Archive | HMI News

LPAI Desak Pj Tertibkan Hotel Mesum

Posted on 12 January 2011 by mashakim

Jember – Melihat perkembangan sosial dan kultur Jember yang kian pesat, sejumlah Kyai dan Ulama dalam Lembaga Pemuka  Agama  Islam (LPAI) Kabupaten Jember menemui Pj Bupati Jember Drs Teddy Zarkasih, Msi.

Mereka mengadukan keprihatinannya terkait beberapa penyakit masyarakat yang mengkhawatirkan generasi muda dan Islam di masa mendatang.

Terutama perkembangan jiwa anak, dan pelajar di Kabupaten Jember yang semakin berani mengumbar sensasi dan mesum di tempat terbuka.

Ketua Lajnah Pembinaan Akhlak Islam (LPAI) KH Hamid Hasbullah – yang juga mantan pendukung MZA Djalal ini – diterima Pj  Bupati Drs Zarkasih, bersama sejumlah pejabat di ruang lobi.

KH Hamid Hasbullah menyampaikan pandangannya terkait maraknya tempat-tempat hiburan di Kabupaten Jember. Dia prihatin karena perkembangan judi, narkoba, dan miras serta prostitusi terselubung sangat mencederai kehidupan masyarakat Jember yang religius.

KH  Hamid, menuding tempat-tempat hiburan sebagai biangnya. Remaja sudah berani terang – terangan mesum di depan Masjid Jami’ Al Baitul Amien dan di dalam Alun-alun Kota.

Tindakan mereka itu sudah tidak bisa lagi di tolerir dan perlu ditertibkan oleh pihak-pihak berwenang.

“ Ini perlu ditertibkan. Tekan kemaksiatan di Jember sebagai bagian dari Amar Ma’ruf Nahii Munkar,” ujarnya.

Dia didampingi Ustadz H Hasyim Saprawi, Ketua Yayasan Masjid Al Baitul Amien. H Hasyim Syafrawi menuding Royal Billiard, Gajah Mada Square, dan Café Sultan Palace dengan dalih musik karaoke keluarga tetapi di balik itu untuk mesum.

Dia minta Pol PP sebagai penegak Perda segera menertibkan tempat itu. “Pj. Bupati kewenangannya terbatas, maka tindakan penertiban melibatkan Satpol PP, dan Polres,” sarannya.

Pj Bupati Drs  Zarkasih, bersama jajaran Pemkab segera akan menindaklanjuti informasi LPAI itu. Dan segera berkordinasi dengan Polres, Kodim untuk menertibkan tempat hiburan. ki

Comments (0)

Jatim Terkorup di Indonesia

Posted on 12 January 2011 by mashakim

Jember – Angka perkara korupsi di Propinsi Jawa Timur, menempati urutan pertama se Indonesia dari 33 Propinsi yang ada. Selama beberapa tahun saja, ada 329 kasus korupsi yang ditangani Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.

Daftar kasus korupsi itu juga termasuk angka yang muncul ditangani Kejaksaan Negeri setempat di 38 Kabupaten / Kota di Jawa Timur. Tertinggi di Jawa Timur adalah yang ditangani Kejaksaan Tinggi berjumlah 44 kasus perkara korupsi.

“Bayangkan kita ini di Jawa Timur tertinggi loh se republik ini. Ada 329 perkara korupsi sudah kita tangani,” ujar Aspidsus Kejati Jatim M Anwar, saat mendampingi Kajati Jatim M Farella ke Jember untuk mengumpulkan tiga Kajari se Tapal Kuda guna mengantisipasi pasca kejadian Bojonegoro gate.

Urutan penanganan kasus kedua adalah Kejari Surabaya, lalu ketiga Kejari Sidoarjo, baru kemudian Kejari Jember. Kabupaten Jember sendiri ada sekitar 27 kasus korupsi yang sedang diselesaikan untuk diajukan ke Pengadilan. Sebanyak 22 kasus hasil penyidikan korupsi itu termasuk Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi Masyarakat (P2SEM) yang menjerat mantan Ketua DPRD TK I Fathorrossid, dan beberapa LSM, Doktor, Akademisi, Politisi dari PKNU, hingga masyarakat biasa.

Di Kabupaten Jember ada dua doktor yang diproses disidang perkara kasus korupsi P2SEM. Sementara di Lumajang satu orang doktor. Dan beberapa LSM sudah divonis. Termasuk salah seorang anggota DPRD dari PKNU Bondowoso yang dijerat di Kabupaten Jember.

Dari 5 kasus korupsi lainnya, yang sedang diproses adalah korupsi Sewa Pesawat di Dishub Pemkab Jember Rp 5 milliar, bedah rumah, dana operasional pimpinan DPRD dengan tersangka Kusen Andalas dan beberapa kasus lain yang masih ditangani Kejaksaan Negeri setempat. Semisal Alkes Tahun 2007 Rp 450 juta, dengan tersangka Mahfudi Husodo, dan Subasar dari Dinas Kesehatan Pemkab Jember. ki

Comments (0)

Audit BPK Hambat Penyelesaian Kasus Korupsi

Posted on 12 January 2011 by mashakim

Jember  – Audit keuangan untuk mengetahui kerugian negara oleh lembaga auditor diantara BPKP, dan BPK dinilai beberapa kalangan menghambat proses penyelesaian penyidikan kasus korupsi. Sehingga tak jarang beberapa kasus korupsi yang seakan macet dan mandeg gara – gara tidak segera turunnya hasil audit kerugian negara yang dikeluarkan lembaga BPK.

Aspidsus Kajati Jatim Muh. Anwar, SH, saat mendampingi kunjungan kerja dan sidak Kajati Jatim M Farella ke tapal kuda dipusatkan di Kejari Jember Rabu (12/1/2011) siang sedikit memperhalus pernyataannya terkait kendala audit BPK terhadap penyelesaian kasus korupsi yang ditangani penyidik Kejaksaan.

“Bukan semacam kendala dan penghambat lah. Saya tidak boleh ngomong begitu. Karena sampeyan sendiri harus tanyakan kepada lembaga itu. Kalau saya nanti subyektif. Mungkin saja banyak berkas, dan pekerjaan. Sementara kita didesak prosedur,” ujarnya.

Karena itu, wajar menurutnya ada beberapa kasus korupsi yang hingga kini belum ada penahanan terhadap tersangka karena jaksa tidak ingin tersangka saat ditahan tetapi belum kunjung terbitnya audit kerugian negara yang dimaksud.

“Kita kan dibatasi waktu untuk menahan. Kalau tidak segera keluar hasil audit itu ya, kita kan bisa repot,” tegasnya lagi.

M Anwar, yang juga mantan Ketua Tim 10 Kejakgung dan Kejati saat menangani laporan korupsi di Kabupaten Jember beberapa waktu lalu ini mengatakan dari beberapa kasus yang dilaporkan masyarakat, di Kabupaten Jember ada 27 kasus yang berhasil dilakukan penyidikan setelah itu.

Dua kasus semisal Sewa Pesawat dengan tersangka Sunarsono, Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Jember, Syafril Jaya Direktur PDP masih belum ada ujung pangkalnya.  Keduanya juga tidak ditahan. Kasus  dugaan korupsi bedah rumah dengan tersangka Ir Suhardiyanto, Msi, juga masih belum selesai karena belum ada hasil audit BPK.

“Perhitungan audit BPK itu belum ada. Kalau kita sudah berkali – kali menanyakan. Rapat – rapat di tingkat I  juga sering kita sampaikan. Tapi karena memang belum selesai bagaimana. Perhitungan itu harus ditanyakan ke lembaga itu. Jangan saya ditanya terus. Nanti subyektif saya,” imbuhnya.

Dua kasus di Jember yang ditangani yakni korupsi sewa pesawat Rp 5 milliar, dan korupsi bedah rumah senilai milliaran rupiah itu kata Aspidsus M Anwar masih akan diteruskan. Kasus ini sudah setahun macet tidak jelas kelanjutannya. Berkas kasus nya tinggal audit BPK tentang kerugian negara. Terkait penyitaan barang bukti, pemeriksaan tersangka, saksi, dan berkas perkara dinyatakan selesai. ki

Comments (0)

Tags: , , , ,

Ketua DPRD : Pj Sudah Sah Sesuai Petunjuk Mendagri

Posted on 12 January 2011 by mashakim

Jember – Ketua DPRD Saptono Yusuf menegaskan kembali bahwa pimpinan sudah sepakat bahwa penunjukan Pjs sudah sah berdasarkan hasil konsultasi ke Mendagri.
Selanjutnya pimpinan dewan akan mengegendakan pertemuan dengan pimpinan fraksi untuk menyampaikan hasil konsultasi ke Mendagri tersebut kemarin malam.
“Pjs sudah sah ketika kita konsultasi ke Mendagri. Dan itu akan kita sampaikan ke pimpinan fraksi nanti,” ujar Saptono Yusuf.
Ketua DPC Partai Demokrat ini menuturkan, persaoalan Pjs Bupati itu merupakan persoalan hukum dan pihaknya cukup hati-hati dalam memutuskan kebijakan. Dia juga berharap dalam waktu dekat bisa segera digelar rapat Badan Musyawarah untuk membahas dan menetapkan RAPBD 2011.
“Kalau rapat fraksi nanti ada yang tidak memenuhi quorum, maka akan digelar undangan lagi sampai tiga kali. Dan kalau masih saja tidak quorum maka kita akan jelaskan persoalan ini ke eksekutif dan gubernur,” ujarnya.
Sekadar diketahui, pimpinan DPRD Jember didera masalah mosi tidak percaya yang disampaikan oleh 29 dari 50 anggota dewan yang ada. Fraksi koalisi yang mengancam mosi itu antara lain, FDIP, FGolkar, FKNU dan FANNUR. Ancaman mosi itu bisa berakibat mandeknya penetapan RAPBD 2011. Mosi tidak hanya disampaikan fraksi koalisi, namun juga didesakkakn oleh puluhan kepala desa, tim kerakyatan pendukung Djalal-Kusen, serta lembaga swadaya masyarakat lainnya.
Sementara Fraksi PKS mengambil jalan tengah dengan berpendapat RAPBD harus segera dibahas dan tidak terperosok dalam polemik pro-kontra Pjs Bupati maupun pertimbangan oleh pimpinan dewan. Sementara Fraksi Demokrat dan Fraksi Kebangkitan Bangsa nampaknya akan menjadi oposisi dengan alasan Pjs Bupati sudah sah dan polemik pertimbangan oleh pimpinan dewan segera dihentikan. Dua fraksi ini juga sepakat agar RAPBD 2011 segera ditetapkan.
Sementara juru bicara fraksi koalisi yang diwakili Ketua Fraksi Golkar, Yudi Hartono mengatakan, pihaknya mengaku sudah mendapatkan undangan pertemuan pimpinan fraksi kemarin malam.
“Tapi undangan itu agendanya tidak jelas, kita seluruh fraksi koalis tidak akan datang sebelum pimpinan dewan memberikan kejelasan soal jawaban pertimbangan maupun jawaban atas mosi tidak percaya,” tandas Yudi Hartono. Dia juga mengatakan, ketika pertimbangan yang diusulkan pmpinan dewan tidak dianggap sebagai hal yang serius, maka itu dianggap sebagai ruang yang menghambat rapat paripurna pembahasan dan penetapan RAPBD 2011.
“RAPBD jelas terhambat karena pimpinan dewan tidak memberikan penjelasan secara gamblang soal penyampain pertimbangan ketika pengusulan Pjs,” ujarnya. ki

Comments (0)

pergerakan mahasiswa, mati surikah?

Posted on 13 April 2010 by zulfiadi ahmedy

Mahasiswa adalah kaum terpelajar muda yang berada pada level tertinggi suatu proses pendidikan, dimana pada diri merekalah terdapat sebuah tumpuan harapan rakyat yang sangat besar. Peranan mahasiswa sesungguhnya sebagai individu-individu yang berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang atau golongan yang berusaha mengubah tradisi, dengan demikian akan terjadi perubahan tradisi yang lebih baik dalam dinamika kehidupan masyarakat. Sejatinya Mahasiswa bergerak melalui mekanisme pendidikan aktif dan independensinya tidak dicemari oleh berbagai kepentingan sosio cultural politice yang bertentangan dengan kebutuhan rakyat. Maka muncullah pelaku pergerakan pembelaan rakyat yang sering diistilahkan dengan aktivis kampus.
Aktivis kampus adalah mahasiswa yang mau berpikir, berjuang, dan bersedia menjadi pelaku perubahan yang mengarah pada perbaikan nasib bangsa dengan segenap kemauan dan kemampuan. Mereka bergerak di jalur politik dan aktivis imajiner atau apapun itu adalah bagian dari dunia kampus. Sebagai miniatur negara, kampus memang memiliki keragaman, baik dari aktivitas, pola pikir sampai dengan identitas. Dan dari perbedaan atau pluralitas itu kampus menjadi tempat lahirnya banyak pelaku perubahan yang kemudian berbaur dengan masyarakat.
Gerakan mahasiswa tampaknya memang sudah menjadi tuntutan zaman. Ia timbul tenggelam dalam pergolakan bangsa-bangsa yang ingin menata kehidupan demokrasinya secara lebih beradab antara lain dengan mengikut sertakan suara-suara kaum mudanya. Fenomena-fenomena gejolak mahasiswa di tanah air yang eskalasinya sangat luas ini, mengingatkan kita kembali pada sinyalemen seorang pengamat gerakan mahasiswa, Philip G. Albach, bahwa aktivitas kemahasiswaan di dunia ketiga tetap merupakan suatu faktor penting.
Pentingnya peran mahasiswa ini layak kita garis-bawahi, tidak hanya terletak pada posisinya yang cenderung “elitis” sehingga membuat mereka merasa memiliki kedudukan istimewa dalam masyarakatnya. Tapi, juga berkaitan dengan struktur dan lembaga politik di negara-negara berkembang yang dinilai belum mapan, sehingga meniscayakan dampak langsung aktivitas mahasiswa atas politik. Dan juga yang paling utama adalah keterlibatan moral dalam proses politik bangsanya, untuk menemukan sebuah kebenaran yang diidam-idamkan rakyat, yang telah berusaha memulihkan kualitas kehidupan bangsanya. Bukan hanya kualitas hidup yang dicerminkan dalam hal-hal yang bersifat material, tapi yang terpenting juga kualitas demokrasi atau martabat manusia itu sendiri.
Akan tetapi, banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka adalah kaum intelektual murni yang diharapkan masyarakat awam, karena dipandang bebas dari kepentingan politis elit tertentu, mereka tidak mengerti akan substansi dari Tri Darma Perguruan Tinngi itu sendiri. Sehingga sebagian diantaranya salah kaprah akan ke-eksistensian mereka sendiri sebagai agent of change, beranggapan bahwa kuliah hanya sebagai salah satu syarat utama untuk mencari kerja, juga mungkin hanya sebatas ikut trend global bahwa kuliah adalah suatu lifestyle anak muda masa kini dengan berbagai corak tingkah laku yang sebenarnya dapat menghancurkan identitas kemahasiswaan di mata masyarakat.
Mahasiswa saat ini terjebak dengan pemikiran bahwa tugas intelektualitas mereka telah usai pasca reformasi 1998, dan hanya dapat membanggakan reformasi yang telah diperjuangkan oleh para pendahulunya. Mereka tidak bisa merawat dan minimal tidak mampu untuk mengontrol dinamika kehidupan ideal yang diharapkan dari reformasi. Ditambah dengan pola pendidikan praktis dan statis dimana mahasiswa hanya kuliah dengan cara mendengar dan mengikuti aturan baku yang diterapkan kampus, sehingga menghambat pola pikir dan kreatifitas mahasiswa, sejatinya mereka harus dinamis dan tidak dapat dikurung oleh aturan-aturan yang dapat membungkam suara murni dari pergerakan mahasiswa.
Mahasiswa, kampus dan politik merupakan tiga entitas yang dapat saling berikatan. Di kampus, mahasiswa tidak hanya mengisi aktivitas dengan belajar. Mahasiswa dengan berbagai peran sosialnya dapat melakukan aktivitas-aktivitas sosial-politik. Aktivitas ini sekurang-kurangnya dapat dilihat pada fenomena pemerintahan mahasiswa sebagai wujud dari politik kampus. Sebagian kecil mahasiswa memilih menjadi aktivis kampus untuk bisa mewujudkan peran tersebut.
Peran tersebut menjadi tantangan sulit bagi mereka yang belum berpengalaman sama sekali, sehingga seringkali terlihat rapuh dan berkembanglah stigma skeptis dari pemikiran mereka. Sedangkan yang sudah berpengalaman tidak mampu untuk merangkul semua elemen kampus karena beranggapan bahwa hanya dialah yang mampu untuk memimpin suatu pergerakan mahasiswa yang sesungguhnya, sehingga tidak mendapatkan kepercayaaan dari yang lain, hanya bergaul dengan orang-orang tertentu yang dianggap sepadan dengannya (elitis). Tidak pernah mau mendengarkan statement dari mahasiswa yang berada di luar komunitas mereka. Ditambah lagi dengan jumlah mereka yang tidak sampai 11% dari total mahasiswa per kampusnya, dukungan yang tidak didapatkan dari mahasiswa lainnya, skeptisisme tenaga pendidik kepada mereka, juga menjadi hal yang dapat membuat mereka kehilangan directly confidental. Realita bahwa ada hal yang dilupakan oleh aktivis kampus hari ini yakni kondisi teman-temannya yang lain, yang katakanlah non aktivis, dan anggapan bahwa non aktivis adalah apatis. Juga kurangnya peran dari kawan-kawan yang menamakan dirinya sebagai aktivis dengan embel-embel fungsinya untuk melakukan proses penyadaran terhadap mahasiswa lain untuk berjuang membela rakyat secara bersama-sama. Hal tersebutlah yang menjadikan mahasiswa terpecah belah, kemudian terjadi evolusi penyekatan dan pengotakan yang berakibat pada tidak terjadinya harmonisasi di kampus. Pengkotakan komunitas ini akhirnya menjadi semakin kuat. Masing-masing komunitas saling mengklaim bahwa ideologi merekalah yang tepat untuk diperjuangkan dan diterapkan dalam perkembangan masyarakat banyak. Sehingga mereka terjebak dalam sebuah kerangka pemikiran yang menempatkan manusia sebagai objek, bukan lagi sebagai subjek.
Statement inilah yang tanpa disadari mengikis kemurnian perjuangan intelektual mereka. Seringkali pada realitanya pergerakan mereka hanya untuk menunjukan eksistensi komunitas mereka saja di muka khalayak ramai dengan mengatasnamakan rakyat. Pergerakan ini seringkali tidak tahu apa yang seharusnya diperjuangkan, mereka tidak mampu menganalisis problema kehidupan sosial kultural politik yang terjadi dalam masyarakat, tanpa tedeng aling-aling langsung mengadakan aksi atas nama pembelaan terhadap rakyat, padahal dengan aksi merekalah masyarakat kehilangan something of trusting kepada mereka. Masyarakat dibuat bingung dengan aksi pembelaan mereka, pembelaan yang seharusnya ditujukan kepada masyarakat, malah tidak sesuai pada tempatnya. Jauh melenceng dari kesesuaian kebijakan dengan kebutuhan rakyat.
Yang lebih ironis, ada pergerakan atas permintaan elit tertentu untuk memprotes suatu kebijakan yang merugikan kaum elit tersebut, menggunakan mahasiswa sebagai alat bantu penentang kebijakan yang seolah-olah nantinya dipandang masyarakat sebagai kebutuhan rakyat karena diperjuangkan oleh mahasiswa. Mahasiswa tersebut nantinya mendapatkan imbalan tertentu atas aksi yang telah dilakukan. Pergerakan mahasiswa seperti ini tidak seharusnya diacungkan jempol, mereka berteriak-teriak lantang atas nama pembelaan rakyat, akan tetapi dibalik itu terdapat kepentingan elit tertentu, sebenarnya hal ini tidaklah membentuk mental pejuang intelektual pembela rakyat yang sejati, tapi membentuk mental-mental penjilat yang merusak moral masyarakat sendiri.
Perpecahan mahasiswa juga sangat terasa ketika saat pemilihan ketua sebuah lembaga kemahasiswaan, apakah pada level universitas, fakultas dan bahkan pada level jurusan/program study sekalipun. Dapat dilihat dimana kandidat A menjadi pesaing ketat kandidat B dan seterusnya, berbagai ideologi dan strategi komunikasi aktif dikembangkan dan diterapkan dengan berbagai cara, termasuk permainan curang sekalipun. Pasca pemilihan, kandidat terpilih hanya menempatkan orang-orang yang telah membantunya pada saat kampanye, dan hanya yang se-ideologi dengannya yang dimasukkan dalam struktur kepengurusan kabinetnya. Yang berada di luar garis komunitas ideologinya tidak boleh mendekati kepengurusan yang dipaksakan ini, sehingga menempatkan orang-orang non qualified untuk mengatur sirkulasi perjuangan mahasiswa yang seutuhnya. Hal inilah kemudian yang membuat lembaga kemahasiswaan tidak mampu mengakomodasi aspirasi mahasiswa dan masyarakat, sehingga kehilangan jati diri dan kepercayaan dari mahasiswa lainnya.
Sudah saatnya aktivis merubah pola pikir, merubah paradigma statis bahwa aktivis tidak lagi mampu menjadi pembela rakyat. Aktivis sekarang harus menjadi pilar intelektual terhadap problema rakyat. Serta bersih dari kepentingan politis elit atas. Sebelum ke dunia luas, sejatinya harus menyelesaikan problem yang berada dalam lingkungan kampus terlebih dahulu, membebaskan mahasiswa dari jeratan aturan yang merugikan eksistensi mahasiswa. Ini memang sangat ironis, tapi tidak akan menjadi beban ketika yang diperjuangkan adalah kepentingan bersama, dalam artian kaum aktivis tersebut ikut memperjuangkan kepentingan mahasiwa yang terkesan apatis secara konkrit, yang notabene tidak berani bicara dan bertindak walaupun pada dasarnya mereka juga ikut merasakannya. Aksi untuk kepentingan bersama adalah langkah mulia, yang pasti akan ada yang mendukung, walaupun kebanyakan hanya dalam hati. Yang pasti posisi mahasiswa sebagai jangkar dan oposisi yang selalu mengambil garis tegas terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang terhadap rakyat, baik kampus maupun masyarakat luas harus tetap dijaga.
Kita yakin kultur yang baik tak mungkin dibina dengan cara-cara manipulatif dan kotor seperti yang sering kita dengar kalau orang-orang tengah mengecam strategi politik. Mungkin yang harus kita jawab lebih dahulu, apakah perjuangan moral aktivis saat ini benar-benar bisa mempertahankan kemurniannya dari berbagai corak intervensi atau luput dari kepentingan pihak-pihak tertentu? Setelah perjuangannya berhasil, apakah mereka bisa menghindarkan diri dari sikap-sikap easy going, arogansi, sikap membusungkan dada, kekerasan, brutalisme, radikalisme, seperti yang sering kita dengar dari orang-orang yang tidak setuju dengan aksi perjuangan mahasiswa ataupun dari geliat kaum oportunis dan pragmatis yang senantiasa membonceng di balik rintihan anak zamannya?
Dalam gerakan mahasiswa, apalagi jika berpretensi sebagai gerakan moral, bukanlah ukuran kalah atau menang, atau kuat dan lemah, tapi kebenaran yang menjadi perhitungan. Yang menjadi fokus haruslah tetap isu yang mereka kumandangkan, yaitu isu monumental yang harus segera diperjuangkan secara bersama-sama tanpa perpecahan konsep yang berarti. Seandainya pun tidak berhasil, gerakan aktivis mahasiswa akan tetap dikenang sebagai hati nurani zamannya, asalkan mereka tetap pada jalur tanpa kekerasan. Bagi pergerakan mahasiswa tanpa kekerasan, pemisahan gerakan moral dan gerakan politik tidak lagi relevan, karena moral harus juga diperjuangkan secara politik, dan aksi pergerakan politik aktivis mahasiswa harus dijalankan dengan prinsip moral. Semoga gelar aktivis bukan dimaknai sebagai suatu status sosial yang perlu dibanggakan, tapi menjadi sebuah posisi yang harus bisa dipertanggung jawabkan. Perjuangan adalah kenyataan, dan kenyataan yang akan mengantarkan perjuangan kita.

oleh Zulfiadi Ahmedy (Ketua Umum HMI Komisariat Persiapan FISIP Unsyiah Banda Aceh)

opposite for freedom

opposite for freedom

Comments (0)

Sebab Mikrofon Tersumbat Interupsi

Posted on 12 March 2010 by ressay

Sebab Mikrofon Tersumbat Interupsi
: kawan-kawan di Jalan Botolempangan

Kami kabarkan dukamu lewat megafon. Sebab enam mikrofon di Senayan tersumbat interupsi. Sentilan guyon voting opsi-opsi, rupa-rupa lobi. Dukamu telah membatu. Terlempar di jalanan memecah kaca pos polisi. Traffic light. Dan mobil-mobil mereka.

Kami berbaris di jalan memeluk bendera hijau hitam. Membongkar barikade anti huru-hara. Menarikan amarah dengan ban bekas disulut api. Saat kalian berdialog dengan pidato, terlambat. Karena kami telah bergerak di jalanan. Saat kalian ulurkan tangan kepada kami, terlambat. Karena rumah kami koyak merah meradang,

Kami generasi yang tidak rela dikhianati. Menolak bungkam meski moncong senapan disodorkan. Kami generasi yang lahir dalam ketakutan. Menggeliat di bawah penindasan walau air mata diteteskan. Kami generasi yang tidak rela biasa-biasa saja. Menolak larut dalam kesadaran palsu.

Kami kabarkan dukamu lewat megafon. Kini ngadat, terbanting paksa di aspal.

7 Maret 2010

Febrie Hastiyanto, lahir di Way Kanan, 2 Maret 1984. Pernah menjadi Ketum LAPMI HMI Cabang Surakarta (2003-2004). Puisinya yang pertama kali dipublikasikan, Sajak Seorang Pejoang yang Dikhianati Senapannya menjadi finalis Lomba Cipta Puisi-Prosaik Krakatau Award 2009. Menulis di berbagai media.

http://masmpep.wordpress.com

Comments (0)

Tags: , , , , ,

HMI dan Polisi Sepakat Bermitra

Posted on 12 March 2010 by ressay

BANJARSARI—Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Surakarta dan Polisi akan memosisikan sebagai mitra kerja. Keduanya sama-sama mengharapkan dapat bekerja sama demi mewujudkan kondisi Kota Surakarta yang dinamis dan menghindari perpecahan. Hal itu sebagai langkah mengantisipasi merembetnya perpecahan antara HMI dan Polisi sebagaimana terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Presidium Korps Alumni HMI (Kahmi), Hari Mulyadi mengatakan, sejak kelahirannya HMI tak bisa dipisahkan dari elemen bangsa ini yang mendukung kemajuan. Hal itu terbukti dengan keberadaan alumni-alumni HMI yang berada di barisan tokoh nasional serta di jajaran Kepolisian itu sendiri. Beberapa tokoh nasional yang ia sebutkan sebagai alumni HMI adalah Ketua DPR Marzuki Ali, Anas Urbaningrum dan Fuad Bawazier, “Bahkan Kapoltabes Surakarta sendiri adalah alumni HMI,” kata Hari.

Pertemuan itu sendiri dilaksanakan di Kantor Sekretariat HMI cabang Surakarta, Rabu (10/3). Hari menjelaskan kejadian perpecahan antara HMI dan Polisi yang diketahui secara nasional ini bermula dari kejadian kecil di Makassar. (nun)

http://www.harianjoglosemar.com/berita/hmi-dan-polisi-sepakat-bermitra-11314.html

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Dua Prinsip Umum dalam Menganalisa Konflik HMI dan Polisi

Posted on 10 March 2010 by ressay

Tidak ada asap jika tidak ada api. Begitulah pepatah yang pas untuk menggambarkan konflik yang terjadi antara mahasiswa dan oknum polisi di Makassar sana. Selama 1 minggu ini, hampir seluruh televisi dan surat kabar memberitakan konflik yang terjadi disana. Continue Reading

Comments (0)

Tags:

Kapoltabes Dihadiahi Bantal Cinta

Posted on 07 March 2010 by ressay

Solo, CyberNews. Penyerangan sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Makassar oleh oknum polisi, memantik simpati dari anggota HMI di berbagai daerah. Di Solo, aktivis HMI Surakarta mendatangi mapoltabes dan berunjuk rasa di halaman mapoltabes, Jumat (5/3) siang. Mereka mengutuk keras tindakan oknum polisi yang menyerang dan merusak sekretariat HMI Makassar hingga rusak berat.

Yang menarik, Kapoltabes Surakarta Kombes Pol Joko Irwanto yang memantau aksi itu dihadiahi bantal berbentuk hati dengan tulisan “I Love You” di penghujung aksi. “Ini bentuk, bahwa kami cinta dan menyayangi polisi,” kata Eka Nada Shofa Alkhajar, Ketua Umum HMI Surakarta, saat menyerahkan bantal itu kepada Kapoltabes. “Kita seperjuangan. Jangan sampai kita diadu domba dengan warga, dengan polisi,” tuturnya.

Usai menerima tanda cinta, Kapoltabes memeluk aktivis itu. Namun orang nomor satu di jajaran Poltabes itu tidak menyampaikan pernyataan dalam aksi yang mengecam tindakan oknum polisi di Makassar tersebut, meskipun sudah diminta oleh para aktivis.

Dalam aksi simpatik sebagai bentuk solidaritas terhadap aktivis HMI Makassar, massa bergantian menyampaikan orasi. Mereka menyatakan, unjuk rasa di halaman mapoltabes itu bukan untuk menyalahkan Polri secara institusi atas peristiwa di Makassar.

“Kami tidak menyalahkan polisi. Kami menyalahkan oknum yang melakukan tindakan perusakan. Kami tidak ingin peristiwa seperti itu terjadi di Solo. Kami menolak anarkisme. Kami menuntut pengusutan terhadap oknum tidak bertanggung jawab yang sudah merusak sekretariat HMI Makassar,” teriak salah satu aktivis dalam orasinya. Aktivis lain menyebutkan, mahasiswa dan polisi mestinya bersahabat. “Polisi adalah pengayom masyarakat. Mahasiswa mengemban amanah sebagai penyambung lidah rakyat,” tandasnya.

Dalam unjuk rasa itu, HMI Surakarta menyampaikan sejumlah poin pernyataan sikap terkait peristiwa Makassar. Disampaikan Eka Nada Shofa, poin pernyataannya adalah mengutuk segala bentuk aksi represif aparat terhadap gerakan mahasiswa dan mengecam insiden anarkisme dan premanisme yang terjadi di Makassar.

“Kami menuntut kepada Kapolri agar mengusut tuntas insiden Makassar dan menindak tegas oknum yang bertanggung jawab dalam insiden itu. Kami mengajak seluruh pihak untuk menghilangkan segala bentuk arogansi,” tegasnya.

( Irfan Salafudin / CN12 )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/03/05/48578/Kapoltabes-Dihadiahi-Bantal-Cinta-

Comments (0)

Tags:

HMI Tegal Blokir Jalur Pantura

Posted on 07 March 2010 by ressay

Tegal, Cybernews. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tegal memblokir jalur pantura, tepatnya di sebelah Mapolresta Tegal, Jumat (5/3). Akibatnya, arus lalu lintas tersendat sehingga tejhadi antrean cukup panjang baik dari arah timur (Semarang) maupun arah barat (Jakarta).

Tak hanya itu, mahasiswa juga sempat terlibat aksi dorong-dorongan dengan polisi di depan Mapolresta Tegal. Mereka memaksa masuk agar bisa ketemu langsung dengan Kapolresta Tegal AKBP Drs Ahmad Husni. Untuk membubarkan massa, polisi menurunkan puluhan personel dan satuan satwa.

Aksi tersebut dilakukan para anggota HMI Tegal sebagai wujud penolakan dan kecaman atas tindakan penyerangan aparat kepolisian terhadap kantor Sekretariatan HMI Cabang Makasar. Mereka menilai, tindakan aparat kepolisian tersebut merupakan sebuah bukti pembungkaman terhadap suara mahasiswa.

Sebelumnya, massa datang ke Mapolresta Tegal dengan berjalan kaki. Mereka membawa sejumlah poster dan spanduk berisikan tentang penolakan segala bentuk premanisme yang dilakukan aparat kepolisian.

Sejumlah peserta silih berganti menyampaikan orasi dan kemudian berusaha masuk ke Mapolresta. Namun, upaya tersebut dicegah anggota polisi yang telah membuat pagar betis di pintu gerbang. Akibatnya, aksi dorong-dorongan pun tak dapat dihindarkan.  Untuk menghalau massa polisi menurunkan dua ekor anjing. Tindakan, tersebut justru semakin memancing emosi para peserta aksi. Mereka sempat lari tunggang langgan untuk menghindari gigitan anjing.

Waka Polresta Tegal Kompol Basuki SPd sempat turun langsung untuk menenangkan massa dan sempat meminta sejumlah perwakilan mahasiswa masuk untuk menyampaikan aspirasinya.

Namun, permintaan tersebut tak diindahkan dan para mahasiswa kemudian bergeser ke jalur pantura. Mereka memblokir jalan sehingga arus lalu lintas tersendat. Tak berselang lama puluhan personel polisi kemudian membubarkan dan meminta untuk
kembali ke Mapolres.

Ketua HMI Tegal, Didi Kusairi mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas atas tindakan penyerangan oleh aparat kepolisian terhadap sekretariat HMI Cabang Makasar.

Oleh karena itu, sebagai wujud dukungan pihaknya menolak segala bentuk premanisme yang dilakukan aparat kepolisian dan menuntut Polri untuk bisa menjadi mitra masyarakat, menunjukkan kedewasaan dalam menangani berbagai permasalahan serta
meminta maaf kepada anggota HMI Cabang Makasar.

“Polri harus mengusut tuntas pelaku perusakan dan penyerangan terhadap kesekretariatan HMI Cabang Makasar,” tegasnya. Dia juga mengaku kecewa dengan tindakan yang dilakukan anggota Polresta Tegal yang menggunakan anjing untuk mengusir mahasiswa. “Seharusnya aparat kepolisian bisa menjadi mitra masyarakat yang dapat mengayomi segala bentuk asprirasi dari masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, HMI Tegal juga menyerahkan mawar hitam kepada Kapolres sebagai wujud keprihatinan terhadap aksi premanisme dan penyerangan kantor Kesekretariatan HMI Cabang Makasar.

Kapolresta Tegal AKBP Drs Ahmad Husni mengatakan, pihaknya tidak pernah menghalang-halangi dalam upaya penyampaian aspirasi. Asalkan, hal itu dilakukan secara tertib dan teratur. Sebab, polisi merupakan mitra masyarakat. Menurut dia, selaku calon-calon pemimpin bangsa para mahasiswa seharusnya bisa menjaga situasi tetap kondusif. Ia selaku pimpinan meminta maaf kalau ada kesalahan yang telah dilakukan.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Kapolresta Tegal, massa kemudian membubarkan. Untuk menjaga ketertiban para peserta aksi kemudian diantar dengan menggunakan truk Dalmas.

( Wawan Hudiyanto / CN12 )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/03/05/48582/HMI-Tegal-Blokir-Jalur-Pantura

Comments (0)

Gabung Dengan Komunitas Blogger HMI di Facebook
PBHMI.Org on Facebook
Advertise Here

Bagde

Muslim Blogs - BlogCatalog Blog Directory Join My Community at MyBloglog! 6xd4eun9mf Blog Directory Add to Technorati Favorites