Archive | HMI News

pergerakan mahasiswa, mati surikah?

Posted on 13 April 2010 by zulfiadi ahmedy

Mahasiswa adalah kaum terpelajar muda yang berada pada level tertinggi suatu proses pendidikan, dimana pada diri merekalah terdapat sebuah tumpuan harapan rakyat yang sangat besar. Peranan mahasiswa sesungguhnya sebagai individu-individu yang berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang atau golongan yang berusaha mengubah tradisi, dengan demikian akan terjadi perubahan tradisi yang lebih baik dalam dinamika kehidupan masyarakat. Sejatinya Mahasiswa bergerak melalui mekanisme pendidikan aktif dan independensinya tidak dicemari oleh berbagai kepentingan sosio cultural politice yang bertentangan dengan kebutuhan rakyat. Maka muncullah pelaku pergerakan pembelaan rakyat yang sering diistilahkan dengan aktivis kampus.
Aktivis kampus adalah mahasiswa yang mau berpikir, berjuang, dan bersedia menjadi pelaku perubahan yang mengarah pada perbaikan nasib bangsa dengan segenap kemauan dan kemampuan. Mereka bergerak di jalur politik dan aktivis imajiner atau apapun itu adalah bagian dari dunia kampus. Sebagai miniatur negara, kampus memang memiliki keragaman, baik dari aktivitas, pola pikir sampai dengan identitas. Dan dari perbedaan atau pluralitas itu kampus menjadi tempat lahirnya banyak pelaku perubahan yang kemudian berbaur dengan masyarakat.
Gerakan mahasiswa tampaknya memang sudah menjadi tuntutan zaman. Ia timbul tenggelam dalam pergolakan bangsa-bangsa yang ingin menata kehidupan demokrasinya secara lebih beradab antara lain dengan mengikut sertakan suara-suara kaum mudanya. Fenomena-fenomena gejolak mahasiswa di tanah air yang eskalasinya sangat luas ini, mengingatkan kita kembali pada sinyalemen seorang pengamat gerakan mahasiswa, Philip G. Albach, bahwa aktivitas kemahasiswaan di dunia ketiga tetap merupakan suatu faktor penting.
Pentingnya peran mahasiswa ini layak kita garis-bawahi, tidak hanya terletak pada posisinya yang cenderung “elitis” sehingga membuat mereka merasa memiliki kedudukan istimewa dalam masyarakatnya. Tapi, juga berkaitan dengan struktur dan lembaga politik di negara-negara berkembang yang dinilai belum mapan, sehingga meniscayakan dampak langsung aktivitas mahasiswa atas politik. Dan juga yang paling utama adalah keterlibatan moral dalam proses politik bangsanya, untuk menemukan sebuah kebenaran yang diidam-idamkan rakyat, yang telah berusaha memulihkan kualitas kehidupan bangsanya. Bukan hanya kualitas hidup yang dicerminkan dalam hal-hal yang bersifat material, tapi yang terpenting juga kualitas demokrasi atau martabat manusia itu sendiri.
Akan tetapi, banyak mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka adalah kaum intelektual murni yang diharapkan masyarakat awam, karena dipandang bebas dari kepentingan politis elit tertentu, mereka tidak mengerti akan substansi dari Tri Darma Perguruan Tinngi itu sendiri. Sehingga sebagian diantaranya salah kaprah akan ke-eksistensian mereka sendiri sebagai agent of change, beranggapan bahwa kuliah hanya sebagai salah satu syarat utama untuk mencari kerja, juga mungkin hanya sebatas ikut trend global bahwa kuliah adalah suatu lifestyle anak muda masa kini dengan berbagai corak tingkah laku yang sebenarnya dapat menghancurkan identitas kemahasiswaan di mata masyarakat.
Mahasiswa saat ini terjebak dengan pemikiran bahwa tugas intelektualitas mereka telah usai pasca reformasi 1998, dan hanya dapat membanggakan reformasi yang telah diperjuangkan oleh para pendahulunya. Mereka tidak bisa merawat dan minimal tidak mampu untuk mengontrol dinamika kehidupan ideal yang diharapkan dari reformasi. Ditambah dengan pola pendidikan praktis dan statis dimana mahasiswa hanya kuliah dengan cara mendengar dan mengikuti aturan baku yang diterapkan kampus, sehingga menghambat pola pikir dan kreatifitas mahasiswa, sejatinya mereka harus dinamis dan tidak dapat dikurung oleh aturan-aturan yang dapat membungkam suara murni dari pergerakan mahasiswa.
Mahasiswa, kampus dan politik merupakan tiga entitas yang dapat saling berikatan. Di kampus, mahasiswa tidak hanya mengisi aktivitas dengan belajar. Mahasiswa dengan berbagai peran sosialnya dapat melakukan aktivitas-aktivitas sosial-politik. Aktivitas ini sekurang-kurangnya dapat dilihat pada fenomena pemerintahan mahasiswa sebagai wujud dari politik kampus. Sebagian kecil mahasiswa memilih menjadi aktivis kampus untuk bisa mewujudkan peran tersebut.
Peran tersebut menjadi tantangan sulit bagi mereka yang belum berpengalaman sama sekali, sehingga seringkali terlihat rapuh dan berkembanglah stigma skeptis dari pemikiran mereka. Sedangkan yang sudah berpengalaman tidak mampu untuk merangkul semua elemen kampus karena beranggapan bahwa hanya dialah yang mampu untuk memimpin suatu pergerakan mahasiswa yang sesungguhnya, sehingga tidak mendapatkan kepercayaaan dari yang lain, hanya bergaul dengan orang-orang tertentu yang dianggap sepadan dengannya (elitis). Tidak pernah mau mendengarkan statement dari mahasiswa yang berada di luar komunitas mereka. Ditambah lagi dengan jumlah mereka yang tidak sampai 11% dari total mahasiswa per kampusnya, dukungan yang tidak didapatkan dari mahasiswa lainnya, skeptisisme tenaga pendidik kepada mereka, juga menjadi hal yang dapat membuat mereka kehilangan directly confidental. Realita bahwa ada hal yang dilupakan oleh aktivis kampus hari ini yakni kondisi teman-temannya yang lain, yang katakanlah non aktivis, dan anggapan bahwa non aktivis adalah apatis. Juga kurangnya peran dari kawan-kawan yang menamakan dirinya sebagai aktivis dengan embel-embel fungsinya untuk melakukan proses penyadaran terhadap mahasiswa lain untuk berjuang membela rakyat secara bersama-sama. Hal tersebutlah yang menjadikan mahasiswa terpecah belah, kemudian terjadi evolusi penyekatan dan pengotakan yang berakibat pada tidak terjadinya harmonisasi di kampus. Pengkotakan komunitas ini akhirnya menjadi semakin kuat. Masing-masing komunitas saling mengklaim bahwa ideologi merekalah yang tepat untuk diperjuangkan dan diterapkan dalam perkembangan masyarakat banyak. Sehingga mereka terjebak dalam sebuah kerangka pemikiran yang menempatkan manusia sebagai objek, bukan lagi sebagai subjek.
Statement inilah yang tanpa disadari mengikis kemurnian perjuangan intelektual mereka. Seringkali pada realitanya pergerakan mereka hanya untuk menunjukan eksistensi komunitas mereka saja di muka khalayak ramai dengan mengatasnamakan rakyat. Pergerakan ini seringkali tidak tahu apa yang seharusnya diperjuangkan, mereka tidak mampu menganalisis problema kehidupan sosial kultural politik yang terjadi dalam masyarakat, tanpa tedeng aling-aling langsung mengadakan aksi atas nama pembelaan terhadap rakyat, padahal dengan aksi merekalah masyarakat kehilangan something of trusting kepada mereka. Masyarakat dibuat bingung dengan aksi pembelaan mereka, pembelaan yang seharusnya ditujukan kepada masyarakat, malah tidak sesuai pada tempatnya. Jauh melenceng dari kesesuaian kebijakan dengan kebutuhan rakyat.
Yang lebih ironis, ada pergerakan atas permintaan elit tertentu untuk memprotes suatu kebijakan yang merugikan kaum elit tersebut, menggunakan mahasiswa sebagai alat bantu penentang kebijakan yang seolah-olah nantinya dipandang masyarakat sebagai kebutuhan rakyat karena diperjuangkan oleh mahasiswa. Mahasiswa tersebut nantinya mendapatkan imbalan tertentu atas aksi yang telah dilakukan. Pergerakan mahasiswa seperti ini tidak seharusnya diacungkan jempol, mereka berteriak-teriak lantang atas nama pembelaan rakyat, akan tetapi dibalik itu terdapat kepentingan elit tertentu, sebenarnya hal ini tidaklah membentuk mental pejuang intelektual pembela rakyat yang sejati, tapi membentuk mental-mental penjilat yang merusak moral masyarakat sendiri.
Perpecahan mahasiswa juga sangat terasa ketika saat pemilihan ketua sebuah lembaga kemahasiswaan, apakah pada level universitas, fakultas dan bahkan pada level jurusan/program study sekalipun. Dapat dilihat dimana kandidat A menjadi pesaing ketat kandidat B dan seterusnya, berbagai ideologi dan strategi komunikasi aktif dikembangkan dan diterapkan dengan berbagai cara, termasuk permainan curang sekalipun. Pasca pemilihan, kandidat terpilih hanya menempatkan orang-orang yang telah membantunya pada saat kampanye, dan hanya yang se-ideologi dengannya yang dimasukkan dalam struktur kepengurusan kabinetnya. Yang berada di luar garis komunitas ideologinya tidak boleh mendekati kepengurusan yang dipaksakan ini, sehingga menempatkan orang-orang non qualified untuk mengatur sirkulasi perjuangan mahasiswa yang seutuhnya. Hal inilah kemudian yang membuat lembaga kemahasiswaan tidak mampu mengakomodasi aspirasi mahasiswa dan masyarakat, sehingga kehilangan jati diri dan kepercayaan dari mahasiswa lainnya.
Sudah saatnya aktivis merubah pola pikir, merubah paradigma statis bahwa aktivis tidak lagi mampu menjadi pembela rakyat. Aktivis sekarang harus menjadi pilar intelektual terhadap problema rakyat. Serta bersih dari kepentingan politis elit atas. Sebelum ke dunia luas, sejatinya harus menyelesaikan problem yang berada dalam lingkungan kampus terlebih dahulu, membebaskan mahasiswa dari jeratan aturan yang merugikan eksistensi mahasiswa. Ini memang sangat ironis, tapi tidak akan menjadi beban ketika yang diperjuangkan adalah kepentingan bersama, dalam artian kaum aktivis tersebut ikut memperjuangkan kepentingan mahasiwa yang terkesan apatis secara konkrit, yang notabene tidak berani bicara dan bertindak walaupun pada dasarnya mereka juga ikut merasakannya. Aksi untuk kepentingan bersama adalah langkah mulia, yang pasti akan ada yang mendukung, walaupun kebanyakan hanya dalam hati. Yang pasti posisi mahasiswa sebagai jangkar dan oposisi yang selalu mengambil garis tegas terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang terhadap rakyat, baik kampus maupun masyarakat luas harus tetap dijaga.
Kita yakin kultur yang baik tak mungkin dibina dengan cara-cara manipulatif dan kotor seperti yang sering kita dengar kalau orang-orang tengah mengecam strategi politik. Mungkin yang harus kita jawab lebih dahulu, apakah perjuangan moral aktivis saat ini benar-benar bisa mempertahankan kemurniannya dari berbagai corak intervensi atau luput dari kepentingan pihak-pihak tertentu? Setelah perjuangannya berhasil, apakah mereka bisa menghindarkan diri dari sikap-sikap easy going, arogansi, sikap membusungkan dada, kekerasan, brutalisme, radikalisme, seperti yang sering kita dengar dari orang-orang yang tidak setuju dengan aksi perjuangan mahasiswa ataupun dari geliat kaum oportunis dan pragmatis yang senantiasa membonceng di balik rintihan anak zamannya?
Dalam gerakan mahasiswa, apalagi jika berpretensi sebagai gerakan moral, bukanlah ukuran kalah atau menang, atau kuat dan lemah, tapi kebenaran yang menjadi perhitungan. Yang menjadi fokus haruslah tetap isu yang mereka kumandangkan, yaitu isu monumental yang harus segera diperjuangkan secara bersama-sama tanpa perpecahan konsep yang berarti. Seandainya pun tidak berhasil, gerakan aktivis mahasiswa akan tetap dikenang sebagai hati nurani zamannya, asalkan mereka tetap pada jalur tanpa kekerasan. Bagi pergerakan mahasiswa tanpa kekerasan, pemisahan gerakan moral dan gerakan politik tidak lagi relevan, karena moral harus juga diperjuangkan secara politik, dan aksi pergerakan politik aktivis mahasiswa harus dijalankan dengan prinsip moral. Semoga gelar aktivis bukan dimaknai sebagai suatu status sosial yang perlu dibanggakan, tapi menjadi sebuah posisi yang harus bisa dipertanggung jawabkan. Perjuangan adalah kenyataan, dan kenyataan yang akan mengantarkan perjuangan kita.

oleh Zulfiadi Ahmedy (Ketua Umum HMI Komisariat Persiapan FISIP Unsyiah Banda Aceh)

opposite for freedom

opposite for freedom

Comments (0)

Sebab Mikrofon Tersumbat Interupsi

Posted on 12 March 2010 by ressay

Sebab Mikrofon Tersumbat Interupsi
: kawan-kawan di Jalan Botolempangan

Kami kabarkan dukamu lewat megafon. Sebab enam mikrofon di Senayan tersumbat interupsi. Sentilan guyon voting opsi-opsi, rupa-rupa lobi. Dukamu telah membatu. Terlempar di jalanan memecah kaca pos polisi. Traffic light. Dan mobil-mobil mereka.

Kami berbaris di jalan memeluk bendera hijau hitam. Membongkar barikade anti huru-hara. Menarikan amarah dengan ban bekas disulut api. Saat kalian berdialog dengan pidato, terlambat. Karena kami telah bergerak di jalanan. Saat kalian ulurkan tangan kepada kami, terlambat. Karena rumah kami koyak merah meradang,

Kami generasi yang tidak rela dikhianati. Menolak bungkam meski moncong senapan disodorkan. Kami generasi yang lahir dalam ketakutan. Menggeliat di bawah penindasan walau air mata diteteskan. Kami generasi yang tidak rela biasa-biasa saja. Menolak larut dalam kesadaran palsu.

Kami kabarkan dukamu lewat megafon. Kini ngadat, terbanting paksa di aspal.

7 Maret 2010

Febrie Hastiyanto, lahir di Way Kanan, 2 Maret 1984. Pernah menjadi Ketum LAPMI HMI Cabang Surakarta (2003-2004). Puisinya yang pertama kali dipublikasikan, Sajak Seorang Pejoang yang Dikhianati Senapannya menjadi finalis Lomba Cipta Puisi-Prosaik Krakatau Award 2009. Menulis di berbagai media.

http://masmpep.wordpress.com

Comments (0)

Tags: , , , , ,

HMI dan Polisi Sepakat Bermitra

Posted on 12 March 2010 by ressay

BANJARSARI—Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Surakarta dan Polisi akan memosisikan sebagai mitra kerja. Keduanya sama-sama mengharapkan dapat bekerja sama demi mewujudkan kondisi Kota Surakarta yang dinamis dan menghindari perpecahan. Hal itu sebagai langkah mengantisipasi merembetnya perpecahan antara HMI dan Polisi sebagaimana terjadi di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Presidium Korps Alumni HMI (Kahmi), Hari Mulyadi mengatakan, sejak kelahirannya HMI tak bisa dipisahkan dari elemen bangsa ini yang mendukung kemajuan. Hal itu terbukti dengan keberadaan alumni-alumni HMI yang berada di barisan tokoh nasional serta di jajaran Kepolisian itu sendiri. Beberapa tokoh nasional yang ia sebutkan sebagai alumni HMI adalah Ketua DPR Marzuki Ali, Anas Urbaningrum dan Fuad Bawazier, “Bahkan Kapoltabes Surakarta sendiri adalah alumni HMI,” kata Hari.

Pertemuan itu sendiri dilaksanakan di Kantor Sekretariat HMI cabang Surakarta, Rabu (10/3). Hari menjelaskan kejadian perpecahan antara HMI dan Polisi yang diketahui secara nasional ini bermula dari kejadian kecil di Makassar. (nun)

http://www.harianjoglosemar.com/berita/hmi-dan-polisi-sepakat-bermitra-11314.html

Comments (0)

Tags: , , , , , ,

Dua Prinsip Umum dalam Menganalisa Konflik HMI dan Polisi

Posted on 10 March 2010 by ressay

Tidak ada asap jika tidak ada api. Begitulah pepatah yang pas untuk menggambarkan konflik yang terjadi antara mahasiswa dan oknum polisi di Makassar sana. Selama 1 minggu ini, hampir seluruh televisi dan surat kabar memberitakan konflik yang terjadi disana. Continue Reading

Comments (0)

Tags:

Kapoltabes Dihadiahi Bantal Cinta

Posted on 07 March 2010 by ressay

Solo, CyberNews. Penyerangan sekretariat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Makassar oleh oknum polisi, memantik simpati dari anggota HMI di berbagai daerah. Di Solo, aktivis HMI Surakarta mendatangi mapoltabes dan berunjuk rasa di halaman mapoltabes, Jumat (5/3) siang. Mereka mengutuk keras tindakan oknum polisi yang menyerang dan merusak sekretariat HMI Makassar hingga rusak berat.

Yang menarik, Kapoltabes Surakarta Kombes Pol Joko Irwanto yang memantau aksi itu dihadiahi bantal berbentuk hati dengan tulisan “I Love You” di penghujung aksi. “Ini bentuk, bahwa kami cinta dan menyayangi polisi,” kata Eka Nada Shofa Alkhajar, Ketua Umum HMI Surakarta, saat menyerahkan bantal itu kepada Kapoltabes. “Kita seperjuangan. Jangan sampai kita diadu domba dengan warga, dengan polisi,” tuturnya.

Usai menerima tanda cinta, Kapoltabes memeluk aktivis itu. Namun orang nomor satu di jajaran Poltabes itu tidak menyampaikan pernyataan dalam aksi yang mengecam tindakan oknum polisi di Makassar tersebut, meskipun sudah diminta oleh para aktivis.

Dalam aksi simpatik sebagai bentuk solidaritas terhadap aktivis HMI Makassar, massa bergantian menyampaikan orasi. Mereka menyatakan, unjuk rasa di halaman mapoltabes itu bukan untuk menyalahkan Polri secara institusi atas peristiwa di Makassar.

“Kami tidak menyalahkan polisi. Kami menyalahkan oknum yang melakukan tindakan perusakan. Kami tidak ingin peristiwa seperti itu terjadi di Solo. Kami menolak anarkisme. Kami menuntut pengusutan terhadap oknum tidak bertanggung jawab yang sudah merusak sekretariat HMI Makassar,” teriak salah satu aktivis dalam orasinya. Aktivis lain menyebutkan, mahasiswa dan polisi mestinya bersahabat. “Polisi adalah pengayom masyarakat. Mahasiswa mengemban amanah sebagai penyambung lidah rakyat,” tandasnya.

Dalam unjuk rasa itu, HMI Surakarta menyampaikan sejumlah poin pernyataan sikap terkait peristiwa Makassar. Disampaikan Eka Nada Shofa, poin pernyataannya adalah mengutuk segala bentuk aksi represif aparat terhadap gerakan mahasiswa dan mengecam insiden anarkisme dan premanisme yang terjadi di Makassar.

“Kami menuntut kepada Kapolri agar mengusut tuntas insiden Makassar dan menindak tegas oknum yang bertanggung jawab dalam insiden itu. Kami mengajak seluruh pihak untuk menghilangkan segala bentuk arogansi,” tegasnya.

( Irfan Salafudin / CN12 )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/03/05/48578/Kapoltabes-Dihadiahi-Bantal-Cinta-

Comments (0)

Tags:

HMI Tegal Blokir Jalur Pantura

Posted on 07 March 2010 by ressay

Tegal, Cybernews. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tegal memblokir jalur pantura, tepatnya di sebelah Mapolresta Tegal, Jumat (5/3). Akibatnya, arus lalu lintas tersendat sehingga tejhadi antrean cukup panjang baik dari arah timur (Semarang) maupun arah barat (Jakarta).

Tak hanya itu, mahasiswa juga sempat terlibat aksi dorong-dorongan dengan polisi di depan Mapolresta Tegal. Mereka memaksa masuk agar bisa ketemu langsung dengan Kapolresta Tegal AKBP Drs Ahmad Husni. Untuk membubarkan massa, polisi menurunkan puluhan personel dan satuan satwa.

Aksi tersebut dilakukan para anggota HMI Tegal sebagai wujud penolakan dan kecaman atas tindakan penyerangan aparat kepolisian terhadap kantor Sekretariatan HMI Cabang Makasar. Mereka menilai, tindakan aparat kepolisian tersebut merupakan sebuah bukti pembungkaman terhadap suara mahasiswa.

Sebelumnya, massa datang ke Mapolresta Tegal dengan berjalan kaki. Mereka membawa sejumlah poster dan spanduk berisikan tentang penolakan segala bentuk premanisme yang dilakukan aparat kepolisian.

Sejumlah peserta silih berganti menyampaikan orasi dan kemudian berusaha masuk ke Mapolresta. Namun, upaya tersebut dicegah anggota polisi yang telah membuat pagar betis di pintu gerbang. Akibatnya, aksi dorong-dorongan pun tak dapat dihindarkan.  Untuk menghalau massa polisi menurunkan dua ekor anjing. Tindakan, tersebut justru semakin memancing emosi para peserta aksi. Mereka sempat lari tunggang langgan untuk menghindari gigitan anjing.

Waka Polresta Tegal Kompol Basuki SPd sempat turun langsung untuk menenangkan massa dan sempat meminta sejumlah perwakilan mahasiswa masuk untuk menyampaikan aspirasinya.

Namun, permintaan tersebut tak diindahkan dan para mahasiswa kemudian bergeser ke jalur pantura. Mereka memblokir jalan sehingga arus lalu lintas tersendat. Tak berselang lama puluhan personel polisi kemudian membubarkan dan meminta untuk
kembali ke Mapolres.

Ketua HMI Tegal, Didi Kusairi mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas atas tindakan penyerangan oleh aparat kepolisian terhadap sekretariat HMI Cabang Makasar.

Oleh karena itu, sebagai wujud dukungan pihaknya menolak segala bentuk premanisme yang dilakukan aparat kepolisian dan menuntut Polri untuk bisa menjadi mitra masyarakat, menunjukkan kedewasaan dalam menangani berbagai permasalahan serta
meminta maaf kepada anggota HMI Cabang Makasar.

“Polri harus mengusut tuntas pelaku perusakan dan penyerangan terhadap kesekretariatan HMI Cabang Makasar,” tegasnya. Dia juga mengaku kecewa dengan tindakan yang dilakukan anggota Polresta Tegal yang menggunakan anjing untuk mengusir mahasiswa. “Seharusnya aparat kepolisian bisa menjadi mitra masyarakat yang dapat mengayomi segala bentuk asprirasi dari masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, HMI Tegal juga menyerahkan mawar hitam kepada Kapolres sebagai wujud keprihatinan terhadap aksi premanisme dan penyerangan kantor Kesekretariatan HMI Cabang Makasar.

Kapolresta Tegal AKBP Drs Ahmad Husni mengatakan, pihaknya tidak pernah menghalang-halangi dalam upaya penyampaian aspirasi. Asalkan, hal itu dilakukan secara tertib dan teratur. Sebab, polisi merupakan mitra masyarakat. Menurut dia, selaku calon-calon pemimpin bangsa para mahasiswa seharusnya bisa menjaga situasi tetap kondusif. Ia selaku pimpinan meminta maaf kalau ada kesalahan yang telah dilakukan.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Kapolresta Tegal, massa kemudian membubarkan. Untuk menjaga ketertiban para peserta aksi kemudian diantar dengan menggunakan truk Dalmas.

( Wawan Hudiyanto / CN12 )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/03/05/48582/HMI-Tegal-Blokir-Jalur-Pantura

Comments (0)

Demo Mahasiswa HMI dan Polisi Adu Jotos Lagi

Posted on 07 March 2010 by ressay

JOGLOSEMAR – Konflik antara aktivis organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan aparat kepolisian meluas. Bentrokan antara aktivis HMI dan polisi, Jumat (5/3) malam terjadi di Jakarta. Sehari sebelumnya, Kamis (4/3) massa HMI dan polisi juga terlibat bentrok di Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara di Solo, aktivis HMI mendatangi Poltabes Surakarta untuk menyatakan protes penyerangan sekretariat HMI di Makassar oleh oknum polisi. Aksi HMI mengecam kekerasan di Makassar juga digelar di gerbang kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat siang.

Bentrokan HMI dan polisi di Jakarta pecah Jumat malam sekitar pukul 20.30 WIB. Singgungan fisik antara HMI dan polisi terjadi sebagai lanjutan dari aksi sekitar 50 aktivis HMI yang menggelar aksi di depan KFC, Jl Cikini Raya.

Beberapa di antara mereka ada yang sengaja memblokade jalan Cikini. Sebelum bentrokan terjadi, dari arah massa HMI terlontar kecaman yang ditujukan kepada polisi. Massa HMI lalu mendorong barisan polisi agar mundur dan seketika itu kedua kelompok bertukar pukulan alias adu jotos. Tidak lama kemudian massa HMI menghentikan aksi dorong itu. ”Kami akan mundur kalau polisi juga mundur!” seru salah seorang di antara mereka.

Menanggapi itu barisan polisi pun mundur. Tetapi barikade tameng tidak dibongkar. Beberapa saat kemudian terlihat personel polisi tambahan tiba di lokasi. Berdasarkan pantauan di lokasi kejadian, aparat kepolisian mundur sekitar 50 meter dari barikade tameng.

Mantan Ketua HMI Akbar Tandjung sempat turun tangan menenangkan massa mahasiswa. Bekas Ketua DPR itu meminta agar massa tidak lagi melakukan aksinya di jalanan. ”Saya bilang kepada mereka (HMI), aksinya di depan kantornya saja, jangan di luar arena, kalau di luar mudah terprovokasi,” ujar Akbar.

Dari Makassar, mahasiswa kembali terlibat bentrokan dengan polisi yang dibantu warga. Sebuah mobil patroli polisi yang diparkir di dekat kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) dirusak massa mahasiswa.
Mengenai tindakan ini, Kapolda Sulsel Irjen Adang Rohyana berjanji akan menindak mahasiswa yang melakukan perusakan mobil polisi.

Dari Solo, sekitar 50 aktivis HMI mendatangi Poltabes Surakarta. Setelah berada di depan lobi Poltabes Surakarta, dua orang perwakilan dari HMI ditemui oleh anggota kepolisian di ruang pertemuan. Sementara sebagian yang lain melakukan orasi di depan lobi, mereka secara bergantian. Orasi yang disuarakan oleh anggota HMI tersebut pada intinya mengutuk keras aksi anarkis oknum polisi yang telah melakukan perusakan kantor sekretariat HMI Makassar.

Menurut Ketua Umum HMI Cabang Surakarta, Eka Nada Shofa dalam rilisnya mengatakan kasus Makassar telah meninggalkan catatan kelam bagi aparat keamanan. ”Kami menuntut kepada Kapolri agar mengusut tuntas insiden Makassar dan menindak tegas oknum-oknum yang bertanggung jawab.”

Unjuk rasa mengutuk kasus Makassar juga digelar di UMS. BEM Fakultas Hukum UMS bersama HMI cabang menggelar demo dengan melakukan aksi teatrikal jalan mundur. ”Aksi ini menunjukkan mundurnya pemerintahan Indonesia sejak dipimpin oleh SBY,” ungkap Koordinator Lapangan Ardiansyah Asmara Dina. (dtc/apl/ina)

http://harianjoglosemar.com/berita/demo-mahasiswa-hmi-dan-polisi-adu-jotos-lagi-10920.html

Comments (0)

Tags: , , , , ,

Kader HMI Harus Berperan Wujudkan Indonesia Bersih

Posted on 06 February 2010 by Khoiril

Mataram – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus turut berperan dalam mewujudkan Indonesia ‘bersih’. Terlebih distribusi Kader (Alumni) HMI saat ini hampir merata di setiap bidang dan level.

Hal itu ditegaskan Dr. H. Ir. Rosiady Sayuti MSi, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam, Jum’at (5/2) malam, Aula Handayani Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga (Dikpora) Provinsi NTB.

Karena itu pula, diakui Rosiady Sayuti, tidak sedikit alumni HMI yang sedang atau pernah menduduki posisi penting di negeri ini yang terlibat atau diduga terlibat dalam kasus korupsi. “Tapi saya yakin, jauh lebih banyak kader HMI yang berperan positif bagi masyarakat dan bangsa ini,” kata Rosiady Sayuti yang juga Kepala Bappeda Provinsi NTB itu.

Dalam rangkaian Dies Natalis/Milad HMI ke-63 kali ini, HMI Cabang Mataram menggelar beragam kegiatan. Diantara, lomba menulis opini, cerdas cermat, dan kegiatan olah raga. Peserta dari kegiatan ini adalah kader dan alumni HMI Cabang Mataram.

Ketua Harian Presidium KAHMI Nusa Tenggara Barat, H. Lalu Arifin Arya Bhakti menerima langsung trophy juara bertahan sepak bola antar kader, serta alumni dan kader.

Malam puncak peringatan Dies Natalis HMI ke-63 di lingkup HMI Cabang Mataram juga diisi dengan orasi ilmiah yang disampaikan, Direktur Program S3 Fakultas Hukum Universitas Mataram, Dr. Gatot Dwi Hendro. Dalam uraiannya, Alumni HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Mataram ini menekankan, pentingnya kader HMI untuk membersihkan hati dan pikirannya sebelum berperan di tengah-tengah masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan kali ini salah seorang tokoh yang merintis pendirian HMI Cabang Mataram, Drs. H. Lalu Mudjitahid (mantan Walikota Mataram dan mantan Bupati Lombok Barat), BEM Perguruan Tinggi se-Kota Mataram, kader dan alumni se Kota Mataram.

Kegiatan ini semakin semarak dengan adanya hiburan paduan suara nasyid yang dilantunkan oleh Kelompok Seni dan Budaya Mahasiswa Islam Cabang Mataram bimbingan Sanggar Semua. ***

Sumber: http://lombokpress.com/

Comments (2)

Tags: ,

Mengharapkan Datangnya Surat Himbauan PB HMI untuk Aksi Serempak di-Seluruh Indonesia – Menyikapi Kasus Cicak-Buaya

Posted on 09 November 2009 by Satria Nugraha

Kasus KPK-Kepolisian telah mendapat perhatian yang sangat besar dari masyarakat. Berbagai macam spekulasi bermunculan. Masyarakat mengambil sikap berbeda dengan Presiden (suatu hal yang sangat langka), opini telah mengkristal dan masyarakat memilih mengekspresikan sikap mereka dengan berbagai cara, namun dalam konteks yang sama yaitu penegakan hukum diatas nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

PB HMI telah memutuskan menjadi opisisi bagi pemerintah hari ini. Cabang dan Komisariat HMI di seluruh Indonesia satu-persatu turun kejalan bersama-sama dengan masyarakat untuk menyikapi kasus ini. Masyarakat mulai meragukan komitmen presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal itu wajar terjadi melihat SBY sejak awal memiliki kecenderungan untuk berpihak kepada kepolisian.

Continue Reading

Comments (1)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Dualisme HMI; Antara Yasir, Sumayyah, dan Ammar bin Yasir

Posted on 02 November 2009 by ressay

Salah satu diantara banyak pertanyaan yang pasti saya dengar saat berdiskusi tentang HMI dengan mahasiswa baru ialah pertanyaan soal perpecahan HMI menjadi HMI (DIPO) dan HMI (MPO). Selalu saja pertanyaan ini mengisi ruang-ruang dialog antara mahasiswa baru dengan pengurus HMI. Dan biasanya pertanyaan tersebut disusul dengan pertanyaan lanjutan seputar siapa yang benar dan siapa yang salah (tersesat). Continue Reading

Comments (0)

Log In

Gabung Dengan Komunitas Blogger HMI di Facebook
PBHMI.Org on Facebook
Advertise Here

Bagde

Muslim Blogs - BlogCatalog Blog Directory Join My Community at MyBloglog! 6xd4eun9mf Blog Directory Add to Technorati Favorites