunitas Blogger HMI di Facebook
PBHMI.Org on Facebook
Advertise Here

Bagde

Muslim Blogs - BlogCatalog Blog Directory Join My Community at MyBloglog! 6xd4eun9mf Blog Directory Add to Technorati Favorites